Peristiwa

Warga Kecam Ledakan Petasan di Kantor Pemkot Bima

ilustrasi Tempo.co

Kota Bima, Bimakini.- Ledakan petasan saat acara Peragaan Busana di halaman Kantor Pemkot Bima, Sabtu (9/9/2017) malam mengagetkan warga. Bahkan radius ledakan terdengar lebih dari dua kilometer.

Kejadian itu pun mendapat kecaman dari sejumlah pihak. Ada yang menduga ledakan bom atau penggerebekan oleh aparat. Namun, rupanya kembang api diacara Dekranasda Kota Bima. Warga tidak  hanya terbangun dari tidurnya, namun juga berhamburan keluar rumah. Anak-anak bahkan menangis hingga trauma akibat ledakan dari kembang api yang dinyalakan di halaman Kantor Pemkot Bima.

Masyarakat Korban Ledakan (MKL) Kota Bima, menyampaikan kecaman keras terhadap Pemerintah Kota (Pemkot) Bima dan DPRD Kota Bima atas tindakan Mengganggu Ketertiban Umum terkait kejadian tersebut.

Ir Khairudin M Ali, MAP dan Mukhtar, SH, dalam pernyataan sikapnya sebagai MKL menjelaskan kronologi kejadian tersebut.

Saat mayoritas masyarakat Kota Bima sedang terlelap tidur sekitar pukul 23.50 Wita hingga pukul 00.00 Wita. Tidak hanya keget, warga juga ketakutan karena mendengar ada suara ledakan yang sangat dahsyat secara runtun dan terus menerus.
“Akibat suara ledakan tersebut, warga Kota Bima berhamburan keluar rumah dengan cemas dan ketakutan. Mereka berlarian ke gang-gang dan di halaman rumah mereka, karena takut akan adanya bencana. Karena warga Kota Bima, masih trauma dengan bencana banjir bandang beberapa waktu lalu,” ungkapnya dalam pernyataan sikap.

Lanjutnya, warga juga mengira ada peristiwa tembak menembak di Kota Bima dan membayangkan hal buruk telah terjadi. Karena suara ledakan yang ditimbulkan seperti di medan perang.
“Anak-anak kecil menangis histeris, orang dewasa berlarian menyelamatkan diri dan menimbulkan guncangan yang luar biasa sehingga menimbulkan trauma yang mendalam pada warga Kota Bima,” ungkapnya.

Ledakan ini menurut pengakuan warga dirasakan sangat dahsyat mulai dari Jatiwangi di bagian Utara hingga Rontu dan Panggi bagian Selatan Kota Bima. Di Timur Kota Bima, masyarakat Rabangodu juga panik dan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

“Dari informasi yang kami peroleh, sebagian besar wilayah Kota Bima terguncang oleh suara ledakan tersebut dan menimbulkan trauma yang mendalam,” terangnya.
Akibat dari kejadian tersebut, lanjutnya, masyarakat Kota Bima merasa telah terganggu keamanannya, telah terganggu privasinya. Bagi masyarakat yang masih trauma akibat banjir bandang tidak seharusnya dipicu lagi dengan tindakan yang menambah trauma baru. “Kami menduga kuat, berdasarkan informasi masyarakat bahwa ledakan tersebut berasal dari Kantor Walikota Bima,” ujarnya.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut di atas, MKL Kota Bima selain melaporkan secara pidana panitia kepada  Kepolisian Resor Bima Kota. Mendesak Pemerintah Kota Bima untuk bertanggungjawab atas kejadian tersebut karena hal itu terjadi di halaman Kantor Walikota Bima. Tidak lagi mengijinkan penggunaan halaman Kantor Pemkot Bima untuk kegiatan yang dapat mengganggu ketertiban umum.

“Mendesak Pemerintah Kota Bima dan panitia untuk menyampaikan permintaan maaf melalui media massa yang dimuat di halaman muka media cetak, online, dan diumumkan melalui media elektronik di Kota Bima dan media sosial melalui akun resmi Pemerintah Kota Bima selama seminggu berturut-turut berturut-turut,” ujarnya.

Mendesak DPRD Kota Bima untuk menekan pemerintah Kota Bima memenuhi pernyataan sikap tersebut. Kepada Kapolres Bima Kota, didesak untuk menindaklanjuti laporan sebagaimana ketentuan hukum yang berlaku di negara ini.

“Kami mengecam dengan sangat keras atas tindakan Panitia Pelaksana Lomba Rancang Busana Tenunan Khas Daerah Tahun 2017 yang telah membuat ledakan dengan sengaja di saat masyarakat Kota Bima sedang tidur lelap, yang berakibat pada terjadinya gangguan ketertiban umum dan tindakan meresahkan masyarakat Kota Bima sehingga menimbulkan trauma bagi orang tua, terutama anak-anak. (BK25)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top