NTB

Di Korsel, TGH Zainul Majdi Bicara Kebhinekaan

TGB H Zainul Majdi saat tausiah di Korsel.

Mataram, Bimakini.- Komunitas Muslim Indonesia (KMI) di Korea Selatan menggelar Tablig Akbar dengan Tema “KMI Berbakti Untuk Negeri”. Tablig Akbar yang diikuti lebih dari 3.500 orang anggota komunitas muslim yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi itu, secara khusus mengundang Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, sebagai penceramah pada Tablig Akbar yang digelar di Universitas Gimpo, Korea Selatan tersebut, Selasa (03/10/2017).

Nama Tuan Guru Bajang (TGB), sapaan akrab Gubernur NTB itu mulai dikenal oleh komunitas Muslim Indonesia di Korea Selatan dan diberbagai belahan dunia lainnya sebagai ulama muda yang serba bisa (sosok komplit), santun, berprestasi dalam kepemimpinan serta sosok Al Hafidz yang kharismatik. Oleh karenanya, tidak mengherankan apabila KMI dan berbagai organisasi kemasyarakatan lainnya, menempatkan TGB sebagai tokoh nasional yang favorit untuk didaulat menjadi narasumber dan pemateri pada berbagai event bertaraf internasional.

Kehadiran TGB yang juga Ahli Tafsir Al Qur’an di Korea Selatan disambut antusias ribuan jemaah yang datang dari berbagai sudut kota di negeri ginseng tersebut, dengan harapan dapat bersilaturahmi dan menyimak secara langsung untaian kalimat suci Al Qur’an dan materi ceramah serta tausyiah yang disampaikan Gubernur NTB. Tidak terkecuali Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi, hadir menyambut dan mendampingi TGB sepanjang acara berlangsung.

Dalam ceramahnya TGB antara lain mengupas Al-Qur’an Surah Al-Hujurat Ayat 13 yang menegaskan bahwa Allah SWT menciptakan manusia, laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa tidak lain hanya untuk saling mengenal. Ayat ini pun, kata TGB kalau diletakkan di atas muka bumi, di sudut-sudut benua yang ada, maka Indonesialah yang paling cocok untuk Ayat ini. Karena hanya Indonesialah negara yang memiliki banyak suku, ras dan agama dibanding negara-negara lain yang hanya memiliki satu ras dan suku.

“Meskipun beragamam, kita semua menyatu dalam satu bangsa, yaitu Indonesia. Maka nikmat ini harus kita syukuri,” ungkap TGB. Kebaragaman itu, lanjut Gubernur Ahli Tafsir tersebut harus kita syukuri, karena Allah telah melimpahkan bermiliaran nikmat. Namun, dari jutaan bahkan miliaran nikmat tersebut tidak semuanya disuruh mengingat secara khusus. Ada juga nikmat yang disuruh mengingatnya secara umum. Tetapi kalau secara khusus, maka itu adalah keistimewaan. Maka nikmat persaudaraan dan persatuan ini merupakan keistimewaan bagi Allah SWT.

“Kita ini sebagai satu bangsa, diberi karunia yang luar biasa, yaitu keberagaman yang menjadi kekuatan bangsa,” jelas Gubernur dua periode tersebut. TGB juga menceritakan tentang kehidupan masyarakat Madinah atau dulu masih bernama Yastrib. Dulu sebelum datang Rasulullah, tidak ada yang tahu Yastrib itu bahkan daerah itu bukan merupakan daerah yang ingin didatangi oleh siapapun. Desa kecil dan ditinggali oleh satu kelompok saja serta memiliki kemampuan yang terbatas. Maka datanglah Rasulullah, berhijrah ke Madinah lalu kemudian terbentuklah beragam suku di daerah tersebut. Orang-orang Muhajrin, Anshor dan suku yang lain berasal dari Persia, Roma dan negara-negara lainnya berkumpul dan hidup menyatu dalam keberagaman. “Jadi keberagaman itu modal untuk membangun, tetapi keberagaman itu tidak boleh lepas. Kita jaga karena itu warisan ulama, jauh sebelum Indonesia merdeka,” katanya.

Selain mengajak bersyukur, TGB mengajak jama’ah yang hadir untuk merenung Bangsa Indonesia. Indonesia merupakan negara yang memiliki masyarakat Muslim terbesar di dunia, yakni sekitar 210 juta jiwa. Bahkan, jumlahnya lebih besar dibanding warga muslim di negara-negara Arab jika disatukan. “Apakah ini kebetulan? Tidak. Tidak ada yang kebetulan dalam skenario Allah. Tidak ada yang kebetulan dalam penciptaan Allah SWT,” tegas TGB.
Dalam penciptaan itu, lanjut Alumni Mesir tersebut, Allah memiliki tujuan dan maksud, yakni bisa jadi agar umat Islam di Indonesia ini menjadi contoh terbaik bagi seluruh umat se-dunia. Bahkan bagi seluruh umat manusia tentang kebaikan dan kemuliaan Islam.

Maka, untuk menjaga dan menjadikan umat Islam terus tumbuh dan berkembang, TGB mengajak seluruh anak bangsa untuk menjaga perdamaian. Hanya dengan perdamaianlah Islam akan semakin dicintai dan dibanggakan.

TGB menutup tasyiah tersebut dengan kunci keberkahan dalam mencari rezeki yang ada di dunia ini. Diantaranya bahwa rezeki itu dikatakan berkah apabila yang diterima berasal dari yang baik. Rezeki itu dikatakan berkah apabila kita merasa gampang bila dibelanjakan pada kebaikan, namun berat untuk dibelanjakan kepada kemaksiatan. Kunci keberkahan kedua menurut TGB adalah Juhud, yakni digambarkan dengan kalau kita dapat nikmat tidak berlebihan dalam kebahagiaan dan tidak larut dalam kesedihan. “Silahkan bekerja sekuat-kuatnya. Taruh What itu di tangan, bukan di hati. Karena hati itu merupakan tempat yang paling mulia dalam diri kita. Adapun dunia, entah itu jabatan, harta, maka letakkan itu di tangan bukan di hati,” pesan TGB. (BK37)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 35
    Shares
To Top