Dari Redaksi

Kontroversi Tudingan Fakah

 

Legislator DPRD Dompu, Abdul Fakah

ADA dinamika yang menghangatkan parlemen Dompu, beberapa hari terakhir ini. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Dompu, Fakah, lantang menyebut  ada perampokan uang rakyat di bilik legislatif.  Tudingan Fakah itu kini mengelinding liar. Berbagai kalangan dan rekannya bereaksi. Umumnya meminta pernyataan itu di-breakdown lebih rinci lagi supaya tidak bias dan membingungkan. Dijelaskan siapa perampok itu dan berapa dana yang diembatnya. Ketua DPRD Dompu, Yuliadin, membahasakan aspirasi seperti itu.

Hal yang perlu ditunggu adalah apakah Fakah sudah memiliki detail bukti ‘dapur internal DPRD Dompu’ yang disebutnya ada perampokan itu? Kabarnya, Fakah telah melaporkannya ke Kejaksaan Negeri Dompu untuk mengusutnya. Babak baru yang pasti lebih seru diikuti prosesnya. Rupanya, perampokan yang dimaksudkannya adalah perbedaan signifikan bandrol Dana Aspirasi yang diterima para legislator. Tahun anggaran 2017, Dana Aspirasi senilai Rp1,3  miliar. Namun, ada legislator lain  yang mendapat  Dana Aspirasi Rp3 miliar hingga Rp4 miliar.

Pernyataan legislator tiga periode duta Partai Golkar itu selayaknya segera ditelusuri  agar tidak bias dan mengelinding liar. Harus segera ada klarifikasi untuk mengetahui bagaimana duduk persoalannya. Jika memang sudah ke ranah hukum, maka aparat harus gesit lagi menjemputnya supaya terang-benderang: apakah ada yang merampok uang rakyat ataukah kriteria penetapan angka Dana Aspirasi itu sudah ada ketentuannya. Aspek apa saja yang meningkatkan atau menurunkan nilainya. Apakah beda alokasi untuk pimpinan dan alat kelengkapan Dewan, serta legislator umumnya.   Di luar kontroversi Fakah di Dompu itu, memang dalam berbagai pemberitaan media massa, ada kasus pada sejumlah daerah di Indonesia. Dana APBD dan lainnya  kerap menjadi bahan bancakan para pejabat. Tidak jarang pula pejabat eksekutif dan legislatif ‘berselingkuh’ dan menggelapkan item dana rakyat itu. Perselingkuhan politik yang menyasar kantung APBD hingga berakhir pada penangkapan dan penjara juga sudah lama menyeruak. Lagu lama Bro… Tentu saja kita berharap kasus memalukan seperti itu tidak ber-locus delicti di Dompu.

Sisi lain, sentilan dan berkas Fakah di Dompu itu merupakan pintu masuk bagi aparat hukum untuk menelusuri lebih jauh. Pola ‘White Collar Crime’ harus diwaspadai ada, karena memang pergerakannya lebih rapi, tidak terlalu menguras tenaga, dan biasanya ‘berjamaah’. Nah, Fakah telah melempar bola. Dia meyakini ada perampokan Dana Aspirasi. Seperti apa keyakinannya, masih harus dibuktikan.    Hal yang jelas dana APBD dan item dana lainnya memerlukan pembacaan dan pengawasan ketat saat mulai perencanaan, pembahasan, dan  level implementasi.

Gelindingan tudingan Fakah kini diikuti tatapan mata publik yang penasaran hingga menguap tanya, ke arah mana bola berlari dan terhenti putarannya. Mari terus mengikuti perkembangannya. (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 37
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top