Peristiwa

Terbanyak Spesies Burung, TWA Madapangga Dipilih jadi Lokasi PPBI

TWA Madapangga dipilih sebagai lokasi Pertemuan Pengamat Burung Indonesia, karena memiliki banyak spesies.

Bima, Bimakini.- Taman Wisata Alam (TWA) Madapangga, rupanya menyimpan potensi besar. Yakni puluhan jenis burung dan bahkan tidak ditemukan di daerah lain di Indonesia.

Kenyataan itu menjadi daya tarik, sehingga sejumlah Fotografer dan Peneliti hadir dalam Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) ke-VII di TWA Madapangga 10-12 Novermber 2017. Ada dari Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, Jawa Timur, Lombok, serta Dompu. Pertemuan ini rutin dilaksanakan dan tahun ini giliran Bima, apalagi memiliki sejumlah spesies endemik.

Celepuk Maluku misalnya, di tempat lain sulit untuk bisa mengabadikannya, namun justru di TWA Madapangga mudah. Ada juga Paok Laus (Karii Dana), Tunggir Putih Raja, Raja Udang Merah, Celepuk Walesea Meninting. Selain beberapa spesies lainnya.

Sindikat Fotografer Wildlife Bima-Dompu, Gizan Hila mengatakan, setidaknya ada 33 spesies burung yang ada di Taman Madapangga. Ini potensi besar untuk Aviturism atau wisata pengamatan burung pengembangan.

Dikatakannya, kegiatan pengamatan burung, tidak hanya dilakukan oleh peneliti unggas berbagai dunia, namun juga Fotografer Wildlife. Terbuktinya sejumlah peserta dari luar daerah datang, karena penasaran dengan satwa burung di Bima ini.

Beberapa jenis yang menjadi target pengamatan seperti Elang Flores, Cekakak Tunggu-Tunggu putih dalam bahasa lokalnya “Taggere” mulut merah dan hanya di Bima-Flores, Sumba tidak ada, Celepuk Maluku, serta Celepuk Wallasea.

Apalagi, kata Gizan, selama ini Bima tidak terpantau radar kegiatan pengamatan burung. Namun kini justru menjadi salah satu daerah yang berpotensi besar untuk Ekowisata Wildlife.

“Sebenarnya kami sudah mengundang Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, namun tidak hadir selama kegiatan berlangsung. Padahal ini menjadi kesempatan untuk menyamakan persepsi tentang bagaimana menjual wisata pengamatan burung ini,” terangnya pada BimaEkspres (Group Bimakini.com) di TWA Madapangga, Sabtu (11/11/2017).

Kedepan, kata dia, yang perlu diperhatkan bersama, bagaimana menjaga ekosistim yang ada di TWA Madapangga. Jika melihat kondisi saat ini sangat memerihatinkan. “Saat hutan di TWA Madapangga dan sekitarnya masih terjaga dengan baik, kemungkinan jumlah spesies burung jumlahnya lebih dari saat ini,” ungkapnya.

Nurdin Ardiansyah, Anggota Sindikat Fotografer Wildlife Bima-Dompu juga menyayangkan kondisi hutan di sekitar TWA Madapangga mulai memburuk. Ini menjadi ancaman bagi satwa yang sudah lama menghuni kawasan ini.

Nurdin sendiri menemukan ada spesien Celepuk yang berbeda dan baru ditemukan di Bima, tepatnya di Songgela 2014 silam. Saat itu tujuannya memang untuk mengamati spesies burung, tanpa sengaja menemukannya.

Sepintas mirip dengan Celepuk Maluku dengan ciri mata merah dan kuping runcing ke atas. Namun bedanya dengan Calepuk Maluku, memiliki garis vertikal di dadanya. “Untuk sementara kami beri nama Celepuk Songgela, ditemukan juga di kawasan Tambora,” ujarnya.

Diberi nama Celepuk Songgela, karena belum ditemukannya spesies dengan ciri tersebut dalam daftar Celepuk. Bahkan data di Australia pun tidak menemukan ciri tersebut. “Jika nanti belum ditemukan di daerah lain atau negara lain, maka akan tetap dinamakan Celepuk Songgela, karena ditemukan pertama disana,” ungkapnya.

Andi, Fotografer Wildlife dari Jakarta mengaku mamaksakan harus datang ke Bima di tengah kesibukan aktivitas kerjanya. Tujuannya untuk bisa mengabadikan beberapa spesies yang tidak diperoleh ditempat lain, seperti Celepuk Maluku diabadikannya di TWA Madapangga.

Tidak hanya di Madapangga, Andi juga ke Lambu, disekitar Bendungan Sumi. Ada spesies yang ingin dibidiknya dengan kamera.

Namun ada kesedihannya, ketika melihat pohon-pohon mulai banyak ditebang. Tidak seperti lima tahun saat kedatangannya pertama kali. “Jauh berbeda, dulu sekitar bendungan Sumi pohon masih banyak untuk habitat satwa burung,” ujarnya.

Dicontohkannya, di bebedara daerah sudah menjadikan Aviturism atau wisata pengamatan burung sebagai sumber pendapatan masyarakat. Warga bisa menjadi pemandu bagi peneliti atau pengamat burung yang ingin mengetahui spesies tertentu dan langka.

“Syaratnya masyarakat harus menjaga lingkungan, melarang perburuan atau penangkapan burung-burung dan mengetahui dimana titik ditemukannya, sehingga ketika ada wisatawan yang ingin mengabadikannya, bisa menjadi penunjuk arah dan pasti ada biaya jasanya,” ujarnya.

Keberadaan satwa di alam, kata dia, memberi keseimbangan ekosistim. Jika satwa mulai berkurang, maka ada kondisi alam yang rusak.

Peneliti Burung, Imam saat pertemuan itu mengungkapkan  menjadi pengamat burung bisa dijadikan lebih dari hobi. Bahkan jika serius dapat menjadi peneliti dan dijadikan profesi untuk sumber penghidupan. “Pengamatan burung itu adalah kegiatan ilmiah yang menyenangkan,” ujarnya. (BK25)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top