Pendidikan

Dr Amalia Puji Inovasi Pembalajaran Guru di Bima

Kunjungan Pejabat Badan Penelitian dam pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr Amalia.

Bima, Bimakini.- Pejabat Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr Amalia memuji inovasi pembelajaran  guru di Bima. Pujian itu disampaikannya saat mendapat presentasikan mengenai Bambu Perkalian (Baper) dari Guru Fasda Gembira, Haerunnisa, di Rumah INOVASI, Kamis (29/3) lalu.

Penemuan Baper itu, dapat memudahkan siswa dalam penguasaaan numerasi. Ini menunjukkan guru di daerah memiliki kemampuan dalam pengembangan pembelajaran. “Saya salud dengan kreativitasnya, ini diluar yang saya bayangkan. Saya senang bisa berkunjung ke Bima,” ujarnya pada bimakini.com usai Silaturrahmi dan Temu Bincang dengan Fasilitator Daerah (Fasda) INOVASI, program kerjasama Australia dan Indonesia.

Apalagi, kata dia, masyarakat Bima sangat mendukung pendidikan anaknya. Apapun akan dilakukan,  agar anak bisa mengenyam pendidikan. “Ini dukungan yang baik dari masyarakat,” ujarnya.

Temuan pembelajaran yang diciptakan guru di Bima, diyakininya mampu mendorong kualitas pendidikan di Indonesia. “Pendidikan bukan soal standar, bukan fasilitas, tapi bagaimana kualitasnya, kuncinya di guru,” terangnya.

Guru, kata dia, harus tahu apakah yang disampaikan dan baik untuk anak didiknya. Guru harus mulai memberanikan diri untuk menilai, apakah proses yang dijalankannya sudah berjalan baik. “Karena dia yang lebih memahami,” katanya.

Meskipun, kata dia, masih ada anggapan jika guru di daerah belum memiliki kemampuan. Sementara belum pernah dicoba dan kenyataanya guru di daerah juga memiliki kemampuan tinggi.

“Selama ini selalu menjustifikasi, bawah guru daerah belum mampu, padahal belum mencoba,” ungkapnya.

Selain  itu,  menekankan pentingnya literasi. Karena menjadi kunci dalam memahami numerasi. “Jika literasi mantap, bisa berkembang bisa kemana-mana,” tambahnya.

Dicontohkannya, bagaimana siswa memahami cerita, tidak secara simple. Namun, guru harus mengajarkan filosofi darimana awal pemecahan masalah.

“Saya ke Bima karena ingin banyak belajar tentang INOVASI, belum lihat aksi riilnya. Saya pun datang ke sekolah di desa, luar biasa. Anak-anak terlibat semangat, suasana kelas ramai, banyak tempelan didinding yang dibuat anak-anak,” pujinya.

Namun, dia juga menitipkan agar tetap menjaga bahasa daerah. Karena laporan dari UNIESCO, banyak bahasa daerah yang hilang. “Tetap jaga bahasa daerah, walaupun bahasa Indonesia sebagai pemersatu,” pesannya.

Sementara itu, Kabid Dikdas Dikbudpora Kabupaten Bima, Hj Jubaidah menyampaikan, sempat meninjau kegiatan try out di sekolah dampingan INOVASI bersama Dr Amalia. Juga berpesan agar guru dapat mengidentifikasi bersama persoalan pendidikan yang ada. “Seperti penerapan kurikulum, apakah cara mengajarnya sudah benar sesuai RPP,” ujarnya. (IAN)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 32
    Shares
To Top