Opini

Waras Berpemilu

Oleh : Muhamad Yunus A

Muhammad Yunus

Jalan untuk meniti harapan perbaikan masa depan masyarakat, daerah, bangsa dan negara, salah satunya melalui pemilu atau pilkada. Hal ini dapat dilihat dari sejarah dan sirkulasi elit di negeri ini. Setelah memasuki 20 tahun usia reformasi, ternyata kita masih berkutat dengan sejumlah prosedur-prosedur demokrasi, yang diyakini akan mengantar kita menuju terwujudnya demokrasi subtantif. Anggapan bahwa kita sedang berada pada tahap transisi demokrasi atau justru kita sedang berbulan madu dengan demokrasi barangkali dapat menjadi pijakan untuk memahami fakta pilkada serentak saat ini yang memiliki titik singgung satu sama lain. Dengan usia pemilu yang cukup lama, fakta lain menunjukan bahwa sampai saat ini pendidikan pemilu untuk mencerdaskan segenap warga bangsa dan negara belum kunjung merata. Sehingga dibutuhkan upaya serius untuk mewujudkannya dalam setiap tahapan kegiatan kepemiluan.

Perlunya Pendidikan Pemilu

Ada banyak hal yang mesti dilakukan untuk memastikan tahapan pemilu dapat berjalan baik, berkualitas dan berintegritas. Salah satunya adalah dengan melakukan pendidikan pemilu yang berkelanjutan. Kita sadari bahwa hingga kini pendidikan pemilu belum menemukan bentuk yang terintegrasi dengan baik. Kegiatan kepemiluan seolah berjalan sendiri-sendiri dan terkesan tak berkesinimbungan. Namun hal itu tidak harus menyurutkan semangat kita, tak harus menghentikan langkah-langkah kecil kita untuk terus berupaya mencari bentuk yang pas, relefan dan menyentuh seluruh komponen warga negara dalam berpemilu.

Melalui pendidikan pemilu yang terintegrasi, ada harapan untuk dapat beranjak bersama dan mempercepat langkah kita menuju pendewasaan demokrasi. Tentunya pendewasaan demokrasi yang dilandasi dengan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil dapat dipastikan untuk diterapkan seutuhnya. Berpijak pada asas tersebut, segenap warga negara harus dipastikan pula posisinya sebagai subjek yang setara. Memiliki hak dan kewajiban yang sama, serta memiliki ruang dan kesempatan yang sama untuk ikut membangun pemilu berkualitas dan berintegritas.

Pendidikan pemilu bukan hanya diperuntukkan bagi penyelenggara pemilu, bukan hanya peserta dan pemilih. tetap harus juga menyentuh mereka yang masih berkedukan sebagai pra-pemilih. Disinilah dibutuhkan desain pembelajaran pemilu yang komprehensif, kreatif, inovatif dan terukur untuk menunjang percepatan peningkatan kualitas pemilu. Sejauh ini yang lebih banyak mendapat sentuhan pendidikan pemilu, adalah penyelenggara pemilu. Sementara unsur warga masyarakat belum mendapat sentuhan yang maksimal dari pemilu ke pemilu.

Gagasan dan Sikap Cerdas Berpemilu

Berkaca dari pengalaman sejarah berpemilu, untuk menunjang proses pendidikan pemilu, kita membutuhkan gagasan yang harus didialogkan secara intensif. Kelak dengan modal gagasan yang didialogkan itu dapat menjadi pemantik kesadaran untuk meneguhkan kembali sikap cerdas berpemilu. Gagasan yang positif dapat memacu tindakan positif berdemokrasi. Gagasan itu pula yang dapat menggerakkan kita menuju sikap dewasa. Tanpa gagasan, perjalanan demokrasi menjadi hambar, mati rasa, dan wajah masa depan berubah jadi pucat pasi.

Gagasan yang disuguhkan dalam berdemokrasi diharapkan dapat memberi nutrisi yang bergizi bagi pikiran dan nurani publik. Selain itu gagasan diharapkan dapat memberi dampak positif untuk terbentuknya karakter luhur berdemokrasi, yakni berupa sikap dewasa, cerdas dan waras berdemokrasi, setidaknya menghadirkan sikap sebagaimana yang termaktub dalam asas pemilu. Potret buram demokrasi tak bisa dibiarkan tumbuh subur dan menggurita tanpa perlawanan yang berarti. Karenanya dibutuhkan cara-cara kreatif dan inovatif serta berkelanjutan dalam menggairahkan sikap cerdas berpemilu dan berdemokrasi.

Adalah keharusan untuk membangun sikap menolak politik uang, menolak golput, menolak politisasi sara, menolak hoax, menghargai perbedaan pilihan, memilih jalan damai, serta memilih dengan timbangan akal sehat dan nurani. Kesadaran sikap seperti ini hanya dapat tumbuh melalui ineteraksi atau hubungan dialogis yang diisi dengan gagasan. Sehingga pada waktunya, gagasan dapat diartikulasikan kedalam keluhuran sikap dan prilaku berpemilu dan berdemokrasi.

Mengetahui dan memahami visi, misi, dan program para paslon atau peserta pemilu menjadi sebuah keharusan. Demikian juga dengan mengetahui dan mengenali rekam jejak, kualitas dan integritas para peserta pemilu. Semua itu akan menjadi modal yang berharga bagi para pemilih sebagai referensi atas pilihannya. Hal ini juga penting agar pemilih memiliki referensi, sehingga tak berprilaku sebagaimana dalam ungkapan yang populer seperti memilih kucing dalam karung. Pemilih mesti menunjukan kualitas dan integritas dirinya. Kesadaran pemilih untuk ikut berkontribusi terhadap masa depan daerah melalui tahapan dan pesta demokrasi yang lebih baik lagi bermartabat mesti dilandasi timbangan akal sehat dan nurani.

Tak bisa dipungkiri, kenyataan dan prilaku berpemilu dan berdemokrasi yang kita hadapi masih cukup rumit dan terasa jauh dari cita-cita demokrasi sebagaimana termaktub dalam pancasila, UUD 1945, UU kepemiluan serta peraturan turunannya. Demokrasi subtantif masih jauh panggang dari api. Demokrasi semakin sakit parah dan bobrok jika dalam tubuh penyelenggara pemilu, perangkat pendukung paslon atau peserta pemilu serta dari pemilih masih saja diwarnai oleh tarik menarik kepentingan dan hubungan gelap yang justru merusak tatanan demokrasi.

Ketika larangan dalam berpemilu masih terus dilanggar, ketika tindak pidana pemilu menjadi lumrah, ketika media sosial diisi dengan pemihakan yang melanggar dan tidak mendidik, ketika pers memihak pada kepentingan paslon, ketika partai politik tak melakukan pendidikan politik dan demokrasi yang sehat, ketika ASN segenap profesi lainnya tidak menjunjung tinggi profesionalitas dalam kerja-kerja pengabdiannya, masih selalu abai terhadap aspek normatif, dan melabrak rambu-rambu aturan dalam pelibatan dirinya, ketika para pendukung paslon dan masyarakat pada umumnya tak menunjukan integritas dalam segenap kegiatan kepemiluan. Maka potret tubuh demokrasi kita sudah bisa dipastikan sedang mengalami sakit akut, bahkan komplikasi luar-dalam.

Kepada siapa lagi kita dapat menaruh harapan untuk membangun pemilu yang sehat, berkualitas dan berintegritas? Tentu dibutuhkan kehadiran kesadaran utuh para pihak untuk senantiasa menyelaraskan energi positif dalam menata sistem kepemiluan/pilkada yang luberjurdil, kemudian diartikulasikan dalam tahapan berpemilu dan berdemokrasi yang bersih dan sehat.

Sistem kepemiluan yang normal, lalu didalamnya terdapat subjek pribadi yang normal, yakni pribadi yang bersih, jujur, berani-bernyali dan cerdas, diperkuat melalui rajutan interaksi yang melahirkan kesadaran, maka marwah pemilu atau pilkada dapat terjaga dengan baik, serta masa depan daerah, bangsa dan negara dapat beranjak ke arah yang lebih baik pula. Semoga keteladanan dalam bingkai sikap waras berpemilu dapat ditunjukan dan diartikulasikan oleh penyelenggara pemilu, peserta pemilu dan pemilih dalam segenap tahapan kegiatan kepemiluan kita. (*)

Catatan Pinggir
Kota Bima 2018

Penulis adalah Direktur Rumah Cita

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 25
    Shares
To Top