Opini

APRIL 1815 – APRIL 2018 (Mengenang Letusan Gunung Tambora Berbagai Sumber)

Oleh: Anwar Hasnun

Seorang keturunan kerajaan Bima bernama Hatib Lukman mengabadikan letusan gunung Tambora dalam syairnya, bait 10

Dengarkan tuan ikat – ikat

Dikarang oleh Hatib Lukman

Tempat Menaruh peringatan

Supaya ada akan jadi zaman.

Syair tersebut sebanyak 71 ( tujuh puluh satu ) bait dengan rincian, bait 11 menerangkan tentang awal APRIL 1815 terjadi letusan. Hujan abu selama dua hari tiga malam, bait 18, bari ke empat. Bait 82, baris ke empat,” takdir Allah Sudahlah nyata.” Hatib Lukman, menutup syair tentang letusan gunung Tambora adalah takdir Allah.

Hatib Lukman saya anggap sastrawan Bima pada zamannya, dan syair kerajaan Bima yang isinya antara lain tentang letusan Gunung tambora APRIL 1815 merupakan sastra tulis pertama di Bima meskipun istana sintris, menggunakan bahasa Melayu klasik.di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Hawei Combert Lois berkembangsaan Perancis diterbitkan Lembaga Penelitian Perancis untuk Timur jauh Ecole Francaise D’extreme Oricert Jakarta. Bandung 1982, dengan bahasa Indonesia ( Baca Syair Kerajaan Bima ).

Syair tersebut ditulis pada tahun 1830, berarti lima belas tahun setelah terjadinya letusan gunung Tambora 1815. Tahun 1932 Chamber Loirt menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang ditulis dalam bahasa melayu Bima.

Letusan gunung Tambora sama sekali tak terduga tulis Bernice de Jong, seorang peneliti berkembangsaan Belanda, dengan konsentrasi PenelitianAntropologi Medis dan sejarah lingkungan. Lebih lanjut di ceritakan tanda – tanda awal dari letusan yang mencekam itu telah tercatat tiga tahun sebelummnya. Sejak 1812, awan yang tergantung tetap berada di puncak gunung Tambora, saksi mata Jhon Crawfurd menulis dalam sebuiah kamus “ pada tahun yang mendahului letusan, saya menemani sebuah ekspedisi ke Makassar di pulai Sulawesi, dan karena satu sebab kami berlayar merapat pantai Sumbawa, bahkan merapat dengan gunung berapi Tambora yang telah dinyatakan sedang, sangat aktif. Begitu kami mendekat, fenomena alam yang sebenarnya menjadi terbukti karena , bersamaan dengan itu debu – debu berjatuhan di atas dek kapal ( H. Zallinger ).

Letusan terjadi sekitar 5 April 1815, Sekitar pukul 7 malam ( 19.00 WITA ) PADA 10 April 1815 terjadi letusan yang paling keras. Semula letusan tersebut dianggap tembakan – tembakan meriam. Beberapa hari kemudian baru diketahui, bahwa bunyi tersebut merupakan letusan gunung berapi. Mayor M.H. Court Resident Pulau Bangka menulis “ pagi hari tanggal 11 April 1815 bunyi – bunyi letusan yang tetap terdengar silih berganti di Binto ( Bangka ), seperti bunyi tembakan meriam, bunyi itu adalah bukti cara bekerja dari letusan sebuah gunung api di pulau sumbawa yang jaraknya tidak kurang 700 mil dan masih terlalu jauh dari palembang.

Bunyi – bunyi letusan dapat terdengar di pulau Kalimantan. Pada tahun 1874, seorang perempuan tua, yang berusia 80 tahun, tinggal di Kalimantan menceritakan kepada George Zimmer, teringat bunyi yang sangat mengerikan yang tidak pernah ia dengar sebelumnya, yaitu pada 1815. Katanya bumi goyang, semua orang katakutan seolah – olah langit muntah.

Dampak

Letusan gunung Tambora 1815, tercatat dengan cukup dahsyat dan mengerikan, semburan debu – debu setinggi 42 km. Ukuran ini bila disamakan jaraknya mulai dari kantir Pendopo Bupati Bima yang terbakar sampai dikantor pos cabang Sape. Masyarakat, petani, di sekitar gunung tersebut tertimbun tanah dan lahar panas. Dua kerajaan tertimbun tanah bersama masyarakat, yaitu kerajaan Pekat dan kerajaan Tambora. Jejak kerajaan tersebut diketahui keberadaannya dari arsip VOC berdasarkan kontrak – kontrak yang mereka buat dengan kompeni selama abad ke 17 -18. Empat kerajaan yang tertinggal Bima, Dompu, Sumbawa, Sanggar tak luput dari bencana.

H. Zollinger yang berkunjung di pulau Sumbawa tahun 1847 mencatat korban jiwa akibat letusan gunung Tambora 1815 adalah 84.200 orang( yang meninggal dengan mengungsi ). Hampir sembilan dasawarsa kemudian C. Lek Ker Ker mencatat orang 134.000 sebelum letusan 1815, 54.000 sesudah letusan.

Tidak ada sarjana Indonesia yang meliput dalam tulisan ( buku atau artikel ) tentang letusan gunung tambora tahun 1815 , hanya penulis atau peneliti Belanda. Heluis Syamsuddin guru besar ilmu sejara, Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial ( FPIPS ) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, orang Sape Bima, menerbitkan buku tentang “ Letusan Gunung Tambora 1815 bersama Bernice Dejong Boers penerbit Ombak Yogyakarta tahun 2012.

Letusan gunung Gamalamo di Ternate, pada tahun 1840, erupsi hanya sebulan dan tidak terlalu memakan korban yang banyak dan penderitaan yang lama. Gunung Krakatau 1883 wilayah teritorial dan pulau sumbawa sebelum gunung tambora meletus adalah Dompu – Bima – Sumbawa – Sanggar – ( pa ) pekat – Tambora. Setelah gunung tambora meletus adalah Dompu + pekat + sebagoan tambora. Bima + Sanggar + sebagian Tambora. Sumbawa – sumbawa, Dompu kekurangan penduduk. Waktu puluhan tahun bahkan ratusan tahun, dompu menerima imigrasi dari kerajaan lain, letusan dari Bima. Orang Bima datang menetap di Dompu ( Zalingvo 1850 ).

Dampak yang sangat mengerikan adalah mayat manusia, ibarat bangkai binatang berhamburan dimakan binatang yang masih hidup. Kematian itu berbagai – baga, lintang pukang rupanya bangkai. Tiadalah tentu tuan dan sukai, hukum. kematian jaranglah terpakai. Makanan sangat mahal, kelaparan meraja lela. Dimanakah tiada kematian begitu, mahalnya makanan bukan sesuatu jika tiada datang dagang membantu, seisi negeri habislah mati.

Di India tahun 1816 uadara tak bersahabat menyebabkan gagal panen, ketahanan penduduk yang lemah terhadap penyakit akibat kelaparan. Wabah kolera melanda Afganista dan Nepal, ke Asia Tenggara Indonesia tahun 1820, laut Atlantik tahun 1823. H. Strommel dan E. Strommel menggambarkan udara di Eropa dan Amerika Utara, akibat letusan debu, reruntuhan zat –zat kimia memenuhi udara seluruh dunia tahun 1866 dikenal sebagai tahun tanpa musim panas. Musim panas tahun 1816 terlalu dingin suhu turun rata – rata 1 sampai 2,5 derajat.

Letusan gunung Tambora berakibat dahsyat, tanah tertutup selapis, abu setebal dua kaki selama lima hari, rumah – rumah hancur, rusak, tanah tidak bisa digarap selama lima tahun. Terjadi kelaparan besar, beras dari jawa harganya mahal. Orang sengsara, keluarga terputus, ada suami menjual istri, ibu ada yang jual anaknya ditukar dengan segenggam makanan, melarat mati dijalanan ( Hewii Chambert Lois: syair kerajaan

Letusan gunung Tambora dalam kacamata Mitos dan Sastra

Versi Roorda Van EySinga 1841, cerita rakyat menyebutkan tentang seorang Arab, Said Idris mampir berniaga di kerajaan Tambora, ketika akan shalat di mesjid melihat seekor anjing masuk, ia ( Said Idrus ) menyuruh penjaga mengusirnya. Anjing tersebut ternyata kepunyaan raja Tambora. Karena ada yang melaporkan kepada raja dengan sebutan kafir sang raja marah. Raja menyembilih anjing itu bersama – sama dengan seekor kambing. Said Idrus, di undang dan disuguhkan daging anjing, tamu lainnya disuguhkan daging kambing, karena merasa Said Idrus sudah makan daging anjing, keduanya berbantah, raja semakin marah, memerintahkan rakyatnya untuk membunuh Said Idrus, di puncak tambora. Konon itulah Allah murka lalu meletuslah gunung Tambora.

Syair yang ditulis Khatib Lukman menyebutkan

Sultan Tambora Abdul Gafur

barang pekerjaannya sangatlah takabur

tidaklah percaya riwayat dan tutur negeri dan badan menjadi lebur

perbuatan Sultan Tambora

membunuh Tuan Haji

menumpahkan darah

kuranglah pikir dan kira – kira 

Letusan gunung Tambora 1815, menyisahkan kesedihan, kerugian, dan pengorbanan yang cukup besar serta menyengsarakan rakyat. Manusia meninggal tak terkubur, yang masih hidup pun meninggal karena kelaparan dan wabah penyakit. Raja Tambora ke dompu menyelamatkan diri, anaknya meninggal karena kelaparan. Letusan gunung Tambora sebagai hukuman terhadap raja tambora, orang menyuruh makan daging anjing , terhadap haji yang sabar dan membunuhnya secara sadis.

Versi lain menyebutkan bahwa Sais Idrus bukan orang Arab itu melainkan sekh Muhammad Saleh, sekh tersebut datang di Tambora menyebarkan agama islam ( agama islam sudah ada sebelum letusan gunung Tambora). Sekh Muhammad Saleh atas perintah Raja Tambora dibunuh dan dibakar mayatnya, ibunya dibuang ke sebuah teluk, namanya teluk saleh ( Helius Syamsuddin, 1958). Itulah kisah nama teluk Saleh sampai sekarang.

Tambora oh Tambora

Sebelum letusan gunung Tambora hutan – hutan kayu yang memukau dan menyejukkan, disana ada kayu sepang, ada sumber madu asli, kuda, rusa dan jenis hasil hutan lainnya. Semuanya sirna, tinggal bebatuan dan pasir – pasir hutan. Dari SO DORO Ncanga kita menyaksikan gunung tambora ibarat manusia yang ditinggal pergi jauh oleh keluarganya. Namun, sekitar gunung Tambora menyimpan sumber kekayaan seakan – akan dalam kesendiriannya gunung tambora berkata “ galilah misteri yang tersimpan dan sisa – sisa puing untuk kehidupan hai manusia yang berilmu”.

Kita belum terlambat, meskipun ratusan tahun baru kita bangkit. Itulah manusia, kalau tidak melihat tidak bangkit dan tidak terketuk hatinya. Mulai tahun 2017 banjir manusia, tahun 1815 banyak mayat.  Mudah – mudahan tahun 2018 di banjiri pemikiran untuk membangun kembali Tambora dan wilayahnya. Sebagai pusat ekonomi, budaya, dan sumber penggalian ilmu pengetahuan SO DORO Ncanga dijadikan lahan perkebunan, lahan peternakan dan sebagainnya. Ilmuwan, menggali ilmu  untuk generasi kita Orang bermodal, menanam modalnya. Niat kita adalah mensejahterakan orang banyak utamanya masyarakat sekitarnya. Cukupkah kita mengagungkan Festifal Tambora dengan iring – iringan mobil, parkir mobil sepanjang jalan,. Bukan ! seharusnya “ berbuat dan melakukan “. Masyarakat tidak memiliki ilmu, tidak memiliki uang hanya pemerintah dan pengusaha yang memiliki uang dan ilmu. Sayang, alam, lingkungan Tambora bila tidak digarap dengan profesional. (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 83
    Shares
To Top