Connect with us

Ketik yang Anda cari

Pendidikan

SGI: Guru PNS, Non PNS, Honorer dan Sukarela belum Sejahtera

Eka Ilham, M.Si

Bima, Bimakini.- Ketua Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima, Eka Ilham, MSi, menilai profesi guru berstatus PNS, non PNS, honorer maupun sukarela masih jauh dari kata sejahtera dan berkeadilan.

“Kita lirik saja di Kecamatan Tambora. Di tengah sarana dan prasarana yang tidak memadai, ditambah lagi kesejahteraan yang tidak pasti, bagaimana mereka mau meningkatkan profesionalisme kalau tidak sejahtera,” kritiknya.

Gaji honorer daerah di Kabupaten Bima senilai Rp300 ribu per bulan. Angka itu, kata dia, tidak mencukupi kebutuhan keseharian keluarga. Apalagi, guru sukarela yang berharap dari kemampuan sekolah.

“Kalaupun guru PNS untuk saat ini sudah lebih dari cukup kesehjahteraannya dengan tunjangan sertifikasi, tetapi cukup memberatkan dengan persyaratan Dapodik dan 24 jam harus mengajar,” keluhnya.

Dia mengatakan, tunjangan sertifikasi guru termin pertama belum dicairkan. Untuk guru sukarela tingkat SMA dan SMK, dengan kebijakan Pemerintah Provinsi NTB terkait seleksi guru kontrak yang  akan dilaksanakan pada bulan Mei ini.

“Paling tidak, ada sedikit perbaikan kesehjahteraan bagi mereka yang statusnya guru sukarela menjadi guru kontrak daerah Provinsi NTB. Tentunya, tidak seluruhnya guru sukarela menerima kesehjahteraan tersebut,” harapnya.

Melalui Hardiknas kali ini, regulasi kesehjahteraan guru sudah menjadi kewajiban pemangku kebijakan berpihak pada politik anggaran pendidikan yang berkeadilan pada guru tanpa melihat status guru.

“Kita dapat belajar pada negara tetangga, seperti Malaysia, Brunai Darussalam, mereka memuliakan guru melalui kesehjahteraan. Justru berbanding terbalik dengan kondisi di negeri ini yang masih jauh dari kata sejahtera dan berkeadilan,” tuturnya.

Guru dibekali dengan berbagai tugas dan tuntutan PKG, UKG, Dapodik dan administrasi setumpuk, sementara siswa kadang terabaikan ditambah ruang gerak HAM mengakibatkan guru terpenjara dengan berbagai tuntutan.

“Kalau mendengar aspirasi dari guru sukarela sekolah dasar di Tambora, lebih pantas disebut guru relawan. Gaji, antara ada dan tiada, tetapi semangat pengabdian yang membuat mereka bertahan,” ungkapnya. (MAN)

Iklan. Geser untuk terus membaca.
Share
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Pendidikan

Kota Bima, Bimakini.- Ada unik dilakukan Sekolah Dasar (SD) Negeri 59 Rasalewi Kota Bima saat menggelar upacara dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas)...

Opini

Oleh: Eka Ilham,S.Pd., M.Si Guru merupakan manusia pertama yang dikenal murid-muridnya. Guru mengajarkan tentang semua yang ingin diketahui oleh murid-muridnya. Guru adalah tempat murid-muridnya...

Pendidikan

Bima, Bimakini.- Hasil seleksi calon kepala sekolah (Cakep) tahun 2019 yang baru diumumkan 30 Januari 2020 menuai polemik dan pertanyaan bagi peserta lainnya. Pengumuman...

Pendidikan

Bima, Bimakini.- Kasat Pol PP H. Sumarsono, MH, meminta maaf atas kesalapahaman melibatkan beberapa guru dan anggota Pol PP, saat upacara Hardiknas di halaman...