Opini

Gempa Lombok, Sektor Kesehatan Harus Berbuat Apa?

Oleh : Muhammad Al- Irsyad

Muhammad Al- Irsyad

Berita mengejutkan datang dari Nusa Tenggara Barat (NTB) pada hari Minggu, 29 Juli 2018. Gempa bumi tektonik dengan kekuatan 6,4 Skala Richter (SR) mengguncang pulau Lombok. Akibatnya 14 orang meninggal dunia, 162 orang luka-luka, dan lebih dari 1000 rumah mengalami kerusakan. Hingga tengah malam, gempa susulan masih terus terjadi lebih dari 200 kali dengan magnitudo terbesar 5,7 SR.

Banyaknya korban dan kerugian yang diakibatkan oleh gempa ini, mengundang simpati banyak orang. Masyarakat lokal, nasional hingga internasional tidak henti mengirimkan do’a untuk masyarakat Lombok. Tidak hanya do’a, semua elemen mulai bergerak untuk memberikan bantuan kepada masyarakat Lombok, sektor kesehatan juga tentunya.

Gempa Lombok bukan hanya sekedar bencana alam, melainkan juga merupakan bencana kesehatan. Prespektif kesehatan memandang bahwa setiap kondisi yang meyebabkan luka-luka dan kematian merupakan problem kesehatan. Oleh karena itulah, peran sektor kesehatan akan sangat berarti buat para korban.

Peran sektor kesehatan saat bencana tidak tidak terbatas dilakukan oleh istitusi kesehatan seperti Pusat Krisis Kesehatan (PPK) Kementerian Kesehatan, maupun Dinas Kesehatan (Provinsi maupun Kabupaten). Peran tersebut juga dapat dilakukan oleh kampus, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau organisasi lainnya. Jadi siapapun yang ingin memberikan bantuan kesehatan tentu dapat melakukannya. Oleh karena itu, penting untuk diketahui apa yang harus dilakukan dalam proses penanggulangan bencana kesehatan, agar bantuan tersebut efektif dan efisien.

Manajemen bencana kesehatan, secara umum memiliki 4 aspek yang penting, yaitu jumlah dan kondisi korban, ketersediaan tenaga, fasilitas, dan logistik kesehatan. Maka dari itu hal utama yang harus dilakukan ialah melakukan penilaian awal secara cepat dan tepat (rapid assessment). Secara umum, assesment ini mutlak diperlukan untuk mendapatkan gambaran awal mengenai jumlah dan kondisi korban,Jumlah dan kondisi korban akan sangat berkaitan dengan ketersediaan dan kesiapan tenaga, logistik dan fasilitas kesehatan yang dibutuhkan.

Peran sektor kesehatan selanjutnya adalah mencegah meningkatnya angka kematian dan angka kesakitan pasca bencana terjadi. Pasca bencana sangat memungkinkan meningkatnya angka kematian dan kesakitan akibat penyakit atau kejadian kesakitan yang bukan merupakan dampak langsung dari bencana tersebut. Apabila hal seperti ini terjadi tentu akan menjadi beban ganda (double burden) sektor kesehatan dalam penanganan korban bencana. Meningkatnya angka kesakitan dan kematian pasca bencana biasanya terjadi akibat dari munculnya wabah penyakit di lokasi pengungsian. Wabah penyakit terjadi akibat dari kondisi lingkungan pengungsian yang buruk.

Setiap bencana terjadi, akan diikuti oleh terjadinya perubahan pola penyakit akibat dari kondisi lingkungan pasca bencana.yang menjadi buruk. Lingkungan yang buruk menyebabkan meningkatnya populasi binatang pembawa penyakit (vektor) seperti nyamuk, kecoa maupun tikus. Hal tersebut akan diperparah lagi dengan kondisi korban yang rentan akibat dari menurunnya daya tahan tubuh karena harus tinggal di tenda-tenda pengungsian.Langkah pencegahan yang mungkin dilakukan tentunya dengan memperbaiki kualitas lingkungan pengungsian untuk menekan perkembangbiakan vektor penyakit.

Perilaku kesehatan korban bencana dapat pula menimbulkan wabah penyakit di lokasi pengungsian. Tenaga kesehatan memiliki peran yang sangat penting untuk mempromosikan perilaku hidup sehat di lokasi pengungsian, Untuk menunjang perilaku kesehatan tersebut, ketersediaan dan kualitas fasilitas sanitasi di lokasi pengungsian harus terjamin. Fasilitas tersebut seperti jamban, air bersih, tempat sampah yang selalu tersedia, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas yang memadai.

Terakhir, sektor kesehatan haruslah terus memperbaiki persiapan-persiapannya untuk menghadapi kondisi bencana. Persiapan tersebut dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas sumberdaya, fasilitas, serta logistik kesehatannya. Tidak dapat kita pungkiri bahwa Nusa Tenggara Barat masih sangat rawan akan bencana. Gunung api, gempa bumi, banjir bandang, dan kekeringan merupakan potensi bencana yang masih mengintai kita. Tentunya kita tidak pernah berharap bencana itu terjadi, akan tetapi kita tidak pernah tahu kapan bencana tersebut datang. Maka dari itu, hal yang dapat dilakukan hanyalah mempersiapkan diri.

Terakhir daripada segala yang terakhir, semoga ada hikmah yang dapat kita petik dari bencana ini. Semoga masyarakat Lombok khususnya dan NTB umumnya diberikan ketabahan dalam menghadapi semua ini. Saatnya berbenah, tetap waspada dan saling menjaga. Duka Lombok, duka kita, dan duka Indonesia! Do’a untuk Lombok. (*)

                                                                                                                                          Penulis adalah Pemerhati Kesehatan Masyarakat

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
11
Share
  • 302
    Shares
To Top