Ekonomi

Harga Garam di Woha “tidak Lagi Asin”

Aktivitas petani garam yang mengangkut garam ke truk.

Bima, Bimakini.- Petani garam di Desa Donggobolo, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima mengeluh, lantaran harga garam rakyat terus anjlok. Saat ini harga garam Rp47 ribu per karung.

Salah seorang petani garam di Donggibolo, Imam (36) mengeluh, karena panen garam kali ini disambut dengan harga merosot. Lebih dari satu bulan Imam mengolah lahan tambak garamnya. Namun hasilnya tak sesuai harapannya.

“Bulan puasa kemarin harga di angka 85 ribu per karung, sekarang sudah turun 47 ribu. Merosotnya itu hampir setiap pekan,”  katanya di lokasi tambak, Selasa (10/7).

Imam menceritakan harga garam yang semula Rp130 per karung. Namun tiba-tiba dalam sepekan langsung merosot di bawah harga Rp100 ribu. “Setiap  pekan harga garam turun drastis, sampai saat ini harga membuat kami kecewa,” jelas dia.

Sementara pembeli, Ismail, mengaku saat ini kurang membeli garam dari petani. Meskipun pasar di daerah Jawa dan Sulawesi meminta pendistribusian garam, namun pembeli di Bima tidak mau rugi.

“Harga garam di Bima beda sedikit dengan daerah Jawa dan sulawesi, kalau dikirim jelas tidak ada untung,” ungkapnya.

Kata dia, pembeli tidak bisa membeli garam di atas harga pasar. Kecuali beli untuk simpan di gudang. Tapi untuk daerah bagian timur, harga garam lumayan tinggi.

“Saat ini saya hanya berani membeli dengan jumlah kecil, untuk di kirim ke Sumba sesuai dengan permintaan pasar saja,” jelas dia.

Menurut dia, seharusnya saat seperti ini, sudah banyak tengkulak yang berebutan membeli garam, karena musimnya sudah tepat.

“Kami tidak tahu kapan harga garam akan naik, tapi kalau sudah banyak pembeli artinya sudah ada perubahan harga di pasar,” jelas dia. (MAN)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 132
    Shares
To Top