Peristiwa

Perut Membesar, Sakit, Teriak, Lari, Bocah Ini Butuh Bantuan

M Farli (6), warga RT 09 RW 01 Desa Tumpu, Kecamatan yang menderita perut membesar.

Bima, Bimakini.- Bocah pengidap perut membesar, M Farli (6), warga RT 09 RW 01 Desa Tumpu, Kecamatan butuh perhatian. Ketiadaan biaya pengobatan, membuat perutnya makin membesar.

Sudah empat sang bocah hanya menahan rasa sakit di rumah neneknya. Jika tidak tahap, kadang menangis sambil berlari. Tidak itu saja terkadang membanting berang yang ada di rumah, untuk melampiaskan rasa sakit.

Nenek M Farli, Hawsaf Syamsudin mengatakan, sang bocah ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya, Jahrudin dan Indratmi, sejak usia 3 tahun. Kedua orang tuanya merantau ke Malaysia untuk mencari nafkah sebagai buruh kelapa sawit.

“Farli dititip oleh orang tuanya sejak tiga tahun silam. Kondisinya saat itu belum ada gejala perut membesar,” ungkapnya, Jumat (17/8).

Kata Hawsah, setelah dua bulan keberangkatan kedua orang tuanya, Farli mulai mengeluh rasa sakit dibagian perut dan akhirnya kian hari makin membesar. Namun saat itu rasa sakit bisa diatasi dengan pengobatan tradisional.

“Awalnya Farli keluhkan rasa sakit bagian perut. Lama kelamaan perutnya membesar,” terangnya.

Melihat kondisi Farli seperti itu, Hawsah langsung menghubungi orang tuanya di Malaysia. Nah sejak itu, kedua orang tua Farli bertekad mencari uang untuk pengobatananaknya.

“Sejak itu orang tua Farli sepakat tidak pulang untuk mencari uang pengobatan. Bahkan berjanji tidak akan mengumpulkan uang untuk bangun rumah demi kesembuhan anak pertamanya itu,” cerita Hawsah.

Diakuinya, setelah ada kiriman uang orang tua Farli, Hawsah membawa cucunya itu ke tempat praktek umum dr H Jatmiko. Selain itu, Farli juga sempat dirujuk ke RSUD Bima atas arahan pihak Puskesmas Bolo melalui dr H Jatmiko.

“Tahun 2016 lalu, Farli sempat dirawat rutin oleh dr H Jatmiko. Karena tidak ada perubahan terpaksa di rujuk ke RSUD Bima dan nginap selama 18 hari,” tutur Hawsah.

Sambung Hawsah, upaya pemeriksaan saat itu membuahkan hasil dan Farli disuruh keluar oleh pihak RSUD. Selang beberapa bulan pascapengobatan itu, penyakit yang dialami Farli kembali kambush.

Setelah itu Farli diberikan pengobatan tradisional di Kota Bima dan kondisinya membaik. “Upaya pengobatan Farli maksimal bahkan kondisinya sempat pulih. Namun, sering kumat dan saat ini sudah masuk empat bulan perutnya kian hari kian membesar,” bebernya.

Saat ini, bersama keluarga hanya bisa pasrah, karena biaya pengobatan Farli tidak ada lagi. Untuk itu, berharap ada uluran tangan.

Ibu kandung M Falri, Indratmi mengaku pulang dari Malaysia sejak dua bulan lalu. Kepulangannya untuk mengurus anaknya. Sedangkan suaminya tidak disuruh pulang agar bisa mencari biaya untuk pengobatan.

“Sebelumnya saya dan suami bertekad merantau untuk mencari biaya bangun rumah. Tapi karena anak kami alami penyakit perut membesar, terpaksa niat mengumpulkan uang untuk bangun rumah kandas dan pilihan dibulatkan untuk mencari dana pengobatan Farli,” ucap Indratmi.

Dia mengaku, pulang dari Malaysia tanpa membawa uang untuk pengobatan Farli. Karena yang yang dikumpulkan pas-pasan dan hanya cukup biaya pulang.

“Semoga ada yang mau membantu. Saat ini saya dan keluarga betul betul tidak memiliki biaya pengobatan Farli,” ungkapnya.

“Saya sangat sedih melihat Farli harus menahan rasa sakit. Sementara teman sebayanya bersuka ria pada momentum HUT RI,” pungkasnya. (YAN)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 209
    Shares
To Top