Peristiwa

Muhtin, Penyandang Cacat Juara O2SN, Mimpi Punya Kaki Palsu

Muhtin, atlet O2SN Kota Bima.

Kota Bima,  Bimakini.- Fisik yang tidak sempurna terkadang menjadi halangan orang untuk berkarya dan berprestasi. Tapi tidak dengan Muhtin, remaja 18 tahun yang tidak memiliki kaki kanan menjuarai ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN).

Remaja asl Kelurahan Oi Mbo ini tidak menjadikan kekurangannya sebagai hambatan berprestasi. Bahkan mampu mendulang emas dalam Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) nomor balap kursi roda 100 meter.

Bukan hanya sekali, dua tahun berturut-turut menggondol medali. Untuk meraih puncak prestasi tersebut, bukan hal mudah bagi anak ke delapan dari delapan bersaudara ini.

Awalnya mengenal olahraga adu kecepatan menggunakan kursi roda ini sejak di SLB Al Gifari, Kelurahan Kumbe. Guru memintanya mencoba kursiroda sekitar 2014 lalu. Alhasil, mampu melaju dengan cepat.

Melihat bakat tersebut dia, diminta untuk berlomba tingkat kota. Di luar dugaan ternyata berhasil menjadi tercepat. Sehingga mewakili Kota Bima pada lomba O2SN tingkat NTB.

Saat mengikuti event tingkat NTB, dia berhasil menggondol medali emas. Tapi ditingkat nasional remaja ini hanya berhasil menyabet perunggu.

Kemudian tahun 2015 dan 2016 dia kembali menyabet emas pada tingkat Provinsi. Tapi tingkat nasional hanya bisa meraih perak.

Kemudian di tahun 2017, Muhtin berhasil menyabet emas mulai dari tingkat Provinsi NTB hingga nasional. Hal yang sama juga terjadi tahun ini. Bahkan medali terbaru yang dia raih, yakni pada O2SN di Yogyakarta, 19 Agustrus lalu.

Bahkan dia mengaku pada lomba ini mampu meninggalkan lawan-lawannya cukup jauh. Terbukti berhasil menorehkan waktu tercepat yakni 24,70 detik. Sedangkan lawan-lawanya di atas 30 detik.

Apa yang dia lakukan ini dilatar belakangi kehidupan ekonomi keluarga di bawah garis kemiskinan. Sebab dia ingin mengubah hidup keluarganya dengan prestasi yang membanggakan. Apalagi 2012 lalu ibunya Ramlah, meninggal akibat tersambar petir.

Disamping itu, yang memotivasi dia, ingin memiliki kaki palsu. Sebab dengan kondisi ekonomi yang buruk, membeli kaki palsu itu sangat tidak mungkin, karena harganya mahal.

“Saya sangat ingin berjalan seperti remaja lainnya. Walau hanya menggunakan kaki palsu,” katanya.

Remaja yang berjalan dengan tongkat ini mengaku selama ini tidak pernah mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Dia hanya mendapat hadiah berupa uang tunai usai berlomba.

Sehingga dia sangat berharap adanya perhatian khusus dari pemerintah. Apalagi bermimpi ingin menjadi atlet nasional 100 meter balap kursi roda profesional. (DED)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top