Peristiwa

Catatan dr Akbar, Relawan Bencana Palu: Ada Foto Hitam Putih, Saya tak Sanggup… (3)

Di atas tanah ini saya berdiri, rasamya tak sanggup menahan keharuan, karena ribuan orang tertimbun hidu-hidup di bawahnya.

SEMPAT meneteskan air mata ketika menyaksikan Palu yang porak poranda dari kaca pesawat sebelum mebdarat di kota itu. Hari pertama tiba, langsung menangani pasien korban bencana. Tidak ada waktu untuk untuk rehat, karena relawan harus siap lahir dan batin untuk mengabdi kepada kemanusiaan.  Berikut lanjutan catatan dr Akbar, relawan bencana Palu, Sigi, dan Donggala.

SUARA sirene ambulan menemaniku saat ini sambil duduk termenung di teras masjid Sigi – Palu yang berada beberapa meter dari RS Lapangan BSMI.

Selasa, 16 Oktober 2018 tepatnya saat pelayanan kesehatan di RS Lapangan BSMI saya ditemani oleh dua orang dokter cantik dari Jawa Timur, yaitu dr Oliv dan dr Nilam. Mereka dokter-dokter yang berusia mudan serta energik.

Mereka memberikan pelayanan dengan ramah dan penuh humor, sehingga pasien mereka merasa nyaman dan tersenyum lepas seakan tidak ada beban. Sedangkan saat itu saya sedang mencoba berbaring untuk istrahat.

Baru saja mata ingin terlelap sesaat, saya dibangunkan oleh dr Idam yang saat itu bertugas sebagai Kepala Tim Medis di RS Lapangan BSMI.

Beliau meminta saya untuk menjemput pasien di Bandara Palu yang baru saja dievakuasi oleh TNI menggunakan helikopter. Penuh semangat saya bangun dan siap berangkat bersama ambulan Puskesmas Kaleke. Saat itu saya hanya ditemani oleh sopir ambulan yang bernama Pak Stefanus.

Dalam hitungan waktu beberapa menit kami langsung menuju Bandar Udara Palu sambil menyalakan sirene. Sekitar 20 menit tibalah kami di bandara dan langsung menuju landasan pacu.

Jembatan Kuning kebanggan Palu ini pun tinggal kenangan, setelah dilabrak tsunami.

Dalam landasan pacu terdapat beberapa helikopter yang parkir, kami pun bingung Helikopter mana yang membawa pasien tersebut.

Satu per satu kami mendatangi helikopter dan menanyakan keberadaan pasien yang dimaksud, akan tetapi tidak ada satupun saat itu Helikopter membawa pasien pasien tersebut.

Lalu kami merapat parkir ke bagian Rescue and Fire Fighter Bandara Palu, di sana kami bertemu Tim BNPB dan beberapa personel TNI.

 

Baca juga: Catatan dr Akbar, Relawan Bencana Palu: Sempat Menangis…

Baca juga: dr Akbar, Usai Lombok, Kini jadi Relawan Palu….

Baca juga: Mobil Pengangkut Bantuan BPBD Ditahan Polisi

 

Kami menanyakan keberadaan helikopter yang mengevakuasi pasien dan kami diminta untuk menunggu sejenak karena memang ada salah satu helikopter TNI yang akan mendarat membawa beberapa pasien. Dengan nafas lega kami duduk menanti kedatangan helikopter TNI tersebut.

Suasana Bandara Palu sangatlah sibuk oleh penerbangan pesawat hercules, helikopter dan beberapa pesawat komersial. Oh iya ada juga sejenis  pesawat hercules milik Malaysia dan USA juga loch…

Sembari menunggu kedatangan helikopter tersebut, kami berkomunikasi dan berkoordinasi singkat dengan BNPB dan Tim Rescue and Fire Fighter Bandara, terkait situasi terkini penanganan bencana di Palu.

Hanya beberapa menit setelah itu helikopter TNI mendarat membawa pasien, relawan medis dan beberapa orang warga dari daerah yang terisolir. Tampak dari jauh salah satu anggota TNI memberikan isyarat agar kami mendekat. Dengan sigap ambulan kami meluncur ke landasan helikopter tersebut.

Pasien yang dimaksud ternyata seorang wanita tua yang sudah tidak mampu berjalan dan harus kami angkat menggunakan tandu ke dalam ambulan. Pasien tersebut ditemani oleh enam orang kerabat. Selanjutnya kami mengantar pasien ke RS Palu terdekat.  Setelah mengantar pasien kami pun kembali ke menuju RS lapangan.

Selama dalam perjalanan saya bersama Pak Stefanus (sopir ambulan) bercerita tentang suasana kejadian saat terjadinya gempa dan tsunami. Dari cerita beliau tidak bisa saya bayangkan keadaan saat itu. Katanya saat itu hanya bisa pasrah terhadap keadaan. Suasana Kota Palu ketika itu ibaratnya sebuah kota mati, gelap gulita disertai dengan suara teriakan orang yang minta tolong akibat terjebak dalam runtuhan rumah.

Kemudian Pak Stefanus menawarkan diri untuk mengantarkan saya ke beberapa lokasi gempa dan tsunami.

Dengan nada lembut saya menjawab, “boleh juga pak,” kemudian ambulan diarahkan ke lokasi terdampak tsunami terlebih dahulu.

Setibanya di bibir Pantai Talise terlihat bangunan yang sudah hancur dan rata dengan tanah, bahkan beberapa kendaraan yang terseret tsunami masih dalam keadaan terbalik

Tampak beberapa kendaraan berat sedang melakukan pembersihan sisa material tsunami dan dibantu oleh puluhan TNI.

Saat melewati pesisir Pantai Talise saya melihat iring-iringan mobil pejabat yang berlambangkan bendera negara Malaysia yang dikuti oleh puluhan truk berisi bantuan untuk warga Palu.

Luar biasa bantuan yang datang dari luar daerah maupun luar negeri. Hal tersebut secara tidak langsung menyindir diri saya pribadi karena baru bisa hadir di Palu.

Tidak jauh setelah itu sampailah kami di Jembatan Kuning yang terlihat sudah rusak berat dan terputus. Tampak juga kendaraan berat sedang merubuhkan sisa-sisa bangunan Jembatan Kuning.

Pak Stefanus kemudian mengajak saya untuk melanjutkan ke lokasi yang terdampak gempa dan longsor. Perjalanan menuju lokasi tersebut ditempuh sekitar 30 menit. Sejenak kami mampir untuk makan siang dan menjalankan ibadah shalat Ashar.

Setelah mengisi tenaga kami lanjutkan perjalanan menuju lokasi gempa dan longsor. Selama perjalanan Pak Stefanus banyak sekali bercerita tentang keadaan anak dan istrinya saat terjadi gempa bumi. Ternyata lokasi gempa dan tanah longsor sangatlah dekat dengan rumah beliau.

Sesampainya di lokasi, ambulan kami parkir dekat dengan rumah Pak Stefanus, kemudian kami berjalan kaki sekitar 100 meter menuju lokasi tersebut. Baru berjalan beberapa puluh meter mata saya langsung ditampakkan pemandangan yang sangat menyedihkan.

Langkah kaki saya semakin cepat akan tetapi terasa lemah, mata saya disuguhi retakan jalan, patahan tanah, pohon-pohon tumbang. Dan kaki saya langsung terhenti saat melihat rumah-rumah hancur dan beberapa di antaranya hanya terlihat atapnya saja.

Selama ini pemandangan mengerikan tentang kejadian bencana alam, saya hanya bisa melihat melalui film dokumenter atau film-film box office.

Tapi ini benar-benar nyata di depan mata saya dan saya berdiri tepat di atas lokasi pemukiman yang tertimbun lumpur.

Di bawah kaki saya tampak pas foto hitam putih ukuran 3×4, seorang anak laki-laki berumur sekitar 15 tahun, yang mungkin merupakan salah satu korban dari bencana yang paling mengerikan tersebut.

Pak Stefanus terus berjalan jauh lebih dalam dan memanggil saya, “Dok ayoo liat di sini.” Akan tetapi saya menolak “Tidak pak, saya cukup di sini saja,” kata saya sambil memandangi pas foto tersebut dengan air mata yang hampir menetes.

Kemudian saya meminta Pak Stefanus membantu saya untuk merekam video singkat sebagai bahan laporan.

Tidak seperti biasanya di hadapan kamera Handphone lidah saya kaku dan lemah menceritakan keadaan di situ. Saya pura-pura menundukkan kepala untuk berusaha menahan meneteskan air mata, sambil berdo’a dalam hati

Yaa ALLAH…

Ampuni segala dosa mereka yang meninggal dunia…

Lapangkanlah kubur mereka…

Terangilah kubur mereka…

Dan janganlah engkau menyiksa mereka dalam kubur MU…

Matahari pun semakin tenggelam, saya pun mengajak Pak Stefanus untuk segera kembali ke RS. Lapangan BSMI.

Dalam perjalanan pulang saya lebih memilih berdiam diri dan merasa bersalah.

“Kenapa baru sekarang saya berada di sini???”

Dan akhirnya tibalah kami di RS. Lapangan BSMI.

 

Baca juga: Sembilan Tahun Menyimpan Dendam, Korban Dibacok Berkali-kali

Baca juga: Asyik Tidur, Diciduk, Sabu dan Senpi Ditemukan

 

Pak Stefanus pamit untuk pulang ke rumah kepada saya dan relawan lainnya.

Sambil menghelas nafas panjang saya menuju tenda IGD untuk mengambil perlengkapan mandi karena badan rasanya sudah beraroma tidak sedap heheheee…

Setelah mandi badan terasa segar, dalam hati kecil saya bertekad tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membantu secara maksimal warga Palu – Sigi khususnya.

Kemudian saya kembali bergabung dengan dr Oliv, dr Nilam, Perawat Shanti dan bidan Aida dalam tenda IGD.

Oh iya, saya lupa ternyata ada dr Jun yang merupakan dokter paling senior. Orangnya sangat supel dan humoris. Beliau kadang mengajak kami berdiskusi ilmu kesehatan, relationship bahkan politik. Ternyata kami beda pilihan terkait PILPRES 2019.

Oupss … Maaf saya tidak ingin bercerita tentang politik yaa heheheee…

Ternyata oh ternyata malam itu jadwal saya jada shift malam di IGD.

Lagi dan lagi pasien yang saya tangani hingga dini hari jam 03:15 sebagian besar mengeluhkan gangguan pencernaan (mencret, sakit perut, mual, muntah).

Mudah-mudahan hal ini tidak menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Bersambung…

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 175
    Shares
To Top