Peristiwa

Catatan dr Akbar, Relawan Bencana Palu: Saat Masuk Tenda, Lantai Berlumuran Darah  (4)

Bersama pasien dan korban gempa Palu.

UNTUK mengisi waktu luang, dr Akbar kembali mengeluarkan handphone untuk menulis perjalanannya di Palu. Tempat favoritnya yaitu Masjid An Nur Sigi – Palu. Berikut lanjutan catatannya khusus untuk pembaca Bimakini.com.

Sigi – Palu, 17 Oktober 2018

ALLAHU AKBAR…

ALLAHU AKBAR…

(Adzhan Subuh)

Seperti biasa saat adzhan Subuh dikumandangkan, relawan yang bertugas menjaga keamanan RS Lapangan BSMI selalu mengingatkan seluruh relawan untuk segera melaksanakan shalat dengan menggunakan pengeras suara.

Walaupun dalam keadaan ngantuk dan lelah, semua relawan senantiasa shalat berjamaah di Masjid An Nur yang terletak dekat dengan RS Lapangan BSMI.

Karena masih terasa ngantuk dan lelah setelah shalat Subuh, saya  kembali terlelap di dalam tenda IGD hingga langit tampak terang. Setelah selesai istrahat, saya bangun mengantri di kamar mandi seperti yang lainnya.

Untuk mengisi waktu luang kembali seperti biasa saya mengeluarkan handphone untuk kembali menceritakan perjalanan saya di Palu di tempat favorit saya yaitu masjid An Nur Sigi – Palu. Tiba-tiba saya teringat waktu shalat Dhuha, kemudian bergegas mengambil air wudhu.

Merasa agak jenuh saya kembali ke RS Lapangan BSMI. Tampak dr Oliv dan dr Nilam sedang sibuk melayani pasien. Saat itu juga terdapat dua orang pasien hamil yang ditangani oleh Bidan Aida, salah satunya adalah ibu hamil yang mengalami kehamilan lewat bulan (Post Date) disertai anemia. Ada ibu hamil lainnya tampak kesakitan seperti mau melahirkan. Melihat mereka sibuk dengan pasien, saya keluar dari tenda IGD dan melakukan aktivitas bersama relawan lainnya.

Depan tenda apotek tampak dua relawan sedang melepas ban mobil ambulan yang pecah. Saya pun mendekati mereka dan menawarkan diri, “ada yang bisa saya bantu broo?”

Ternyata mereka belum membutuhkan bantuan tenaga saya.

Saya lanjut berjalan menuju mobil Dapur Umum BSMI yang berjarak hanya beberapa langkah dari mobil ambulan tersebut.

Tatapan saya langsung menuju pada rentetan minuman sachet di jendela Mobil Dapur Umum BSMI. Alhamdulillah yang saya cari ternyata masih ada yaitu minuman herbal Bajigur yang dibawa oleh teman-teman dari BSMI Bali. Tanpa rasa malu saya meminta tolong sama Mas Rio (BSMI Bali) yang sedang sibuk menyiapkan makanan bagi seluruh relawan BSMI untuk membuatkan  Bajigur hangat dua gelas sekaligus heheheee…

 

Baca juga: Catatan dr Akbar, Relawan Bencana Palu (3)

 

Saya jadi ketagihan minum Bajigur hangat tersebut. Karena khasiatnya benar-benar bagus bagi stamina saya. Eeiits… Bukan pesan sponsor loch wkwkwkkk… Minuman tersebut saya bawa ke dalam tenda IGD dan saya habiskan sendirian.

Saat saya masuk ke tenda IGD lantai berlumuran darah. Ternyata pasien hamil yang menangis kesakitan tadi sudah melahirkan.

Dengan spontan saya bertanya kepada Bidan Aida di balik tirai tempat persalinan, “Sudah lahiran yaa… Anaknya ikhwan atau akhwat?” Bidan Aida menjawab, “Cewek dok.”

Alhamdulillah ibu tersebut melahirkan seorang anak perempuan cantik dengan berat badan sekitar tiga kilogram. Secara perlahan saya masuk ke dalam tenda IGD yang penuh dengan darah yang berceceran di lantai.

Poster empat mahasiswa yang hilang.

Tiba-tiba Bidan Aida membuka sedikit tirai ruang persalinan, “Dok hati-hati jalannya, lantainya penuh darah,” ungkapnya.

Pelan-pelan saya pun melangkah ke dalam tenda IGD.

Di meja pemeriksaan saya hanya melihat dr Oliv seorang diri sedang memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien lainnya. Begitu melihat saya dr Oliv langsung menyapa saya, “Dok, saya tinggal bentar yaa.”

Saya menjawab, “Okey tinggal aza…” Sayapun menggantikan posisi dr Oliv. Berhubung keadaan IGD bagian dalam banyak darah, pasien saya arahkan ke bagian dekat pintu masuk tenda IGD untuk melanjutkan pelayanan kesehatan.

Baru melayani sekitar lima pasien, Bidan Aida kembali memanggil dari dalam tirai “Dok… Ada dr Oliv atau dr Nilam tidak?” saya menjawab, “Ndak ada, hanya saya sendiri.”

Aida kembali bertanya, “bisa bantuin saya menangani pasien ini ndak dok?” Saya pun bergegas ke dalam ruang persalinan, ternyata pasien masih mengalami perdarahan. Saya mencoba mencari sumber perdarahan dengan menggunakan alat seadanya. Dalam waktu yang bersamaan saya meminta Aida untuk segera pasang infus agar pasien tidak kekurangan cairan. Hampir sekitar sepuluh menit saya masih kesulitan menghentikan perdarahan. Kemudian datanglah Bidan Ana, dr Nilam dan dr Oliv dengan membawa bayi yang baru lahir tersebut. Mereka pun langsung membantu saya dan mengambil semua perlengkapan medis lainnya.

Berkat kerjasama tim yang baik akhirnya kami menemukan sumber perdarahan yang terdapat di dalam jalan lahir pasien. Perdarahan pasien tersebut disebabkan oleh robeknya bibir mulut rahim atau yang kami sebut dengan Laserasi Porsio. Berhubung peralatan kami kurang lengkap maka kami memutuskan untuk merujuk pasien tersebut ke RS terdekat agar bisa tertangani dengan lebih baik.

Sambil menunggu persiapan rujukan kami terus memantau keadaan ibu dan bayinya. Alhamdulillah sebelum dirujuk pasien masih dalam keadaan stabil.

Oh iya lagi-lagi saya lupa masih ada satu pasien ibu hamil lagi yang ikut dirujuk juga. Ambulan pun siap berangkat untuk merujuk pasien ke RS terdekat yang didampingi oleh Bidan Aida.

Waktu adzan Maghrib pun dikumandangkan, kami bergegas ke masjid memenuhi panggilan Allah SWT.

Malam terus berjalan…

Suasana RS Lapangan BSMI semakin ramai dikunjungi warga untuk datang berobat, mengunjungi keluarga yang sedang opname, atau meminta bantuan logistik.

Bahkan ada beberapa mahasiswa yang mencari informasi tentang teman-temannya yang masih belum ditemukan sejak bencana hingga saat ini.  Itulah yang terjadi pada hari ini…

Bersambung…

Share
  • 224
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top