Connect with us

Ketik yang Anda cari

Pendidikan

Gempa, Siswa SDIT Insan Kamil Ujian di Teras Sekolah

Siswa SDIT Insan Kamil saat ujian di teras sekolah usai gempa, Selasa.

Kota Bima, Bimakini.- Gempa yang  terjadi di wilayah Samudera Hindia Selatan Bali-Nusa Tenggara dirasakan hingga Bima,  Selasa (2/10). Bahkan, siswa SDIT Insan Kamil yang sedang ujian, keluar dan melanjutkan di teras sekolah.

Kepala SDIT Insan Kamil, Erni Juhaenah mengatakan, saat itu sedang memantau ujian dari kelas ke kelas. Saat tiba di kelas lantai dua, guru-guru merasakan gempa yang cukup lama.

Mengantisipasi adanya gempa susulan, kata dia, siswa  di lantai dua, melanjutkan ujian di teras sekolah. Sementara siswa di lantai satu tetap dalam kelas.

“Siswa sedang ujian mide semester I tahun pelajaran 2018/2019 saat gempa terjadi,” ujarnya pada BimaEkspres.

Erni juga mengecek informasi tentang gempa di aplikasi BMKG, rupanya gempa keempat yang dirasakan hingga Bima. Biasanya, usai ujian siswa tetap berada di sekolah untuk melaksanakan shalat zuhur berjamaah.

“Karena waktunya masih lama, orang tua murid dihubungi untuk menjemput anaknya lebih cepat usai ujian,” ujarnya.

Tidak hanya siswa SDIT Insan Kamil yang merasakan adanya gempa, namun sekolah lain. Bahkan di MIN Kota Bima, siswa dipulangkan lebih awal usai gempa terjadi.

Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Agus Riyanto dalam rilisnya menyampaikan, gempa Selasa, 2 Oktober 2018, tejadi di wilayah Samudera Hindia Selatan Bali-Nusa Tenggara mengalami empat kali gempabumi pada pukul 07.12.03 Wita, 07.27.08 Wita, 07.59.44 Wita dan 08.16.47 Wita. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki kekuatan M=5,2 M=5,3 M=5,9 dan M=6,0 (setelah pemutakhiran).

Episenter gempabumi pertama terletak pada koordinat 10,65 LS dan 120,18 BT. Episenter gempabumi kedua terletak pada koordinat 10,54 LS dan 120,20 BT, episenter ketiga terletak pada koordinat 10,60 LS dan 120.20 BT, dan episenter keempat 10.52 LS 120.18 BT dengan kedalaman 21 km arah selatan Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter pada keempat gempabumi tersebut, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia menyusup di bawah Lempeng Eurasia,” jelasnya.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Dijelaskannya, hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi di wilayah Samudera Hindia Selatan Bali-Nusa Tenggara ini, dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar naik (Thrust Fault).

Guncangan gempabumi yang pertama dilaporkan dirasakan di Waingapu dengan skala intensitas II SIG-BMKG (II-III MMI), kemudian guncangan gempabumi yang kedua dilaporkan dirasakan di Waingapu dengan skala intensitas II SIG-BMKG (III MMI), guncangan gempabumi ketiga dirasakan di Waingapu dan Tambolaka II SIG-BMKG (IV MMI). Guncangan gempabumi keempat dirasakan cukup kuat antara lain di Baing III SIG-BMKG (VI MMI), Haharu II SIG-BMKG (V MMI), Waingapu II SIG-BMKG (IV MMI), Nihiwatu, Tambolaka dan Waikelo II SIG-BMKG (II-III MMI), serta Bima dan Dompu II SIG-BMKG (III MMI).

Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi tidak berpotensi tsunami. Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. (YAN)

Share
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Peristiwa

Kota Bima, Bimakini.- Gempa bumi tektonik terjadi Ahad (2/5) sekitar pukul 14:36:05 WITA, di wilayah Bima, NTB. Hasil analisa BMKG menunjukkan bahwa gempabumi ini...

Berita

HARI sudah beranjak siang. Murid Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insan Kamil Kota Bima, bahkan sudah keluar main. Pagi ini saya ingin memenuhi janji,...

Pendidikan

Kota Bima, Bimakini.- Guna menambah wawasan keislaman anak mengenai rukun Islam yang kelima, TKIT Insan Kamil, Kota Bima, kembali menggelar kegiatan manasik haji, Sabtu...

Peristiwa

PADA bagian pertama, dr Akbar telah mengisahkan perjalanannya menuju Palu. Berikut lanjutannya, yang ditulis dengan gaya bertutur. Palu, 16 Oktober 2018 Hari Senin kemarin...