Opini

Detik-Detik Pesta Pilkades

Oleh: Faisal Alfarabi

ilustrasi

Sadar atau tidak disadari, bahwa politik sudah terkontaminasi dengan kehidupan masyarakat saat ini. Doktrin politik secara komprehensif sudah menjalar kesaraf otak masyarakat, dengan pesat nya kemajuan zaman yang serba instan, hal-hal yang tidak terjangkau dengan mudah dapat terjangkau oleh masyarakat.

Termasuk pesta demokrasi yang tengah dipertontonkan diberbagai media dan redaksi surat kabar, dengan pengetahuan yang diterima oleh masyarakat semoga dapat menciptakan suasana pemilihan yang kondusif aman dan damai. Perlu kiranya kita sadari bersama bahwa desa adalah embrio bagi terbentuknya masyarkat politik di Indonesia, dan juga basis bagi terbentuknya demokrasi bangsa. Salah satunya ditujukan melalui aktivitas pemilihan kepala desa (PILKADES).

Pilkades tidak semata diartikan sebagai perebutan kekuasaan untuk menduduki kursi kepemimpinan didesa, ataupun Pilkades tidak juga diartikan sebagai tonggak untuk memperluas ekpansi politik yang akan datang. Akan tetapi sepatutnya kita sadari bersama bahwa pilkades menyangkut harga diri dan kehormatan, sehingga bagi masyarakat desa pilkades lebih emosional dan rasional dibandingkan dengan pemilu lainnya.

Dimaklumi bersama bahwa pilkades tidak sesederhana apa yang kita bayangkan, sama halnya dengan Pilpres, pilkada gubernur, pilkada bupati dan pemilu legislatif. Pilkades pun adalah ajang pemilu yang tak biasa, didalamnya berimplikasi tentang banyak hal mengenai hajat hidup dan kepentingan orang banyak. Ajang pilkades pula adalah ajang yang bersentuhan langsung dengan orang-orang terdekat, artinya dalam hal ini masyarakat dapat dengan mudah mengenal, memilih dan memilah mana figure yang layak untuk diangkat sebagai pemimpin.

Dalam ajang pilkades serentak di berbagai lingkup daerah, termasuk di Bima (kampung halaman), dilansir dari redaksi media Bimakini dari pernyataan bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri terdapat 52 desa yang akan mengadakan pesta demokrasi pada desember ini.

Tidak lama lagi ajang pilkades akan dilaksanakan, berbagai usaha dilakukan untuk menggait suara masyarakat, ada yang melakukan pendekatan persuasif dengan masyarakat, mengadakan sosialisasi kelompok dengan menawarkan inovasi-inovasi baru yang membangun, serta menjanjikan untuk memakmurkan desa ketika terpilih, dan lain sebagainya. Hal-hal semacam ini adalah tindakan yang normal dalam berkampanya. Namun kita sadari bersama bahwa terkadang ada calon yang memakai sistim money politic untuk menggait suara.

Dan menurut pribadi ini tindakan premis yang tidak seharusnya terpikirkan dan dilakukan, pasalnya hal demikian akan menjadikan para calon harus mengeluarkan biaya yang begitu besar, persaingan sehat yang diharapkan juga tidak akan berjalan semana mestinya. Dan jika hal demikian yang terjadi usaha penghapusan KKN ( Korupsi, Kolusi dan Nepotisme ) akan sangat sulit untuk diwujudkan, dan tentu muaranya akan berimplikasi kepada desa yang begitu-begitu saja, yang tidak sesuai dengan ekspektasi masyarakat.

Tidak semua pengorbanan harus diukur dengan kontribusi uang. Kalau budaya money politic di tingkat desa bisa dikikis, tentu sedikit demi sedikit di tingkat yang lebih atas hingga pemilihan presiden akan dapat diwujudkan proses pemilihan dan pelaksanaan pemerintahan yang jujur dan adil. Dan sebagai masyarakat yang sadar sepatutnya kita sama-sama hindari prilaku politik yang mengarah kepada hegemoni politik yang justru seringkali menggunakan cara-cara represif ini, yang pada akhirnya akan mematikan aspirasi dan ekspektasi masyarakat.

Dalam hal ini pribadi menekankan untuk dikonsumsi bersama, animo masyarakat yang berharap ada kemajuan disetiap periode kepemimpinan semoga dapat di amini oleh para bakol calon, sesuai dengan visi misi yang telah diutarakan didepan khalayak umum. Namun hemat pribadi bahwa sosialisasi

program atau visi misi bukan lah yang dijadikan tolok ukur untuk menarik suara. Melainkan pendekatan persuasif juga modal perilaku dalam keseharian bersama masyarakat.

Pentingnya menanam modal prilaku baik tentu akan memetik hasil yang baik pula, artinya begitu pentingnya menjaga tali silaturahim dengan sesama. Namun menarik, dalam ajang pilkades ini terdapat dua sisi yang saling berkontradiksi. Hal pertama yang bisa dipetik dalam ajang pilkades bahwa masyarakat akan saling bahu membahu dalam hal menyuseskan pesta demokrasi ini, tentunya desa akan semakin ramai dan juga pendekatan emotional dengan sesama akan semakin terbangun. Dan tidak segan-segan berbalik arah dari hal yang pertama, ajang pilkades pula tidak luput dari tindakan kontroversi dari masing-masing yang bersangkutan, dan masyarakat pun akan terkontaminasi dengan saling musuh bermusuhan ini.

Pasalnya tidak jarang ditemukan adanya persaingan dari bakal calon yang berujung permusuhan, yah namanya kompetisi tidak jauh dari pro dan kontra, semacam itulah praksis kehidupan bermasyarakat. Dan harapan bersama pilkades dikabupaten Bima berjalan semana mestinya, aman damai dan menjunjung tinggi entititas demokratis. Dan harapan itu akan tercapai jika para bakal calon dan juga masyarakat dapat mengontrol diri, terlebih lagi untuk para panitia pilkades sebagai indikator esensi terselenggranya pilkades dengan lancar, sebab mereka yang berwewenang dalam menjaga kestabilan dan mengatur lancarnya suasana pilkades hingga hari H.

Pada akhirnya pascapilkades, terpilihnya seorang kepala desa baru hendaknya mampu memberikan konstribusi optimal dan signifikan terhadap perbaikan kualitas pemerintahan dan kesejahteraan masyarakat, dan juga tak lupa disampaikan untung lebih teliti mendesain birokrasi pemerintahan desa agar dapat berkoordinasi dengan baik selama periode kepemimpinan. Masa lalu dapat dijadikan tolok ukur untuk meningkatkan kualitas desa di hari esok dan hari-hari yang akan datang.

Semoga slogan maja laba dahu yang menjadi konsensus para petuah-petuah terdahulu dapat terpatri dalam sanubari kita semua hingga runtuhnya dunia ditangan yang maha kuasa. Aamiin ya rabbal alamin.

Semoga coretan singkat ini dapat bermanfaat dalam menjalankan kondusifitas Pilkades yang tidak lama lagi akan di gulirkan kembali di dana mambari.

Wallahu alam bishawab. (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 32
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top