Pendidikan

Gunakan Absen Sidik Jari, Siswa SMPN 1 Lebih Disiplin dan Religius

Tiga mesin finger print yang ditempel di dinding mushala untuk absensi siswa sesuai tingkatan kelas.

Kota Bima, Bimakini.- Ada hal menarik di Mushala SMPN 1 Kota Bima. Disana terlihat ada tiga mesin finger print yang menempel di dinding luar mushala.

Pada jam datang dan pulang sekolah, siswa akan mengantri untuk absensi sidik jari sesuai dengan tingkatan kelas.

Di tahun ajaran baru 2018/2019 ini, SMPN 1 Kota Bima sudah mulai menerapkan absensi sidik jari bagi para siswanya. Ini merupakan terobosan dan untuk wilayah Bima, SMPN 1 bisa dikatakan satu-satunya yang menggunakan mesin finger print untuk kegiatan absensi siswa.

Menurut Kepala SMPN 1 Kota Bima, Hj Nurmah, MPd, alasan diterapkannya absensi sidik jari ini, agar lebih mudah  memonitor kehadiran siswa dan meningkatkan kedisplinan siswa.

“Kalo dulu sebelum adanya mesin, yang terlambat disana itu (yang ditahan di gerbang sekolah, red) bisa dibilang 30-40 orang lah. Tapi sekarang kan ngga ada lagi” ujarnya, Sabtu (12/1).

Dia menjelaskan, adanya mesin finger print ini, waktu datang dan pulang siswa dapat terekam dan terkoneksi dengan server sekolah. Selanjutnya di print out setelah pulang sekolah.

Selanjutnya, kata dia, akan dievaluasi perpekan oleh tim manajemen sekolah dan dilaporkan ke Wali Kelas, serta ditindaklanjuti oleh Guru BK. Tim manajemen sekolah nantinya akan memonitor 4 mesin finger print (3 untuk absensi siswa, 1 untuk absensi guru dan karyawan) serta CCTV yang ditempatkan di 18 titik di sekolah.

Masih menurutnya, ditempatkannya mesin finger print ini memang memiliki alasan khusus. Ini mengacu pada branding sekolah yang religius, sehingga nuansa dan kegiatan sekolah lebih diarahkan ke hal-hal yang bersifat keagamaan. Salahsatunya memfokuskan kegiatan di musala sekolah, sehingga musala terlihat menggeliat.

Diharapkan nilai-nilai keagamaan dapat lebih tertanam ke jiwa para siswa. “Pagi-pagi para siswa sudah melihat masjidnya. Kalo tidak ada guru ataupun gurunya terlambat, langsung dia salat. Salat duha itu sudah menjadi rutinitas mereka” ungkapnya.

Dia mengakui, memang banyak pihak yang pesimis dengan diberlakukannya kebijakan ini. Karena sebelumnya tidak ada yang berani menerapkan, menimbang banyaknya kendala yang akan terjadi lapangan, seperti antrian panjang para siswa saat absen dan mesin yang cepat rusak.

Namun hal itu tidak menyurutkan niat kepsek yang telah memimpin SMPN 1 Kota Bima sejak tahun 2016 yang lalu ini.  “Tapi Alhamdulillah, aman-aman aja. Biasanya para siswa datang jauh lebih awal. Jam 6 mereka sudah standby. Sehingga jarang yang datang di atas jam 7,” pungkasnya. (YUM)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 361
    Shares
To Top