Opini

Hidden Paradise Bernama Bima yang Belum Teroptimalkan

(Sebuah Catatan Awal Tahun)

Oleh: Pietra Rezana Wibisono, SP

Foto dok: Satu di antara sudut pesona pantai Torombala di Kecamatan lambu.

Berbicara mengenai pariwisata di Indonesia tidak ada habisnya untuk dibahas. Indonesia memiliki daerah dengan wisata yang tidak habis-habisnya dikunjungi oleh wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Indonesia dengan berbagai ragam budaya dan keindahan laut , pegunungan serta dipisahkan dengan ribuan pulau mampu menghadirkan tempat – tempat wisata yang dicari dan diminati para traveller. Indonesia termasuk salah satu Negara yang masuk kategori wisata yang paling dicari di dunia bahkan Bali menjadi peringkat 1 destinasi wisata terbaik di dunia mengalahkan Paris Perancis menurut TripAdvisor yang merupakan Situs Travel planning and booking.

Seperti dilansir oleh situs tempo travel (07/03/2018) Bali dinobatkan sebagai pemenang penghargaan travellers Choice  untuk kategori  destinasi terbaik di seluruh dunia di setiap Negara. Namun tujuan pariwisata di Indonesia bukan hanya Bali saja, ada harta karun pariwisata tersembunyi di  wilayah timur Nusa Tenggara Barat bernama Bima.

Saat ini pemerintah pusat menargetkan sektor pariwisata unggulan dan penyumbang devisa terbesar dengan target UU$ 20 miliar. Ada 10 destinasi pariwisata prioritas atau 10 Bali baru yang diperkenalkan pemerintah Indonesia di Austria pada acara pameran wisata Ferien Messe 2018 yang digelar di Messe Wien, Wina Austria pada tanggal 11-14 Januari 2018 lalu, salah satu dari 10 destinasi tersebut adalah Labuhan Bajo yang terletak di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terletak dekat dengan Bima sebagai perbatasan antara propinsi NTB dan NTT.

Salah satu motivasi untuk mendongkrak pariwisata adalah Bima melalui Pelabuhan Sape menjadi pintu gerbang menuju Labuhan Bajo. Para traveller yang akan berangkat kesana akan transit melalui Bima dan diharapkan setelah lepas berkunjung ke NTT untuk berwisata ke Labuhan Bajo maupun Pulau Komodo tidak langsung kembali ke Bali ataupun Lombok namun juga singgah dan berkunjung ke Bima.

Hal ini menjadi kesempatan pemerintah Kabupaten Bima buat memaksimalkan potensinya untuk mengangkat wisata yang ada seperti wisata budaya, wisata religi, wisata alam dan wisata sejarah sehingga menjadi tambahan pendapatan asli daerah melalui pajak dan retribusi yang didapat. Selain itu wisata budaya dan alam Bima telah dikenal melalui program yang pernah tayang di televisi swasta nasional seperti acara si Bolang yang mengambil syuting di daerah Wawo, MTMA (My Trip My Advanture) yang syuting di Pantai Kalaki, Tambak Garam di Kecamatan Woha, Bajo Pulo di Kecamatan Sape serta program Ethnic Runaway yang mengambil syuting di Desa Sambori Kecamatan Lambitu.

Pada wisata sejarah dijelaskan bahwa Kota Bima merupakan pusat Kesultanan Bima di masa lampau. Bukti sejarah ini bisa dilihat dari Istana Kesultanan yang sekarang beralih fungsi menjadi Museum Asi Mbojo, disana bisa belajar tentang sejarah kehebatan Kesultanan Bima dalam memimpin pemerintahan selain itu di Kota Bima terdapat masjid bersejarah yang bernama Masjid Sultan M. Salahuddin.

Potensi pariwisata yang ada di Bima cukup besar, salah satu indikatornya bisa dilihat dari jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Bima dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Data BPS Kabupaten Bima tahun 2018 yang bersumber dari Dinas Pariwisata Kabupaten Bima tahun2017 menunjukkan jumlah wisatawan asing yang datang ke Bima melalui pintu masuk Bandara Sultan Salahuddin sebanyak 5.359 orang mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 4.758 orang atau mengalami peningkatan sebesar 12,63 persen selain itu data wisatawan domestik yang berkunjung Ke Kabupaten di BPS Kabupaten tahun 2018 yang bersumber dari Dinas Pariwisata Kabupaten tahun 2017 sebanyak 82.301 atau mengalami peningkatan sebesar 6,5 persen.

Dari data tersebut dapat dilihat animo wisatawan untuk berkunjung ke Bima dari tahun ke tahun semakin bertambah. Peluang ini mesti ditangkap oleh Pemerintah setempat apalagi Bima memiliki sarana transportasi yang menunjang sebagai pintu gerbang membuka potensi masuk wisatawan datang seperti Bandara Sultan M.Salahuddin, Pelabuhan Bima dan Sape, Terminal Tente serta Terminal Dara.

Data resmi yang dirilis oleh BPS Kabupaten Bima tahun 2018 yang bersumber dari data Dinas Pariwisata Kabupaten Bima jumlah Obyek Wisata sebanyak 10 Obyek Wisata di Kabupaten Bima. Sebenarnya masih banyak lagi obyek wisata yang belum tercatat seperti Pantai Rontu dan Pantai Wane di Kecamatan Monta,, Air Terjun Kalemba di Kecamatan Langgudu dan masih banyak lagi hidden paradise di Bima yang wilayahnya masih perawan untuk dijelajahi.

Penulis melihat, beberapa permasalahan yang dihadapi untuk mengembangkan dan memajukan pariwisata yang ada di antaranya terdapat 3 faktor yaitu faktor keamanan, insfratruktur yang belum memadai dan marketing/promosi yang belum optimal untuk mengenalkan Bima kepada khalayak luas. 1) Keamanan dan kenyamanan suatu daerah wisata dapat menentukan pada pariwisata yang berkelanjutan sebab sektor pariwisata merupakan industri yang sangat sensitif terhadap isu dan gangguan keamanan. Gangguan keamanan disini seperti pertikaian antar kampung dan pemalakan di tempat sepi yang ada di daerah wisata . 2) Infrastruktur yang memadai dan fasilitas pendukung lainnya yang layak seperti tempat duduk, toilet dan tempat berteduh dapat menarik para wisatawan untuk berkunjung ke suatu daerah wisata.

Data panjang jalan yang tersaji di BPS Kab. untuk Infrastruktur jalan yang bersumber dari Dinas PU Kab./Kota Bima menyebutkan bahwa sekitar 50, 99 % kondisi jalan di Kabupaten Bima berada dalam kondisi rusak dengan perincian 12, 77 % rusak ringan dan 38, 22 % rusak berat. Sektor pariwisata akan berkembang apabila daya dukungnya seperti infrastrukturnya dilaksanakan dengan optimal. Banyak obyek wisata yang ada di Bima memiliki daya tarik tinggi namun belum didukung infrastruktur yang memadai seperti akses ke jalan raya tersebut masih buruk serta belum adanya hotel dan restoran yang dan layak yang bisa dijumpai di tempat wisata tersebut.

Saat ini pilihan hotel yang banyak hanya terdapat di Kota Bima 3) Faktor penentu ketiga yang juga sangat penting untuk dilihat adalah faktor promosi/marketing, suatu produk bagus dan berkualitas yang dijual dalam hal ini sektor pariwisata akan menjadi sia-sia apabila minim promosi. Nilai jual dan beli suatu produk bisa meningkat dengan menerapkan jaringan promosi yang lebih luas dan efisien.

Berbagai macam langkah yang dapat ditempuh untuk mengatasi permasalahan yang dapat menghambat  potensi pariwisata Bima yang luar biasa indah yaitu 1) Membentuk sinergi dan kerjasama yang apik antara pemangku kepentingan dan aparat keamanan, pemangku kepentingan ini mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Memberdayakan awig-awig atau peraturan desa untuk mengontrol keamanan wilayahnya. Bimbingan dan pendampingan yang difasilitasi pemerintah daerah yang berkolaborasi dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat agar sama-sama menjaga lingkungan dan keamanan bersama supaya ditanamkan didalam pola pikir masyarkat. Adanya potensi pariwasata yang dikembangkan di suatu desa akan membentuk lapangan kerja baru yang dapat menambah pendapatan masyarakatnya seperti adanya desa wisata dimana masyarakat dapat menyewakan tempat tinggal mereka apabila wisatawan berminat untuk menginap, selain itu dapat membuka warung makan maupun menjual produk kerajinan yang khas. 2) pemerintah daerah dapat membenahi infrastruktur dengan bekerjasama pemerintah desa melalui mengoptimalkan dana desa untuk memperbaiki kondisi jalan yang rusak, pembenahan listrik dan telekomunikasi agar mudah mengakses informasi, akses dari jalan raya menuju tempat wisata mesti dipermudah dengan penyediaan lebih banyak angkutan desa maupun ojek agar tidak mengalami kesulitan dalam transportasi. 3) Promosi tidak selamanya berbentuk iklan di media cetak maupun elektronik. Media sosial saat ini sangat berperan besar dalam memberikan pengaruh informasi, hal ini bisa ditangkap dengan jeli untuk menjadi media promosi yang murah meriah. Data BPS Kabupaten Bima menunjukkan bahwa 74,73 % rumah tangga di Kabupaten Bima sudah menggunakan HP, Laptop, tablet dan 21,63 % sudah bisa mengakses internet.

Pemerintah Daerah bersama komunitas pemuda yang peduli dengan pariwisata Bima dapat bersinergi membentuk wadah untuk menyalurkan informasi mengenai keindahan yang terpancar di Bima. Apalagi trend konsumsi masyarakat saat ini berubah dari konsumsi ritel menuju konsumsi travel yang mana media sosial seperti facebook, instagram, telegram, whatsapp menjadi wadah buat mengekspresikan diri melalui selfie yang secara tidak langsung dapat menjadi ajang promosi. Promosi yang ditawarkan tidak hanya tempat wisatanya saja akan tetapi dapat berupa budaya setempat, makanan khas, fashion serta gaya hidup.

Diharapkan pengembangan potensi pariwisata yang berkesinambungan selain dapat meningkatkan kesejahteraan warga, pembukaan lapangan kerja baru serta peningkatan pendapatan daerah juga sebagai kesadaran untuk melestarikan alam, melestarikan budaya dan menjaga sejarah. (*)

Penulis adalah Fungsional Statistik Ahli Pertama BPS Kabupaten Bima

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 481
    Shares
To Top