Politik

Mahasiswa Harus Jaga Pemilu Agar Jurdil

Diskusi Kepemiluan yang diadakan BEM STIT Sunan Giri Bima, Selasa.

Kota Bima, Bimakini.- Saat ini memasuki tahun politik. Dinamika politik di media sosial terus saling berebut simpati.  Menebar hal-hal baik menjadi keharusan, jika ingin menang.

Hal itu disampaikan  Ketua STIT Sunan Giri Bima, Syuki Abubakar, MAg, saat Diskusi Kepemiluan yang diadakan BEM, Selasa (8/1).

Untuk itu, dia mengajak agar mahasiswa dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan baik. Seperti fungsi agen kontrol sosial, agen perubahan. Serta menjadi agen penjaga nilai yang berkembang dalam masyarakat, yakni kejujuran, integritas.

“Salah satu tugas mahasiswa dalam Pemilu adalah memastikannya dapat berjalan Jurdil,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Bawaslu Kota Bima, Muhaemin, SPdI mengatakan, Pemilu adalah sarana kedaulatan rakyat yang harus dilaksanakan secara Jurdil. Karena rakyat yang menjadi penentu siapa pemimpin kedepannya.

Sementara Bawaslu sendiri, bertugas untuk mengawasi tahapan, penyelenggara da peserta Pemilu. Namun, karena minimnua personel, maka dibutuhkan peran serta masyarakat menjadi pengawas partisipatif.

“Termasuk mahasiswa dapat terlibat sebagai pengawas partisipatif,” ujarnya.

Saat ini, kata dia, rasio partisipasi pemilih dengan kesadaran ikut mengawasi masih jauh. Hingga kini, Bawaslu sendiri belum menerima laporan  dari masyarakat akan adanya dugaan pelanggaran Pemilu.

Untuk itu, dia mengajak  mahasiswa STIT  Sunan Giri Bima terlibat mengawasi pemilu. Jika menemukan ada indikasi pelanggaran, maka dapat melaporkannya. “Minimal memberikan informasi awal kepada Bawaslu,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Rumah Cita, Muhammad Yunus, SPd mengatakan, pendidikan politik menjadi satu keharusan. Karena dapat meningkatkan kualitas pemilih dan kesadaran dalam berpolitik. “Pemilu itu bukan hanya bicara persentasi atau angka, namun terpenting kualitasnya,” ujarnya.

Dia juga mengajak mahiswa siap mengawal Pemilu 2019. Menjadi motor penggerak dalam mengawal Pemilu yang berkualitas.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi BimaEkspres, Sofiyan Asy’ari, mengatakan, Hoax mudah menyebar, karena rendahnya penyaringan informasi, terutama di media sosial. Banyak yang menyebarkan konten-konten Hoax tanpa menelitinya. “Kadang langsung membaginya, tanpa mengecek link berita itu, apakah benar judulnya sama dengan isi,” ujarnya.

Dimomentum politik seperti ini, kata dia, banyak Hoax yang sengaja diproduksi, untuk menggiring opini publik. Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai, seperti kepentingan politik dan mendapatkan uang. “Jadi ada konten yang sengaja membuat judul provokatif, harapannya agar linknya dibuka dan isinya di dalam dipenuhi iklan. Ini tujuannya untuk mendapatkan uang,” terangnya.

Jika ada konten yang provokatif, maka sebaiknya tidak langsung percaya. Namun memverifikasinya dengan melakukan pencarian, apakah disitus lain, atau portal ternama, memuat hal tersebut. “Jika tidak muncul dalam situas lain, apalagi  media online ternama, maka dipastikan itu Hoax,” ujarnya.

Pun jika ada berita yang discreanshot dari media ternama, juga tidak langsung percaya. Karena bisa saja diedit. “Jika ada screenshot berita yang dibagikan, maka buka situsnya dan cek, apakah ada berita seperti itu,” pesannya.

Hoax sendiri muncul dan menyebar luas, karena adanya misinformasi. Yakni  informasi yang salah, namun orang yang menyebarkannya menganggap benar. Kemudian, ada disinformasi, yakni informasi yang salah,  orang mengetahuinya salah, namun tetap menyebarkannya. (IAN)

()

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 30
    Shares
To Top