Peristiwa

Warga Wawo Antisipasi Anjing Gila

ilustrasi

Bima, Bimakini.- Sepekan terakhir, informasi mengenai bahaya penyakit akibat digigit anjing gila terus disuarakan dari berbagai masjid dan mushalla di Kecamatan Wawo. Camat Wawo, Drs Aidin dan jajaran hingga aparat desa, Puskesmas Wawo, hingga tetua adat rapatkan barisan untuk mengantisipasi eksodurnya anjing gila di Wawo khususnya dan Kabupaten Bima umum.

Apalagi, isu yang berkembang bahwa diduga ada truk yang membuang puluhan ekor anjing di sekitar kawasan hutan di Kecamatan Wawo. Bahkan, Jumat (15/2), Camat Wawo, beberapa kepala desa, jajaran Puskesmas Wawo menggelar pertemuan di Puskesmas Wawo terkait masalah gigitan anjing liar yang menelan korban di Kabupaten Dompu sebulan terakhir hingga menjadi berita hangat di tingkat nasional.

Kepala Puskesmas Wawo, Masturudin, SKM, menjelaskan, pertemuan Jumat lalu mengangkat beberapa isu penting seperti terkait gigitan ajing gila (rabies) dan mengantisipasi Demam Berdarah (DBD) di Kecamatan Wawo. Sebagai tindaklanjut dari pertemuan itu akan dipertajam pada pertemuan Rabu (20/2) mendatang.

“Kita sepakat untuk melakukan gerakan bersama di desa dan tim gerak cepat Puskesmas Wawo,” ujarnya di Puskesmas Wawo, Sabtu (16/2).

Pada pertemuan mendatang, kata dia, akan mengundang lintas sektoral untuk membahas kemungkinan menerapkan aturan keras terhadap pemilik anjing yang diduga rabies dan anjing lainnya. Selain menjaga eksodusnya anjing gila yang sedang diburu di Kabupaten Dompu hingga menyebar di Kabupaten Bima dan Kota Bima.

Selain itu, terangnya, kewaspadaan terhadap siklus tahunan DBD. Karena pencegahan lebih baik dari pada pengobatan. Jajaran Puskesmas Wawo terus bergerak bersama warga untuk Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), kepada masing-masing rumah tangga untuk pemberantasan jentik melalui menutup, menguras, dan mendaur ulang (3M), selain abatenisasi.

“Alhamdulillah hingga saat ini belum ada kasus rabies dan DBD, meski ada banyak suspek dan kita tetap meningkatkan kewaspadaan sebelum kasus itu terjadi,” katanya.

Apalagi, kata Masturudin, kasus rabies di Kabupaten Dompu sudah ada korban meninggal. Tentu warga di daerah itu akan memburu anjing liar di sana dan daerah lain akan menjadi tempat yang nyama bagi pelarian (eksodus) anjing liar di Kabupaten Bima dan Kota Bima.

“Kita berharap eksodur anjing liar tidak sampai di Wawo dan Camat Wawo berkomitmen untuk memberantas anjing gila dan mengantisipasi DBD di daerah dataran tinggi Wawo,” katanya.

Hal senada dikemukakan Promosi Kesehatan (Promkes) Puskesmas Wawo, Adifian, SKM dan Tetua Adat Desa Maria, Hasan AB, BA. Dengan gerakan bersama dengan mengutamakan pencegahan dari pada pengobatan akan mencerdaskan masyarakat dalam mengantisipasi berbagai bahaya yang mengintai, seperti rabies dan DBD.

Namun, kata tetua adat Desa Maria masih ada perdebatan mengenai imunisasi rabies karena informasi yang diperoleh bahwa firus itu dari anjing lalu disuntikan ke manusia agar tidak terserang virus rabies. “Bagi umat Islam jangankan menyuntikan virus anjing gila, terkena air liur saja harus dicuci dengan tanah satu kali dan dibersihkan dengan air tujuh kali,” katanya saat mengumumkan informasi itu di masjid besar Nurul Hidayah Kecamatan Wawo, Jumat (15/2). (NAS)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 55
    Shares
To Top