Ekonomi

Harga Stabil, Petani Jagung Sumringah

Petani saat mejemur jagung.

Bima, Bimakini.- Sejumlah petani jagung di Kabupaten Bima sudah mulai panen. Dilihat dari hasil produksi jagung petani sangat melonjak. Disatu sisi harga jagung tahun ini cukup stabil.

Salah seorang petani asal Desa Palama, Kecamatan Donggo, M Saleh mengatakan, tingkat produksi jagung tahun ini cukup baik. Meski ada sejumlah kendala yang dihadapi petani, seperti komuditi jagung masih diserang oleh hama, sehingga mengurangi tingkat produktivitas.

“Tahun lalu hampir semua lahan jagung di desa kita dihantam anging puting beliung, mengakibatkan batang jagung bertongkol patah,” ujarnya, Jumat (10/5).

Lanjut dia, namun berbeda dengan tahu ini, kata Saleh, tanaman jagung petani hanya diserang hama. Namun tidak terlalu banyak pohon jagung yang diserang, sebab hama mulai menyerang disaat jagung sudah berumur.

“Kalau bisa dihitung dilahan 1 hektar bisa 40 sampai 50 batang  jagung yang mati, kalau dihitung itu tidak seberapa dibandingkan tahun lalu tidak ada yang diselamatkan,” katanya.

Dia mengaku, belum tahu penyebab jangung bisa mati diusia yang tengah produktif, padahal pemberian obat serta pemupukan juga dilakukan selayaknya. Bahkan masalah tersebut sudah diadukan ke penyuluh pertanian desa setempat.

“Tahun ini tidak ada respon. Saya berharap jika ada masalah yang sama bisa disikapi, supaya petani bisa mengantisipasi kalau jagung diserang hama lagi,” sebutnya.

Lanjut dia, meski komuditi jagung petani ada yang diserang hama, namun, mereka masih bersyukur dengan stabilnya harga jagung di tahun 2019 ini.

“Alhamdulillah meski diserang hama, tapi kita puas dengan harga jagung saat ini,” katanya.

Dia menjelaskan, saat ini harga jagung jika dijual di gudang pembeli seharga Rp3.500 rupiah, berbeda jika dijual pada tengkulak paling tinggi membeli jagung petani dengan harga Rp 3.300 sampai Rp3.400.

“Tergantung kondisi jagung juga sih. Kan jagung kita dilihat bagaiman kering dan basahnya, jika masih basah, berarti masih ada kadar airnya,” ujar Ale.

Hal yang sama dikatakan Kepala Desa (Kades) Palama, Gajali Ahmad. Dia mengaku, hasil produksi pertanian jagung di desanya cukup signifikan.

“Saat ini petani jagung sedang panen, hasilnya cukup memuaskan ditambah harga jagung yang stabil,” terangnya,

Dia mengatakan, harga jagung di tahun 2018 masih bertahan hingga di tahun 2019 ini. Meski di tahun 2019 ada sedikit kenaikan jika dibanding tahun 2018 lalu.

“Kalau tahun lalu harga jagung di gudang paling tinggi Rp 3.400 rupiah. Sekarang naik hingga Rp 3.500 sampai Rp. 3.600 rupiah,” sebutnya.

Dia berharap, pemerintah bisa menjaga stabilitas harga komuditi jagung, juga tidak membuka keran impor disaat petani panen, hal itu agar petani dapat menikmati hasil pertanian dengan harga yang benar layak.

“Petani harus dilidungi, melindungi petani dengan menjaga harga kumuditinya dengan benar,” pungkasnya. (MAN)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 109
    Shares
To Top