Pendidikan

Kepala SMKN 1 Soromandi Didesak Dicopot

Massa saat aksi depan sekolah.

Bima, Bimakini.- Puluhan warga Desa Lewintana, Kecamatan Soromandi, Senin (26/5) aksi menuntut Kepala SMKN 1 Soromandi dicopot, karena tidak membawa perubahan yang baik bagi sekolah.

“Kepala SMKN 1 Soromandi lebih baik dicopot saja. Karena tidak bisa memajukan sekolah, tapi malah diduga mengelola sekolah secara pribadi tanpa melibatkan unsur lain,” ujar Korlap aksi, M Said, Senin (27/5).

Kata dia, pegawai kerap malas, karena honornya hingga kini belum dibayar. Jika pun dibayar hanya Rp 250 ribu per tiga bulan.

Selain itu, kata dia, tidak pernah melakukan pergantian komite sekolah sejak berdiri tahun 2007 hingga sekarang. Selain itu, pengelolaan Dana BOS tidak transparan, baik perencanaan, pelaksanaan maupun pertanggungjawabannya.

“Perkembangan sekolah yang tidak mengalami peningkatan sejak berdiri tahun 2007 sampai sekarang 2019, malah tertinggal jauh dengan sekolah lain yang umurnya lebih muda dari SMKN 1 Soromandi,” ujarnya.

Kondisi sekolah juga, kata dia, tidak dicat, baik di dalam maupun di luar ruang kelas. Jumlah siswa pun dari tahun ke tahun semakin berkurang.

“Kepala SMKN 1 Soromandi juga tidak dapat menjalin kerja sama dengan masyarakat sekitar bahkan pemilik tanah yang telah mewakafkan tanahnya untuk pembangunan sekolah. Karena sikap seperti itu, maka sebaiknya Kepsek dicopot dari jabatannya,” pungkas dia.

Menanggapi semua tuntutan warga, Kepala SMKN 1 Soromandi, Ir Arif, mengatakan, semua tudingan warga tidak benar. Karena setiap penggunaan anggaran di sekolah dilakukan dengan transparan.

“Terkait penggunaannya dana Bos ada juklak dan juknisnya. Jadi tidak benar jika dimakan oleh saya,” timpalnya.

Dijelaskannya, setiap tahun pihaknya diperiksa oleh Inspektorat terkait penggunaan dana BOS. “Alhamdulillah tidak ada temuan. Kaitan menurunnya jumlah siswa, kita telah berupaya dengan semaksimal mungkin, hal itu karena minimnya sekolah pendukung bukan karena sikap apatis kita dalam mencari murid. Padahal kita sudah menyediakan motor tiga roda untuk transportasi siswa, hanya saja hal itu tidak memberikan perubahan. Kita sudah berbuat semaksimal mungkin. Tapi apa boleh buat perkembangan tidak begitu signifkan,” tukasnya.

Jika warga tidak lagi senang, kata dia, legowo menerima dicopot apabila pemerintah memberhentikannya. “Saya kalau dicopot akan angkat kaki. Jika hal itu menjadi jalan terbaik yang harus ditempuh,” pungkasnya. (YAN)

Share
  • 175
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top