Opini

Meningkatkan Efektifitas Kerja Tim

Muhammad Ali

Meningkatkan Efektifitas Kerja Tim (Team Work)

Oleh: Muhammad Ali, MM.

Menurut Stephen P. Robbins (1994) organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasikan yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai tujuan bersama atau sekelompok tujuan. Organisasi merupakan kumpulan orang-orang yang saling bekerjasama, saling bergantung, pengaruh-mempengaruhi, dan berusaha untuk mecapai tujuan individu, kelompok, dan organisasi.

Sumber daya manusia merupakan aset utama yang dapat mempengaruhi eksistensi suatu organisasi. Sehingga sumber daya manusia atau karyawan harus dapat dikelola dengan baik agar dapat bekerja mencapai tujuan organisasi. Karyawan harus dipandang sebagai manusia yang memiliki potensi yang memerlukan pengembangan, memiliki kemampuan, dan diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri serta meningkatkan kreatifitas dan inovasi.

Tercapainya tujuan-tujuan tersebut di atas  sangat bergantung pada bagaimana strategi organisasi. Salah satu strategi organisasi untuk meningkatkan kinerja dan produktifitasnya adalah dengan membangun budaya kerja tim (team work). Bekerja tim tentu saja akan lebih produktif dibanding bekerja secara perseorangan atau individual. Dewasa ini, untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi, serta tingkat pencapaian organisasi, mayoritas organisasi membangun budaya kerja tim atau  membentuk team work.

Tracy (2006) menyatakan bahwa team work merupakan kegiatan yang dikelola dan dilakukan sekelompok orang yang tergabung dalam satu organisasi. Sedangkan menurut Dewi (2007) kerja tim (team work) adalah bentuk kerja dalam kelompok yang harus diorganisasi dan dikelola dengan baik. Keberhasilan team work sangat bergantung pada struktur kelompok itu sendiri. Seperti struktur, kepemimpinan, budaya, skala kelompok, norma, dan jumlah anggota tim.

Bagaimanapun tim harus dapat diorganisasi dengan baik agar tujuan kerja tim dapat dicapai dengan baik. Berikut penulis merangkum bagaimana mengorganisasi team work yang efektif berdasarkan pengalaman langsung maupun tidak langsung. Berdasarkan kajian tekstual, kontekstual, pengamatan, dan observasi.

Menjelaskan visi dan misi organisasi. Suatu organisasi tentu saja memiliki visi dan misi serta strategi untuk mencapainya. Menjelaskan visi dan misi organisasi penting untuk memberikan pemahaman kepada anggota tim agar mereka memiliki kesadaran dan kemauan untuk mencapainya. Meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang keorganisasian. Membentuk team work adalah salah satu strategi untuk mencapai visi dan misi organisasi.

Membangun komitmen. Komitmen adalah suatu keadaan dimana anggota tim membuat perjanjian dan keterikatan baik dengan dengan dirinya sendiri maupun dengan sesama anggota tim lainnya yang tercermin dalam sikap dan perilaku yang dilakukan secara sukarela. Kelompok meskipun berstruktur, memiliki struktur organisasi kelompok yang terdiri dari ketua, sekretaris, bendara, dan anggota. Namun dalam melaksanakan pekerjaan semua anggota tim dapat memiliki rasa memiliki kelompok. Semua anggota tim merasa dirinya menjadi ketua dan anggota. Menanamkan komitmen bahwa meskipun kelompok memiliki struktur kepengurusan namun semua anggota tim merasa dirinya sebagai ketua dan anggota tim. Sehingga dalam melaksanakan pekerjaan tidak ada yang memerintah dan diperintah karena semua anggota tim sudah memahami tugas dan tanggungjawabnya masing-masing.

Mendorong partisipasi. Kegagalan bekerja secara tim juga disebabkan oleh kurangnya dorongan kepada anggota tim untuk berpartisipasi aktif di dalam melaksanakan pekerjaannya. Mendorong partisipasi ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran akan tugas dan tanggungjawab individu dan kelompok. Dalam team work perlu ditekankan bahwa di dalamnya mereka tidak bekerja secara individual tetapi bekerja secara tim atau berkelompok. Tidak mengatasnamakan dirinya sendiri tetapi kelompok. Kinerja individu adalah kinerja tim, kinerja tim adalah kinerja masing-masing anggota tim secara individual.

Membangun komunikasi. Komunikasi juga memiliki peran penting terhadap keberhasilan tim dalam mencapai tujuannya. Komunikasi yang baik akan memungkinkan tim dapat melaksanakan dan menyelesaikan tugasnya dengan baik. Setiap adanya kegiatan, kegiatan itu harus dapat dikomunikasikan dengan baik di antara semua anggota tim. Sehingga mereka semua tahu siapa, dengan siapa, kapan, dimana, mengapa, dan bagaimana suatu pekerjaan dilaksanakan. Semakin suatu tim dapat membangun komunikasi baik antara ketua dengan anggota tim maupun antara sesama anggota tim semakin besar pula kemungkinan tim itu dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Membangun kerjasama. Kerjasama adalah interaksi antara anggota tim di dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Bekerja tim tentu saja membutuhkan kerjasama yang baik antar anggota tim. Berbeda halnya dengan tidak bekerja tim. Pekerjaan bersifat kompleks dan sistematis. Sehingga pekerjaan harus dapat disederhanakan dan dispealisasikan. Sehingga ada penyederhanan pekerjaan dan spesialisasi pekerjaan. Tidak ada pekerjaan yang secara mutlak dapat diselesaikan oleh hanya satu orang. Membutuhkan partisipasi dan kerjasama antar karyawan atau anggota tim. Di dalam bekerja tim harus terjalin kersama yang baik dan harmonis. Apabila pekerjaannya sudah selesai maka Ia dapat membantu menyelesaikan tugas dan pekerjaan yang lain. Kerjasama perlu dibangun dalam bekerja tim. Bahkan pihak manajemen dapat terus membangun dan mendorong terciptanya kerjasama yang baik dan harmonis.

Memberikan kepercayaan. Rendahnya kinerja tim juga dapat dipicu oleh kurangnya kepercayaan atau tidak diberikannya kepercayaan kepada anggota tim. Memberian kepercayaan dapat memberikan dampak positif terhadap perilaku anggota tim dalam bekerja. Anggota tim yang tidak diberikan kepercayaan dapat menyebabkan kemauan mereka untuk bekerja dengan baik rendah. Sebaliknya, mereka yang diberikan kepercaayan akan dapat meningkatkan kreatifitas dan inovasi dalam bekerja. Dapat meningkatkan semangat dan rasa percaya diri pada diri semua anggota tim. Tidak jarang kita temukan anggota tim akan bekerja setengah hati tidak bekerja sepenuh hati karena mereka tidak mendapatkan kepercayaan dalam melaksanakan pekerjaannya. Upaya memberikan dan membangun kepercayaan ini dapat dilakukan dengan tidak melakukan pengawasan secara intensif. Pengawasan itu penting, tetapi apabila pengawasan dilakukan secara intensif anggota tim akan merasa dirinya tidak dihargai dan tidak memiliki kompetensi dan kemampuan dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Tidak mendikte pekerjaan anggota tim. Memastikan bahwa semua anggota tim bekerja sesuai dengan pengalaman, kompetensi, dan kemampuannya masing-masing.

Selain pendekatan meningkatkan efektifitas kerja tim di atas, pihak manajemen organisasi juga dapat memilih orang/karyawan yang berprestasi, yang sudah biasa bekerja tim, atau yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan bekerja secara tim. Sehingga team work  yang dibentuk adalah kelompok orang-orang yang memiliki pengalaman dan kemampuan untuk bekerja tim dengan baik. Sedangkan ketua dan anggota tim berupaya untuk membangun kerjasama tim yang solid dengan menanamkam komitmen dan rasa kebersamaan bahwa dalam bekerja tim tidak mengatasnamakan individu tetapi mengatasnamakan tim atau kelompok.

Pemahaman seperti ini akan berdampak pada citra dan kinerja tim pada akhirnya. Anggota tim yang mengatasnamakan individu akan menonjolkan dirinya saja tidak menonjolkan diri dan pekerjaannya dengan timnya. Sebaliknya, anggota tim yang mengatasnamakan tim akan menonjolkan diri dan bekerja secara tim serta memiliki integritas, tanggungjawab, dan rasa persatauan dan kesatuan tim. Akhirnya, semoga tulisan ini bermanfaat, baik bagi penulis sendiri maupun bagi pembaca pada umumnya. (*)

Penulis adalah dosen STIE Bima

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top