Olahraga & Kesehatan

Petinju Legendaris Asal Bima, Yani Malhendo, Aset Terlupakan

Yani Malhendo

Bima, Bimakini.- Petinju legendaris Yani Mal Hendo (51) kini seolah terlupakan, meski sebelumnya berprestasi di dunia tinju. Di eranya, darah kelahiran Desa Rato, Kecamatan Bolo, 8 September 1968 itu menjadi momok menakutkan bagi lawannya, baik di kancah Nasional maupun Internasional.

Pembuktian perjalanan karir tinju Yani Malhendo sangat fantastis, di Tahun 1990 berhasil menyabet Juara Indonesia kelas terbang ringan 48.988 kg. Tahun 1991 Juara Indonesia kelas terbang 50.802 kg. Tahun 1995 Juara IBF Inter-Continental light flyweight 48.988 kg. Tahun 1998 Juara WBC International super flyweight 52.163 kg.

Saat dihubungi melalui selulernya, Kamis (8/8), Yani Malhendo, mengatakan, walau karirnya di dunia tinju tidak pernah mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima, dirinya mengaku prihatin lantaran belum ada satu pun petinju asal Kabupaten Bima yang mampu melanjutkan kiprahnya sekaligus mengharumkan Dana Mbojo di kancah Nasional maupun Internasional. “Saya prihatin Mas, hingga saat ini belum ada petinju asal Bima yang gantikan nama saya di dunia tinju,” keluh Yani Malhendo yang kini berdomisili di Surabaya.

Apakah ada niat pulang kampung untuk membaktikan diri memajukan cabang tinju? Yani Malhendo mengaku, harapan itu sangat besar. Akan tetapi, harus didukung oleh peran serta pemerintah dalam membangun sasana dan lainnya.

“Saya mempunyai mimpi membangun sasana tinju di Bima, tapi hal itu hanyalah pepesan kosong karena tidak didukung oleh materi. Tapi jika Pemkab Bima mau memfasilitasi semua yang dibutuhkan, saya akan pulang dengan hati yang tulus,” ujarnya.

Lanjutnya, tinju tidak mungkin dikelola secara pribadi. Bicara profesional harus ada sponsor dan pemodal atau penyandang dana abadi. “Bisa kita jadikan contoh, Negara luar seperti Filipina, Jepang, Korea dan lainnya mereka berkontribusi langsung dalam hal memajukan tinju. Jadi, lanjut dia, tidak heran mereka sangat maju akan dunia tinju,” ujarnya.

“Mestinya kita sadar bahwa harkat dan martabat bangsa ada para atlit. Karena hakikatnya, jika atlit naik di podium untuk menerima penghargaan, saat itu akan dinyanyikan lagu kebangsaan, bendera akan dikibarkan, hal itu adalah penghormatan terbesar yang ditorehkan oleh atlit,” lanjutnya.

Yani Malhendo berharap agar Pemkab Bima mempunyai niat yang sama agar memajukan dunia tinju di Dana Mbojo. Sehingga apa yang kita harapkan bisa terwujud nyata. “Mari kita bangkit untuk memajukan tinju di Bima. Untuk berikhtiar tidak ada kata terlambat,” tutup Yani Malhendo. (KAR)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3
Share
  • 1.8K
    Shares
To Top