Berita

Buka Jalan di Bukit untuk Menumbuhkan Ekonomi Masyarakat

Penuh semangat HM Qurais menikmati olahraga pagi.

BANYAK pesan singkat yang dikirim kepada saya. Bahkan ada yang komentar di media sosial, mengapa tulisan saya tentang HM Qurais H Abidin itu, disambung. Catatan Khas saya kali ini, ternyata menarik perhatian. Bukan hanya karena yang diwawancarai adalah mantan Walikota Bima, tetapi karena ada pertanyaan yang sengaja saya gantung. Berikut bagian akhir dari dari dua  Catatan Khas Khairudin M. Ali.

HM Qurais terlihat semangat sekali saat merespon soal pembangunan jalan di bukit-bukit Kota Bima. Ada banyak spekulasi yang beredar bahwa jalan itu menjadi salah satu biang rusaknya hutan, karena memberikan akses masyarakat untuk mengangkut kayu hasil pembalakan liar.

Bagi HM Qurais, membangun jalan baru bertujuan membuka infrastruktur pendukung yang masih kurang agar ekonomi tumbuh di semua sisi. Dengan adanya jalan, akan lebih mudah mengajak masyarakat menanam kembali pohon yang sudah tiada. Adalah tidak beralasan menurut HM Qurais jika ada tudingan soal kerusakan alam dengan adanya akses jalan itu. ‘’Apakah masih ada hutan di Kota Bima?’’ ujarnya dengan nada tanya.

‘’Coba lihat sekarang, dengan adanya akses jalan, masyarakat sudah membawa sendiri air dari bawah untuk menyiram tanaman di kebunnya. Sekarang sudah mulai hijau, mulai ramai. Pepaya, cabe, sayuran, dan tanaman lain tumbuh,’’ katanya.

Bahkan pagi itu, jalan di Bukit Jatiwangi dipenuhi warga yang jalan-jalan dan olahraga. ‘’Coba lihat pagi ini, masyarakat ramai berolah raga dan jalan-jalan ke sini,’’ katanya.

Baca Bagian Pertama Catatan Khas Ini: HM Qurais Kini Rutin Jalan Kaki Keliling Bukit

Menurut dia, konsepnya adalah membangun akses dan infrastruktur pendukung. Masyarakat akan melakukan yang lain sendiri asal sudah dimudahkan jalannya, diberikan fasilitas pendukung. ‘’Sama dengan membuka kran investasi. Pemerintah harus berikan kemudahan, jangan banyak syarat. Di masa kepemimpinan saya, banyak orang Bima yang punya uang di luar daerah, mulai datang investasi di Kota Bima. Jangan sampai ada capital flight (pelarian modal keluar daerah). Harusnya mereka gunakan uangnya di sini agar ada dampaknya buat masyarakat dan daerah. Uang banyak berputar di daerah kita,’’ ujarnya.

Dia mencontohan akses jalan ke Ndano Nae, yang dibangun dengan  anggaran sekitar Rp20 miliar. ‘’Coba perhatikan sekarang. Sepanjang jalan hingga ke Ndano Nae itu sudah berubah. Masyarakat Ndano Nae yang biasa berjam-jam kalau ke Kota Bima, sekarang hanya sebentar saja. Bahkan sekarang masyarakat sudah bisa makan ikan segar yang mereka beli sendiri di Pasar Raya Bima, Jaringan PLN juga sudah masuk di sana,’’ ujarnya.

Pembangunan itu, menurut hemat HM Qurais, harus memiliki multiplier effect. Pemerintah sifatnya hanya memfasilitasi dan memudahkan masyarakat untuk menjalankan kegiatan sosial dan ekonominya. Selanjutnya, masyarakat akan berkembang sendiri. ‘’Contohnya ya pembangunan jalan di bukit-bukit ini,’’ kata dia.

Jamaah Masjid Terapung Kota Bima sedang berjalan mengitari bukit.

Hal lainnya, menut HM Qurais bahwa bukit-bukit di Kota Bima akan menjadi lahan yang memiliki nilai ekonomi tinggi di masa datang. Kota Bima dengan daratan yang sangat terbatas, belum lagi potensi alam yang dimiliki oleh bukit-bukit yang mengitari Kota Bima, akan menjadi daya tarik yang luar biasa. ‘’Nah inilah mengapa saya membeli tanah-tanah di bukit. Maksudnya itu sebagai pemancing saja. Ibarat produk, hanya sebagai pemeran iklan saja. Untuk branding saja dan ini terbukti berhasil. Contohnya para pemain sepakbola terkenal yang menjadi bintang iklan,’’ katanya.

Menurut keyakinan HM Qurais, pemilik uang akan mulai tertarik untuk ikut berinvestasi di bukit-bukit yang sudah ada akses jalan itu, karena di situ juga ada tanah miliknya. ‘’Oh di bukit sana ada juga tanahnya HM Qurais. Kan orang akan berpikir, oh bagus juga kita inves. Kalau cocok untuk pariwisata, kan mulai bisa dikembangkan. Itu sebagai pemancing saja,’’ katanya lagi.

Padahal menurut dia, tanah-tanah itu tidak sepenuhnya  manfaatkan untuk kepentingan pribadi. Banyak digarap masyarakat untuk ditanami dengan pohon-pohon supaya hijau.

Selain itu, kata pria yang kerap juga bepergian ke luar negeri ini, mencontoh pembangunan kota di banyak negara itu. Di banyak negara lain kotanya malah banyak di atas bukit. Dia menyebut nama sejumlah kota di mancanegara dan juga dalam negeri. ‘’Kota di atas bukit itu bagus. Tidak memanfaatkan lahan produktif masyarakat,’’ tambahnya.

Saya sendiri pernah melihat kota yang dibangun di atas bukit dan dataran tinggi. Salah satunya adalah San Francisco di Amerika Serikat. Kalau Anda sering nonton film-film laga Amerika, banyak adegan yang diambil di kota ini. Cirinya dapat kita lihat dari kereta listrik yang melewati jalanan yang turun naik. Banyak aksi perkelahian dilakukan di atas kereta listrik. Ketegangan bukan hanya karena ada adegan perkelahian, tetapi juga karena kereta listrik yang meluncur saat sopirnya disandera misalnya.

Kota di atas bukit memang membutuhkan sumber daya pendukung lain seperti air bersih dan tenaga listrik. ‘’PLN baru pasang listrik ke Ndano Nae dan Bukit Jatiwangi ini kan setelah ada akses jalan hotmix. Mana mau mereka pasang jaringan kalau tidak ada jalan walau ada kampung sekalipun. Sulit sekali dan kita sudah alami hal itu,’’ ujarnya.

Ketersediaan tanah di dataran rendah Kota Bima memang sudah semakin terbatas. Pilihannya adalah memanfaatkan lahan di atas bukit sebagai lokasi pemukiman baru. Jika bukit-bukit bisa dikelola dengan baik, ada air tersedia, maka Kota Bima akan semakin indah dan hijau. Menurut HM Qurais, tidak sedikit warga Kota Bima yang terpaksa juga menjual lahannya di dalam kota karena desakan ekonomi dan kebutuhan perluasan bisnis swasta. Maka pemerintah perlu memikirkan alternatifnya. ‘’Menurut saya, bukit inilah yang paling tepat. Mereka jual tanah dalam kota dua are misalnya Rp500 juta, mereka bisa bangun di atas bukit dan membeli tanah yang luas karena masih murah. Masih ada sisa dana juga untuk keperluan yang lain,’’ tambahnya.

Di Bukit Jatiwangi saat ini, sudah ada jaringan listrik, warga sudah mulai menata kebun-kebun mereka. Mereka juga sudah mulai menanam dengan aneka pohon. Pemilik lahan bahkan sudah mulai tinggal di bukit. Sejumlah warga juga sudah memanfaatkan lahan untuk membuat kandang ayam. Ini bisa terjadi karena sudah ada akses jalan dan jaringan  listrik PLN. Berugak dan saung kecil dibangun di mana-mana, tanah-tanah dijual kavling untuk tempat orang kota datang rehat.

Sebuah mushala pun sudah lama dibangun. Jamaahnya cukup banyak. Bahkan warga yang berkunjung ke bukit, tidak akan kesulitan untuk beribadah saat waktu shalat tiba. Mushala itu dibangun oleh H Muhtar, seorang guru di sekolah agama Kota Bima. ‘’Ini untuk amal kita, untuk tabungan akhirat’’ ujar H Muhtar kepada saya suatu waktu.

Aktivitas ekonomi pun tumbuh. Puluhan pedagang kopi dan dan mie instan sudah cukup lama meraup hasil. Ratusan orang berbondong ke bukit terutama di akhir pekan. Mereka banyak menghabiskan malamnya di bukit untuk menikmati pemandangan Kota Bima di malam hari. Sunset dan lampu-lampu  kota terlihat indah. Bukan hanya warga lokal yang berkunjung ke sini, tetapi tidak sedikit pelancong dari luar daerah juga penasaran dengan Bukit Jatiwangi. Dari jauh jika kita memandang ke utara kota, terlihat kerlap kerlip lampu ketika malam tiba. Dua stasiun radio juga sudah mengudara dari Bukit Jatiwangi.

Ebit dan Aci, dua anak muda yang belum sebulan ini membuka warung kopi di puncak bukit. ‘’Lumayan ramai pak. Terutama pada malam hari. Kami mulai buka pada sore hari,’’ kata Aci kepada saya.

Ebit dan Aci berkongsi untuk membuka warung kopi yang sedikit beda dengan pendahulunya. Mereka buka warung kopi original, bukan sasetan. ‘’Ada banyak pilihan yang kami tawarkan, alhamdulillah ramai. Apalagi lokasi kami cukup stratetegis,’’ ujar Aci, pemuda Donggo Kala, alumni STKIP Taman Siswa Bima.

Suasana malam di kedai kopi miliknya Aci di Bukit Jatiwangi.

Di puncak bukit, kedua anak muda yang baru saja selesai kuliah itu menata tempat nongkrong dengan memanfaatkan kayu-kayu bekas kemasan barang untuk tempat duduknya. Mereka juga memanfaatkan potongan kayu untuk menjadi meja. Ini ide kreatif. Memang begitulah anak muda sekarang yang punya jiwa usaha. Saya banyak mengenal anak muda hebat yang tergabung dalam komunitas Tangan di Atas (TDA) Bima. Mereka punya semangat juang yang tinggi dan tidak gengsi. Mereka sangat ulet.

Arsyad Usman dan Abdul Rajak, adalah dua di antara puluhan warga yang bermukim di Bukit Jatiwangi. Mereka sangat senang dengan perubahan sekarang. Selain tanah mereka bernilai tinggi, juga bisa menikmati jaringan listrik dan bisa mengangkut air dengan motor ke atas bukit. ‘’Kami dahulu sangat sulit membawa air ke bukit. Yang ada hanya jalan setapak. Tapi kini selain bisa pakai motor, ada juga mobil yang membawa air ke sini, termasuk mobil tangki,’’ kata Arsyad yang sudah bermukim di Bukit Jatiwangi lebih lima puluh tahun ini.

Namun begitu, dia dan juga puluhan warga lainnya masih sangat berharap ada saluran air bersih yang bisa disalurkan ke rumah-rumah mereka. Informasi yang saya peroleh, proyek air bersih akan mulai melakukan bor pada pekan depan ini. Jika ini terwujud, maka mimpi HM Qurais untuk menjadikan bukit yang hijau, bisa menjadi kenyataan. Sebab air adalah satu-satunya hambatan bagi masyarakat ketika musim kemarau tiba.

Saat ini sedang ada aktivitas pengambilan gambar film layar lebar pertama yang diproduksi oleh putra-putri Bima. Film La One Cinta untuk Ina itu, menggunakan salah satu rumah warga di Bukit Jatiwangi sebagai rumah masa kecil La One. Dia hidup susah sebagai joki cilik bersama ibu dan kakaknya. Harapannya film ini bisa mengangkat citra Bima umumnya, dan Bukit Jatiwangi khususnya di mata dunia.

Pengambilan gambar La One di Bukit Jatiwangi.

HM Qurais kini sudah tidak lagi pegang kendali atas kebijakan Pemerintahan Kota Bima. Kini dia telah memilih untuk fokus memikirkan akhirat, beramal, bersilaturahmi, dan melaksanakan ibadah. ‘’Indahnya hidup ikhlas, melepas semua predikat, bersatu karena iman, olahraga, dan makan. Semoga kita selalu bersama dalam iman dan Islam, aamiin,’’ kata HMQ, panggilan akrab HM Qurais.

Inspirasinya: Jabatan dan status sosial boleh tinggi, tetapi sebagai makhluk sosial, seorang manusia tetap membutuhkan interaksi dengan manusia lainnya. Berbagi cerita, berbagi kisah, dan berbagi kebahagiaan.  Itulah saat kita semakin dekat dengan sesama manusia, semakin dekat dengan alam, juga semakin dekat dengan Sang Pencipta.

Terima kasih atas kesempatan berjumpa, berinteraksi dan saling berbagi cerita. Terima kasih atas sarapan pagi nasi bungkus yang nikmat, terima kasih pula atas keramahan jamaah Masjid Terapung yang semangat menjaga rutinitas olahraga di usia senja. Kita berharap langkah ini juga dituruti oleh masyarakat lainnya. Salam khas!  (Habis/KMA)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
4
Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top