Berita

”Saat Kerja, Waktu Dua Puluh Empat Jam Tidak Cukup”

Zas’ari melayani pelanggan yang melakukan transaksi di tokonya.

DUA hari dua malam bermotor ke Pondok Pesamtren Sidogiri. Ponpes itu adanya di Pasuruan, Jawa Timur. Jauh berpuluh kilometer masuk jalan desa. Hanya istirahat di SPBU atau masjid saat masuk waktu shalat. Meninggalkan keluarga dengan dorongan kuat hanya untuk belajar ekonomi syariah, bebas riba.  Berikut bagian akhir kisah inspirasi H Zas’ari Zainuddin, mantan Dirut Bank yang ingin  hijrah.

Zas’ari mengisahkan juga suka dukanya mengendarai motor sendirian ke Pasuruan. ‘’Saya hanya istirahat untuk isi bensin, makan, dan shalat. Kalau sudah sangat ngantuk, saya numpang tidur beberapa jam saja di SPBU atau masjid sebelum melanjutkan lagi perjalanan,’’ katanya.

Bagi Zas’ari, perjalanan ke Pasuruan bukan sekadar perjalanan untuk belajar. Tetapi perjalanan hijrah untuk memulai semuanya dari awal.  Bisa disebut perjalanan spiritual. Hanya sendiri dan mengendarai motor kesayangannya. Mengapa harus motor?  Bukankah bisa naik pesawat atau moda transportasi lainnya? ‘’Saya ingin yakinkan pada diri saya bahwa saya sedang sangat serius. Itu sebagai lambang hijrah. Saya ingin yakinkan juga kepada orang lain termasuk di tempat tujuan. Ternyata perjalanan saya sendiri dengan motor berplat (nomor polisi, Red) EA itu menarik perhatian sejumlah orang. Ada yang merasa kasihan dan bahkan memberikan fasilitas kemudahan. Alhamdulillah,’’ katanya sambil tertawa lepas.

Baca juga: Galau soal Riba, Memilih Resign

Awalnya dia berpikir bahwa pesantren yang akan dia tuju berada dalam kota dan mudah dijangkau. Dia tidak pernah bayangkan, ternyata tempatnya lumayan jauh masuk jalan pedesaan puluhan kilometer dari jalan utama. Di sana tidak ada penginapan, apalagi hotel. ‘’Saya tanya pada pedagang nasi di warung. Dia bilang sama saya, mana ada penginapan di sini. Ini kan desa pak,’’ kata Zas’ari menirukan ucapan pedagang itu.

Selama dua hari di pesantren Sidogiri, dia benar-benar manfaatkan waktunya  untuk belajar tentang koperasi syariah dan ilmu agama. Dia mengikuti semua ceramah dan kajian, termasuk konsultasi khusus soal riba. Zas’ari menginap di rumah pemilik warung nasi dengan sewa kamar Rp50 ribu semalam. ‘’Harusnya Rp75 ribu semalam. Tapi dia kasihan sama saya. Itu pun kamar anaknya, cukup bersih,’’ ceritanya.

Apakah hasil pelajaran di pesantren itu sudah diaplikasikan? ‘’Kami ada rencana alumni SMA Negeri 1 Kota Bima ingin bangun koperasi syariah. Semoga ini bisa terwujud,’’ tambahnya singkat.

Saat ini, Zas’ari sudah mulai dengan sejumlah usaha rintisan. Selain agen sebuah bank syariah yang melayani transaksi perbankan, juga memiliki rumah walet, peternakan ayam, toko pakan, dan berdagang hasil pertanian, terutama rempah-rempah. Dia pun mendirikan bada usaha berupa Usaha Dagang (UD) dengan nama Dinar Mas. ‘’Ini prospeknya cukup bagus. Saya coba mengambil peran dalam ceruk pasar yang masih tersedia,’’ ujarnya tentang bisnis hasil pertanian.

Bukan hanya itu, dia juga mulai melakoni bisnis saham. Bahkan dia menawarkan jika ada warga Bima yang ingin belajar bisnis saham, nanti akan dia datangkan konsultan.  ‘’Banyak orang sukses di kota-kota, yang mulai bisnisnya dari jual beli saham. Contohnya Pak Sandiaga Uno. Ini memang masih asing bagi kita di sini. Makanya perlu orang yang membimbing. Nah ini yang sedang saya rencanakan untuk menghadirkan konsultan. Mereka sudah siap, tinggal kita siap apa tidak,’’ jelas pria yang suka gowes ini.

Apa yang berubah dari diri seorang Zas’ari Zainuddin setelah resign dari bank konvensional? ‘’Kalau saat masih bekerja, waktu dua puluh empat jam sehari itu tidak cukup. Tetapi saat ini, saya memiliki banyak sekali waktu untuk lebih dekat dengan sang Pencipta. Saya bisa memanfaatkan banyak waktu dengan keluarga, bisa memikirkan masalah sosial, dan saya bahagia bisa memiliki keluarga baru di masjid. Kami sering berdiskusi apa saja dengan para jamaah. Rasanya nikmat sekali ketika sudah berada di masjid sebelum adzan dikumandangkan,’’ ujarnya dengan nada sungguh-sungguh.

Mulai memahami soal riba, membuatnya gundah. Putrinya yang kuliah di perbankan syariah banyak membawa pulang buku-buku tentang itu.  Meninggalkan zona nyaman dengan banyak fasilitas, memimpin 70 karyawan dengan sebelas kantor, duduk di kursi empuk, ruang berpendingin udara, itu tentu tidak mudah. Karena yang terjadi selanjutnya adalah keluar masuk pasar menawarkan rempah-rempah dengan motor hingga ke Pasar Minggu di Calabai sana. ‘’Hati saya nyaman dan bahagia. Tidak ada ganjalan lagi, yang penting halal,’’ papar alumni Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar ini.

Ibu dan istri, adalah orang-orang yang paling banyak mewarnai kehidupannya sejak sang ayah meninggal tahun 2002. Mereka sangat bisa memahami keputusan ‘hijrah’ yang dia ambil. ‘’Awalnya memang berat, tetapi akhirnya bisa dilewati dengan baik,’’ kata ayah dari Rezky Wahdaniah dan Salshabilla Nurul Aulia ini menutup percakapan sore dengan saya.

Inspirasinya: Jika ingin hijrah dan mengubah jalan hidup, lakukan saja. Apalagi untuk kebaikan. Jangan takut tidak dapat makan dan hidup susah, pertolongan Allah bisa datang dari pintu mana saja yang tidak diduga-duga.

Obrolan selama satu jam empat puluh menit itu, akhirnya kami hentikan karena sudah mau masuk waktu magrib. Terima kasih kopi hangatnya, terima kasih waktunya, terima kasih insiprasinya, terima kasih sudah berbagi. Semoga sukses dengan segala yang dirintis, sehingga tetap bisa bermanfaat bagi masyarakat luas. Salam khas. (khairudin m.ali)

 

 

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
13
Share
  • 25
    Shares
To Top