Pemerintahan

Wali Kota Bima Kritik ASN yang “Cemen” dengan Mutasi

Pelantikan 76 pejabat lingkup Pemkot Bima, Kamis.

Kota Bima, Bimakini.- Kebijakan mutasi dan rotasi nampaknya menjadi momok bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Bahkan kontroversi mutasi di lingkup Pemkot Bima belakangan ini, menjadi heboh karena diadukan ke KASN hingga Wali Kota harus mengembalikan jabatan yang didemosi.

Terkait hal ini, Wali Kota Bima H Muhammad Lutfi SE bereaksi. Ia menyentil ASN yang kuatir akan proses mutasi, rotasi hingga demosi. Menurutnya, kebijakan itu dilakukan semata-mata untuk mengetahui kemampuan seorang ASN dalam menjalankan tugasnya pada berbagai bidang.

“Baru diturunkan dari jabatannya saja sudah lemah, seolah-olah dunia ini sudah kiamat,” ucap Wali Kota saat memberikan sambutannya dalam acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan ASN, di aula Pemkot Bima, Jumat.

Politisi senior partai berlambang beringin ini, mengatakan jika mutasi merupakan bagian dari teknik kepala daerah menilai kinerja aparaturnya. Ditegaskannya juga semua dilakukan berdasarkan penilaian kinerja.

“Jangan langsung berkecil hati, misalnya ketika saya buang kemana-mana. Karena itu untuk melihat, seperti apa kemampuan kerjanya yang sebenarnya,” tegasnya.

Mantan legislator Senayan ini mengungkapkan, hanya beberapa aparatur ASN yang terlihat benar-benar memiliki kemampuan kerja yang tinggi. Ketika ditempatkan di manapun, selalu bisa bekerja dengan baik dan menghasilkan kesempurnaan.

Karena baginya, bekerja dengan aparatur yang pintar kerja, lebih baik dibandingkan dengan aparat yang hanya pintar berbicara.

“Hari ini pendekatan saya yakni, yang pintar bekerja. Bukan yang pintar cakap. Bima butuh orang yang bekerja. Biar bodoh, asal pintar bekerja,” kata Wali Kota kemudian disambut riuh tepuk tangan hadirin.

Dia juga menyentil kepala OPD, yang menempatkan bawahannya berdasarkan rasa suka dan tidak suka. Padahal, ada yang pintar tapi hanya dijadikan staf biasa. Sedangkan kasubag dan kabag, dipilih orang-orang yang tidak memiliki kompetensi sama sekali.

“Saya pernah bertemu seorang staf di Dinas Kesehatan. Pintar sekali, mengerti banyak hal. Ketika saya tanya, ternyata hanya staf. Ini aneh, ” ungkap wali kota.

Untuk itu mewanti-wanti Kepala OPD, untuk tidak subyektif dalam menempatkan seseorang. Terutama, pada posisi jabatan yang krusial seperti jabatan kasubag sebagai perencana dalam sebuah OPD. (IKR)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top