Berita

Catatam Khas dari KI 4 Bima: Ada yang Sebut Teroris sebagai Profesi (3)

Lebih dekat lebih akrab dengan murid. (Foto-foto Alfaruq)

‘’MARI kita bermain…’’ teriak Eka, fasilitator Kelas Inspirasi 4 Bima, di SDN O’o saat apel pagi. Anak-anak bubar teratur menuju kelasnya masing-masing. Berikut bagian ke tiga Catatan Khas saya.

Sangat bisa jadi, hari itu paling menyenangkan bagi murid-murid sepuluh sekolah dasar di Kecamatan Donggo. Karena selain akan diajak bermain, mereka juga mendapatkan suasana baru dan diajar oleh guru baru yang berbeda-beda. Setiap dua puluh menit guru bergantian masuk di tiap kelas berbeda. Setiap inspirator akan menginspirasi secara bergiliran.

Saya mulai masuk di kelas 3. Murid-murid saya sapa dengan salam semangat. Mereka dengan lantang berteriak sepuasnya. Saya biarkan suasana kelas bebas, agar mereka merasa keluar dari kebiasaan sehari-hari. Saya biarkan suasana kelas menjadi rileks, agar mereka merasa seperti sedang bermain. Murid-murid kelas 3 ini cukup aktif. Karena jumlah muridnya tidak banyak, saya bebas eksplor satu-satu. Waktu dua puluh menit bagi saya sudah cukup untuk mengenal mereka satu-satu.

Apel persiapan Kelas Inspirasi SDN O’o, Donggo.

Saya tanya apa cita-cita mereka setelah besar nanti. Pertanyaan ini  mungkin agak membosankan, karena setiap inspirator pasti ingin tahu. Ini penting untuk menggali visi setiap siswa. Bahkan inspirator harus secara mendalam berkomunikasi dengan beberapa siswa yang dianggap penting. Di kelas saya misalnya, saya biarkan mereka untuk mengerumini ketika sedang berbicara dengan kawannya. Bagi saya ini penting, untuk membiarkan mereka merasa bebas mengekspresikan kegirangannya. Ini tentu beda dengan hari-hari biasa di mana mereka harus tetap tertib mendengarkan penjelasan guru.

Apa cita-cita mereka? Lebih dari separuh yang laki-laki ingin menjadi tentara, lainnya dokter, polisi, dan guru. Ini adalah cita-cita yang umum setiap anak. Mengapa mereka memilih cita-cita itu? Rata-rata terinspirasi oleh pakaian saat mereka ikuti acara sekolah seperti pawai dan lain-lain. Ada juga karena ada keluarganya yang menjadi tentara misalnya.  Atau pernah sakit dan dirawat oleh seorang dokter yang baik dan ramah.

 

Baca juga:

Catatan Khas dari KI 4 Bima: Panggil saja Kakek, bukan Kakak

Catatan KI 4 Bima: Donggo yang tidak lagi Dingin

Wajah ceria Ica dan Isti yang sama-sama ingin menjadi dokter.

Fatahillah misalnya, ingin menjadi tentara karena senang dengan pakain seragamnya gagah. Sementara Aisyah, murid kalem ini ingin menjadi guru untuk membuat orang menjadi pintar, selain membahagiakan orang tua.

Fitriani dan Muhtadin Almagfira punya cita-cita mejadi dokter, terinspirasi karena pernah melihat dokter yang merawat orang sakit supaya sembuh. ‘’Supaya kita bisa merawat orang sakit,’’ kata Fitriani.

Selain Fatahillah, ternyata Dika, Alfatir, dan Ahluljian, juga ingin menjadi tentara. ‘’Kami ingin membela negara,’’ kata Dika.

Afkan lebih senang menjadi polisi karena bisa menangkap pencuri. ‘’Ada pencuri di rumah kita, kita langsung tangkap,’’ teriak nya penuh semangat.

Apakah mereka juga mengenal profesi lain? Ketika ditanya mereka sering mengulang-ulang cita-citanya sendiri. Tetapi ketika dibantu dengan menyebut ada profesi wartawan, penulis, penyanyi, mereka merespon menyebut sejumlah profesi lain seperti pemain bola dan lain-lain. Jika dibandingkan dengan anak-anak yang hidup di kota, pengetahuan mereka tentang profesi masih sangat terbatas sekali.

Yang megejutkan saya, Fatahillah menyebut teroris sebagai sebuah profesi, walau ia tidak ingin menjadi teroris. ‘’Pokoknya saya tetap ingin menjadi tentara,’’ tegasnya.

Jangan tegang-tegang ya bu guru sehari..(dari kiri: Alfaruq, Eka, Pipit, Iin, Elin).

Saya mendekati Fahillah. Saya duduk di lantai. Dengan nada pelan, saya bertanya mengapa teroris dia anggap sebagai profesi atau pekerjaan. Dari mana pula dia memperoleh informasi tentang teroris itu. ‘’Saya sering menonton di televisi pak. Sering masuk berita,’’ ujarnya polos. Saya memberikan penjelasan soal teroris dengan bahasa anak. Dia mulai bisa memahami.

Sangat bisa jadi, pemberitaan tentang terorisme dan radikalisme belakangan ini, telah salah dimaknai oleh anak-anak. Mereka menganggap itu sebagai pekerjaan karena begitu kerap mendapat porsi dalam pemberitaan televisi kita. Apalagi tidak semua orang tua bisa mengontrol anak-anak menonton acara yang tepat buat mereka. Pilihan narasi dalam pemberitaan juga perlu lebih hati-hati sehingga tidak berdampak buruk pada anak-anak. Pesan yang bisa ditangkap beragam ini harusnya lebih hati-hati disajikan. Bukan sekadar mengirim pesan peristiwa, apalagi gambar-gambar sadis walau dibuat blur.

Pengalaman saya sebelumnya ketika menjadi inspirator pada Kelas Inspirasi di Ambalawi, ada anak yang punya cita-cita menjadi teroris. Ketika saya tanya alasannya, dia menyebut teroris itu gagah. Bawa senajata keluar masuk hutan. ‘’Pokoknya keren,’’ katanya.

Di kelas 4 juga, tidak jauh berbeda. Cita-cita mereka tidak terlalu beragam. Hanya Rijal yang ingin menekuni dunia pelayaran. Rijal mengaku terinspirasi pernah naik kapal laut ikut ayahnya yang bekerja di perusahaan tambang batu bara di Kalimantan. Bukan hanya itu, Rijal juga punya alasan lain terkait cita-citanya itu. ‘’Saya ingin membantu ibu Susi (Susi Pujiastuti, mantan Menteri Kelautan RI) untuk menjaga laut kita. Memberantas pencuri-pencuri ikan dari luar negeri,’’ tegasnya.

Saya juga menemukan ada dua siswi yang ingin menjadi pilot dan hanya seorang siswi juga yang ingin menjadi pramugari. Apakah mereka pernah naik pesawat? Tidak juga. Hanya karena mereka pernah mengantar keluarganya ke bandara dan melihat pesawat yang sedang parkir di apron dan take off untuk terbang. Hanya satu yang ingin menjadi koki atau cheff. Tapi dia hanya mau melakukan itu sambilan saja, bukan sebagai cita-cita utama.

Pemahaman anak-anak tentang profesi masih sangat kurang. Saya bercerita tentang diri saya yang lebih dua puluh tahun menjadi wartawan.  Saya sampaikan, wartawan tugasnya sangat mulia sekali. Atas dedikasi merekalah, kita bisa mengetahui peristiwa di belahan dunia yang lain. Kita nonton berita di televisi, baca berita di koran atau media online, mendengar berita di radio, semuanya adalah hasil karya wartawan. Tetapi tantangan dunia jurnalistik hari ini sedang sangat berat. Banyak media tempat mereka bekerja yang sudah tutup karena bangkrut. Saat ini sedang menjamur media online, tetapi belum sepenuhnya bisa menjamin masa depan wartawan, apalagi di daerah.

Sedang menjawab pertanyaan tentang profesi saya.

Untuk menginspirasi, saya ceritakan capaian saya selama menjadi wartawan. Selain membangun sejumlah media dan mempekerjakan banyak karyawan, saya juga pernah pergi ke luar negeri berkat profesi itu. Saya pernah ke Amerika misalnya. Di sana saya mengunjungi enam negara bagian dalam waktu hampir sebulan. Saya ke sana tidak pakai uang sendiri. Saya juga cerita sewaktu ke sana, naik pesawat ada yang sampai hampir sepuluh jam. Saya juga bilang pernah ke Kuala Lumpur tanpa mengeluarkan uang sendiri.

Setelah bercerita tentang profesi saya sebagai wartawan, saya tanyakan kembali apakah ada yang ingin ke luar negeri naik pesawat gratis? ‘’Mauuuu’’ katanya serentak. Aapakah ada yang menjadi wartawan? Ternyata tidak ada satupun yang mau mengubah cita-cita mereka. ‘’Saya tetap ingin menjadi dokter,’’ tegas Muhtadi Almagfira.

Saya sempat memutar YouTube dengan gawai. Saya ceritakan bahwa menjadi orang yang membuat video dan dimasukan di YouTube, adalah menjadi profesi baru. Namanya youtuber, pendapatannya besar. Bahkan bisa sampai miliaran rupiah setiap bulan, kalau videonya ditonton banyak orang. Bisa kerja santai tanpa terikat waktu. Bisa ke mana-mana, makan yang enak-enak, atau berjalan-jalan melihat penandangan yang indah-indah. ‘’Apakah ada yang mau menjadi youtuber?’’ tanya saya. Serentak mereka menjawab, ‘’Tidaaaaaaak.’’

Cantik-cantiknya muridku… Aisyah dan Fitriani, calon guru dan dokter.

Apakah mereka juga menonton YouTube seperti juga anak-anak kota umumnya? Iya. Sebagian dari mereka sudah ada yang nonton menggunakan gawai (gadget) orang tuanya. Hanya ada beberapa yang mengaku memiliki gawai sendiri. Umumnya mereka menonton film anak-anak seperti Upin dan Ipin.

Cita-cita bagi mereka adalah semacam obsesi di masa kecil. Mereka ingin menjadi sesuatu karena suka pada apa yang dilihat dan dialaminya. Oh itu keren, itu bagus, itu hebat. Sifat anak-anak yang suka meniru, ternyata sangat kuat berpengaruh pada profesi apa yang hendak mereka lakoni kelak setelah menjadi dewasa.

Di semua kelas saya memberikan motivasi agar mereka dapat mewujudkan cita-citanya. Dispilin, kerja keras, rajin belajar, sabar, dan tidak cepat menyerah adalah kata kuncinya.  (khairudin m.ali/bersambung)

Share
  • 234
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top