Berita

Catatan Khas dari KI 4 Bima: Cita-Cita Kugantung Tinggi di Pohon Harapan (4)

 

Cantiknya muridku… (foto-foto saya dan Alfaruq)

BEL sekolah dipukul lagi oleh fasilitator. Bunyinya nyaring karena dibuat dari potongan besi pipa yang digantung. Jika sebelumnya sebagai aba-aba untuk berganti kelas, kali ini adalah bel tanda istirahat. Itu artinya, saya sudah menyelesaikan tiga kelas. Selepas istirahat, saya akan masuk di kelas 6, tepat pukul 09.30 Wita. Berikut lanjutan Catatan Khas saya dari Kelas Inspirasi (KI) 4 Bima di SDN O’o Kecamatan Donggo.

Saya baru saja keluar dari kelas 5, tetapi Elina, seorang inspirator dengan nama asli Baiq Elina Yuliandari, masih terlihat asyik bersama murid kelas 1 dan 2 di halaman samping sekolah. Di bawah pohon kemiri yang rimbun dan sejuk itu, ia mengajak anak-anak itu bermain sambil belajar. Wanita lajang yang sehari-hari kerja di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Bima ini sangat lincah dan begitu akrab dengan anak-anak.

Tetapi itu pun tidak berlangsung lama. Ketika saya berjalan mendekat, ternyata Elina mulai membubarkan anak-anak itu. ‘’Tetap semangat ya,’’ teriak Elina disambut riuh anak-anak.

Aksi Baiq Elina di kelas saat menjadi guru sehari.

Setelah mereka bubar, yang tersisa adalah  Pak Herman atau biasa disapa Om Bre. Bre itu nama desa di Kecamatan Palibelo. Kawan-kawan komunitas fotografer Bima, sangat mengenal sosok pria sederhana ini. Selain Om Bre, ada juga Ryan, seoang fotografer lain yang hunting ke seluruh lokasi KI.

Seorang anak begitu berminat dengan peralatan fotografi yang dipegang Ryan. Dia mendekat dan masuk dalam rangkulan. Ryan merespon dengan mengajari hal-hal dasar, misalnya cara memotret obyek. Dia amat kegirangan karena bisa melihat target di layar kamera. Target bidikannya adalah saya yang berada tepat di depan mereka. Saya pun mengabadikan momen langka itu.

Ryan bersama seorang siswa yang begitu tertarik dengan peralatan fotografi.

Di bawah rimbunan kemiri itu, saya sempat istirahat sebelum kembali masuk kelas pada pukul 09.30 Wita. Giliran saya adalah kelas 6. Saat itu saya sempat sampaikan kepada Om Bre, bahwa saya mulai kurang fit. Seperti biasanya harus ada asupan yang masuk. Saat itu saya tidak memutuskan untuk mengambil roti yang saya sediakan di mobil. Saya memilih kembali masuk kelas lebih dahulu. Rupanya keputusan saya itu tidak tepat.

Saat mengajar, keringat dingin saya sudah mulai keluar. Saya sudah mulai tidak fokus. Saya sampaikan pada relawan fotografer, Lalu Muhammad Umar Alfaruq, bahwa saya mulai tidak bisa berpikir. Kadang pertanyaan yang sama saya ulang-ulang kepada murid kelas 6 itu. Saya harusnya bisa memberi inspirasi dengan menceritakan tentang profesi saya. Untuk sekadar merangkai kata-kata saja, rasanya saya sudah benar-benar tidak mampu.

Baca juga:

Catatan Khas dari KI 4 Bima: Ada yang Sebut Teroris sebagai Profesi

Catatan Khas dari KI 4: Panggil saja Kakek, bukan Kakak

Catatan KI 4 Bima: Donggo yang tidak lagi Dingin

Saya akhirnya meminta maaf kepada anak-anak soal kondisi saya itu. Mereka memaklumi situasi itu. Saya minta mereka tetap semangat belajar dan rawat cita-citanya, sebelum akhirnya salam terakhir dan pamit keluar kelas. Saya bergegas ke mobil yang saya parkir depan rumah ibu Haida, tempat kami menginap. Kebetulan mobil yang diparkir di tempat terbuka itu mulai panas, sehingga sekalian saya geser ke depan sekolah. Setelah memarkir mobil, saya ambil dua lapis roti tawar yang dibeli saat berangkat dari Kota Bima. Saya makan secepat yang saya bisa, sambil membayangkan Tanboy Kun, seorang youtuber yang suka makan enak dalam porsi ekstrim di YouTube. Pemilik nama asli Bara Ilham dari Padang ini, bisa menghabiskan sarapan empat bungkus ukuran jumbo nasi Padang dengan lahapnya. Kanalnya cukup terkenal dan sudah di-subscribe oleh sekitar 5,66 juta orang.  Kabarnya pendapatan Tanboy Kun dari YouTube antara Rp6 juta sampai Rp70 juta per hari.  Atau sekitar Rp180 juta sampai Rp2.1 miliar perbulan. Bahkan kabarnya, bisa tembus Rp34 miliar setahun. Sambil membayangkan cara dia makan, lahap juga saya selesaikan roti tawar dan minum sebotol air mineral Cleo itu.

Ibu Rostinah, KCD Donggo saat memberikan testimoni tentang KI Donggo.

Karena kondisi itu, saya akhirnya memutuskan tidak masuk di kelas 1 dan 2. Saya bergabung dengan para guru dan terlibat diskusi dengan banyak topik. Bahkan Ibu Rostinah, Kepala Cabang Dinas (KCD) Dikpora Kecamatan Donggo sempat datang menyapa saya. ‘’Selama ini saya hanya mendengar nama saja pak Khairudin. Sekarang alhamdulillah bisa lihat langsung orangnya. Lembo ade ya pak, semoga betah di Donggo,’’ katanya sambil menyalami saya. Setelah ngobrol beberapa saat, bu Rostinah izin pamit untuk meninjau lokasi KI lainnya.

Tidak terasa, kawan-kawan relawan yang ada di kelas pun keluar setelah bel berbunyi. Jam terakhir usai. Anak-anak keluar dan berkumpul di sisi selatan sekolah. Di situ sudah ada sebuah Pohon Harapan. Di situlah, seluruh anak akan menggantungkan cita-cita mereka secara simbolis. Mereka sudah menulis cita-cita mereka dalam secarik kertas yang sudah disiapkan oleh fasilitator. Awalnya berebutan sehingga suasananya sempat gaduh. Fasilitator akhirnya mengatur mereka secara bergiliran. Ini juga bentuk pendidikan karakter, agar mereka bisa saling menghargai dan terbiasa dengan budaya antre, Kegembiraan terpancar dari wajah anak-anak yang telah memperoleh pengalaman yang berbeda sehari itu.

Anak-anak sedang menggantungkan cita-citanya di Pohon Harapan.

Mereka berlari ke sana ke mari sambil memperlihatkan kartu cita-citanya yang akan digantung di Pohon Harapan. Tidak sedikit di antaranya yang lengket dengan para inspirator. Mereka suka dan tidakingin kelas berakhir. Ada kesan mereka tak ingin momen itu lewat begitu saja. Jika bisa, ingin diulang di lain waktu. Bagi mereka, inilah hari spesial yang tak akan mereka lupakan. Berjumpa dengan sejumlah orang, sehari, dengan banyak profesi. Pasti akan tertanam sangat dalam di benak mereka. Di dalam alam bawah sadar mereka yang akan teringat sampai kapan pun. Inilah memang yang menjadi tujuan dari Kelas Inspirasi ini. Sehari mengajar, seumur hidup menginspirasi. Semua inspirator hari itu mengeluarkan segala kemampuan terbaiknya. Mbak Pipit, Elina, Iin, Bagas, Om Opick, dan juga saya telah turut mewarnai hari, mewarnai obsesi, juga harapan masa depan mereka.

Usai sesi foto bersama, kami kembali ke kediaman ibu Haida untuk makan siang. Selanjutnya, sesi bebas untuk eksplor Donggo dengan kehidupannya yang unik. Kawan-kawan memilih ke Bukit Mpili, sementara saya mohon izin sejenak bergeser ke Doridungga. (khairudin m.ali/bersambung)

Share
  • 56
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top