Berita

Catatan Khas dari KI 4 Bima: Panggil saja Kakek, bukan Kakak… (2)

    Keceriaan pagi para relawan bersama murid SDN O’o saat berangkat ke sekolah. (foto: Alfaruq)

PUKUL 04.36 Wita saya bangun. Mungkin karena agak lelah, tidur saya terlampau lelap. Saya tidak mendengar suara azan subuh. Hanya Lalu Muhammad Umar Al-Faruq yang beruntung dapat shalat subuh di masjid. Berikut lanjutan Catatan Khas saya tentang kegiatan Kelas Inspirasi 4 Bima, di SDN O’o Kecamatan Donggo.

Malam yang tidak terlampau dingin di puncak Donggo, kami tidur tidak harus memakai selimut tebal. Suhu udara hanya terasa sejuk. Rekan kami yang wanita, tidur di di dalam kamar. Saya sendiri memilih tidur di ruang keluarga bu Haida, di depan pesawat televisi, melintang utara selatan.

Cukup lelap. Tanpa mimpi. Suara fasilitator kami, Nur Eka Jauhari di pagi gelap itu membangunkan seisi rumah. Selain sibuk di dapur untuk membantu menyiapkan sarapan, Eka, panggilan akrabnya, juga mengingatkan kami untuk bergegas shalat dan mandi supaya tidak antre.

Bias mentari pagi di celah daun dan ranting pohon di Desa Mpili.

Saya kemudian memilih mandi paling awal, setelah shalat subuh di ruang depan. Sejumlah kawan sibuk tanya apakah airnya dingin. Saya bilang tidak, airnya malah hangat. Karena paling awal mandi, saya berlama-lama di kamar mandi itu. Di luar ada yang nyeletuk, ‘’Bawakan kasur buat Pak Khair di kamar mandi,’’ katanya disambut tawa oleh yang lainnya.

Setelah rapi, saya sempat berjalan-jalan di lingkungan Desa Mpili itu. Udara pagi di atas bukit, pasti sangat bersih. Saya menghirup sepuasnya  sambil menarik napas panjang berulang-ulang. Saya ingin memberikan asupan udara segar itu untuk paru-paru saya. Saya berjalan ke sisi utara kampung. Terdengar kicau burung yang hinggap di dahan kemiri yang daunnya sedang memutih,  Di kejauhan timur, cahaya pagi mulai nampak. Indah sekali mengabadikan semburat cahaya di antara rimbunnya dedaunan dan celah ranting. Beberapa rumah warga terlihat ada antena televisi UHF.

Setelah semuanya mandi, kami pun sarapan. Pukul 07.00 Wita, kami sudah harus berada di sekolah. Sesuai jadwal yang telah disusun, semuanya sudah diatur durasinya. Kapan dan berapa lama waktu untuk upacara, masuk kelas, juga rehat. Sesuai jadwal, saya akan masuk pertama di kelas 3, selanjutnya kelas 4, dan seterusnya sampai seluruh kelas. Ini juga tentatif sifatnya. Bisa jadi di jam terakhir saya tidak bisa menyelesaikan, jika waktu yang diatur tidak efisien digunakan.

Pukul 07.02 Wita, kami sudah berjalan ke sekolah yang jaraknya hanya sekitar 80 meter dari tempat kami menginap. Murid-murid SDN O’o sudah banyak yang hadir sejak pukul 06.30 Wita. Mereka terlihat rapi dan bersih. Di antaranya ada yang menenteng jerigen air. Mereka menjadi perhatian relawan videografer dan fotografer. Belum tiba di sekolah, sudah banyak momen tercipta. Kawan relawan lain pun ikut berpose dengan selfie bersama generasi masa depan bangsa itu.

Ini pesawat televisi kami, TV KI4 SDN O’o Donggo.

Saya sendiri menenteng pesawat televisi yang terbuat dari kardus semalam. Kreatornya adalah Abdul nama asli Baba Selatan dan Sri Maulana Abimanyu. Ini nama lengkap videografer, pria kalem yang biasa disapa Abhy. Pria cool ini sempat menjadi bahan candaan, ketika mengenalkan diri di depan apel pagi, karena menyebut nama awalnya Sri. ‘’Nah kaaaan,’’ kata saya disambut tawa oleg mbak Pipit, Kepala Sekolah Alam Al-quran Bima.

Lebih dari 100 murid sudah berdiri berdasarkan kelasnya. Semua mengenakan pakaian seragam Pramuka. Eka meminta izin kepada pak Burhan, sang Kepala Sekolah, untuk mengambil alih komando dan mengatur barisan. Wanita lincah yang tidak ingin dipanggil ibu ini, pun mengenalkan diri. ‘’Panggil saja kakak Eka ya, jangan panggil ibu. Karena kami adalah kakak-kakak inspirator, bukan ibu guru,’’ katanya.

 

Baca juga:

Catatan KI 4 Bima: Donggo yang tidak lagi Dingin

Kelas Inspirasi Bima yang Luar Biasa

Serunya Kelas Inspirasi SDIT Insan Kamil

Semangat Siang Relawan Kelas Inspirasi

Kelas Inspirasi Bima Kembali Digelar, Profesi Milenial seperti Youtuber Turt Serta

 

Saya sendiri mengenalkan diri sebagai mantan wartawan. Bukan wartawan lagi karena sudah mengundurkan diri. Awalnya kawan-kawan bingung dengan profesi saya. Tidak mungkin ditulis pensiunan. Akhirnya muncul juga ide menyebut saya PENULIS, karena masih suka menulis. ‘’Iya penulis saja,’’ kata saya. ‘’Tapi jangan panggil saya kakak, panggil saja kakek,’’ yang disambut riuh.

Eka meminta kepada para guru, untuk santai dan istirahat saja seharian ini. ‘’Kami yang ambil alih untuk mengajar dan bermain dengan murid-murid di kelas,’’ katanya dengan pengeras suara.

Yang lucu, ketika relawan diminta untuk meneriakkan yel-yel. Tidak kompak sama sekali. Saya pun sempat intip kata-katanya di layar hp. Tetapi tetap saja tidak bisa, karena tanpa persiapan yang cukup. Eka meminta maaf kepada para guru dan murid, karena yel-yel yang kurang kompak. Namun begitu, para guru dan murid tetap gembira dan ceria dengan suasana pagi itu. ‘’Ayo kita mulai bermain,’’ kata Eka.

Bukan hanya kami yang mengenalkan diri, tetapi para guru juga. Saya selalu meminta para guru untuk sertakan status usai menyebut nama. ‘’Status status status, udah menikah apa belum?’’ teriak saya. ‘’Soalnya ada yang tanya seh…. Relawan ada juga yang jomblo,’’ disambut riuh tertawa.

Guru dan para relawan.

Pada kesempatan menyampaikan sambutan, Kepala SDN O’o, Burhan, S.Pd., mengungkap banyak hal. Selain harapan, juga menceritakan realitas di sekolahnya. ‘’Kebanyakan anak-anak hanya mengenal pegawa negeri sipil sebagai cita-citanya. Saya berharap, para relawan dan inspirator bisa membantu membuka wawasan mereka, bahwa masa depan itu bukan hanya menjadi pegawai negeri,’’ katanya.

Pak Burhan juga mengucapkan terima kasih atas dipilihnya Donggo umumnya, dan SDN O’o khususnya sebagai kokasi Kelas Inspirasi 4 Bima. ‘’Terima kasih atas dipilihnya sekolah kami dan Donggo umumnya sebagai lokasi pelaksanaan Kelas Inspirasi. Jika tersua hal-hal yang kurang berkenan, kami mohon dimaklumi dan dimaafkan,’’ ujarnya.

Masalah utama yang dihadapi oleh masyarakat Donggo umumnya, adalah kurangnya air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Sumber air baku kian hari kian kering. Untuk kebutuhan sehari-hari, masyarakat harus mengambil dari sumber air yang lokasinya cukup jauh. ‘’Kami harus sewa motor untuk mengambil air,’’ ujar warga.

Untuk kebutuhan air di sekolah, beberapa murid ditugaskan secara bergilir membawa air dengan jerigen semampu yang mereka bisa bawa. Jerigen itu dibawa kembali lagi saat mereka pulang sekolah. ‘’Secukupnya untuk keperluan kamar mandi,’’ ujar seorang guru.  (khairudin m.ali/bersambung)

 

Share
  • 43
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top