Berita

Catatan KI 4 Bima: Donggo yang tidak lagi Dingin

Para relawan KI 4, SDN O’o Donggo begadang untuk persiapkan bahan ajar Kelas Inspirasi. (*)

HARI sudah sore. Harusnya pada Jumat 23 November 2019, saya bergabung dengan puluhan orang lain mengikuti pelepasan di Museum Asi Mbojo. Kami adalah relawan Kelas Inspirasi (KI) 4 Bima. Kami para relawan akan berada di sepuluh Sekolah Dasar di Donggo, mulai Jumat malam hingga Ahad pagi. Berikut Catatan Khas saya.

Saya kebagian bertugas di SDN O’o. Rencananya akan menginap di sana untuk menjadi guru sehari, bersama sejumlah inspirator lainnya. Karena masih dalam proses penyembuhan, saya perlu melakukan persiapan yang matang. Mungkin maag saya bermasalah, sehingga saya tidak bisa telat makan. Setelah mampir membeli  roti tawar di Illocake, saya juga membeli kue mungil bakpia.

Saat mampir di sebuah toko, saya bertemu dengan Bahtiar, Ketua TDA 1.0. Bos Aisy food and beverages ini bukan hanya membayar belanjaan saya, tetapi juga menitipkan lima paketan produk Aisy buat kawan-kawan saya di Donggo.

Ketika sedang menunggu paketan disediakan oleh staf Aisy, telepon seluler saya berdering. Ada nomor tidak dikenal yang masuk. Peneleponnya ternyata Bagas, salah seorang yang menjadi relawan dengan saya di lokasi yang sama. Dia ternyata satu-satunya peserta yang ketinggalan kendaraan. ‘’Bapak posisi di mana? Boleh saya ikut barengan ke Donggo?’’ ujarnya.

Saya menjemput Bagas di Museum Asi Mbojo. Pria muda usia ini bernama lengkap Prasetya Ali Sagas. Dia adalah guru di SDN 24 Kota Bima. Kami berdua pun meluncur ke Donggo setelah makan sate kambing dekat Terminal Dara. Sore itu waktu telah menunjuk angka 17.22 Wita. Lagu kenangan Ebiet G. Ade menemani perjalanan kami. Banyak hal yang kami obrolkan sepanjang perjalanan itu.

Tiba di Sondosia, musik dan penyanyi berubah. Tembang kenangan ‘’Jangan Salah Menilai’’ yang di-cover ulang terdengar di speaker mobil. Lagu ciptaan Wences Leus Maria pada era 80-an ini, dipopulerkan oleh  Trio Elexis.  Lagu yang sedang digemari dan banyak di-cover ulang di YouTube, mengubah suasana. Karena saya pun turut menyanyikan lagu itu.

‘’Jangan kau salah menilaiku, dengan semua sikap diam ku ini. Jauh di dalam lubuk hatiku, tersimpan indah, tersimpan indah nama mu…..

Sayaaaang… mengapa masih saja kau ragukan cintaku.. Ketulusan hatiku ku persembahkan hanya untuk mu… Sayaaang andaikan kau dapat melihat hatiku, kau akan menyadari betapa ku sangat mencintai mu….’’

Lagu ini sebenarnya asyik jika dinyanyikan dengan nada tinggi seperti Tagor Pangaribuan atau Kalek. Tetapi bisa juga dengan nada sedikit rendah seperti  Dilla Noverra. Tetapi suara penyanyi Minang Vanny Vabiola, pun banyak digemari. Buktinya sudah ditomtom sebanyak 1,6 juta kali di YouTube.

Suara Tagor yang diposting di YouTube oleh Global Musik Era Digital lima tahun silam, telah ditonton 48 juta kali. Artinya lagu ini memang banyak digemari.

Selesai lagu Jangan Salah Menilai, muncul lagu Minang Pulanglah Uda. ‘’Bapak bisa bahasa Minang?,’’ tanya Bagas. Saya hanya suka pada lagu ini. Sering saya putar kalau sedang dalam perjalanan, sampai saya menghafal syairnya. Pernah suatu waktu saya bilang sama istri saya ingin sekali mengunjungi kota Padang, berfoto di jembatan Kelok Sembilan. Bisa jadi, ruh lagu ini masuk mempengaruhi imajinasi saya tentang sebuah tempat bernama Padang.

Setelah melewati Puskesmas Soromandi yang sedang dibangun, azan Magrib mulai mengalun. Jarak antara Bajo di Soromandi dengan perbatasan Donggo di Ndano Ndere sekitar 8 kilometer. Desa pertama yang kami lalui adalah Doridungga, kemudian Kala, dan O’o. Saya sempat mampir di kediaman kerabat di Desa Doridungga. Saya ditanyakan apakah membawa selimut. Karena menurut beliau, di puncak hawanya sangat dingin. Saya bilang hanya membawa kain saja. Beliau ngotot ingin memberikan selimut, takutnya saya kedinginan apa lagi malam hari. ‘’Bawa selimut saja, nanti di puncak dingin sekali,’’ katanya kepada saya.

Setelah mampir beberapa saat, kami melanjutkan lagi perjalanan. Kami memutuskan mampir di masjid Alqomariah, Dusun Kamunti, Desa O’o untuk melaksanakan shalat Magrib. Kami ketinggalan shalat berjamaah, karena masbuq. Hanya dua anak yang tersisa di masjid pinggir jalan ini. Salah satunya memilih tidak pulang karena ingin mengaji. Dia adalah Arfin, murid Kelas 2 SMPN Negeri 1 Donggo. ‘’Saya kadang tidak pulang karena ingin melancarkan bacaan (Alquran) saya,’’ katanya kepada saya.

Usai shalat, kami menanyakan lokasi lokasi SDN O’o. Yang mengejutkan adalah, lokasinya masih cukup jauh. Masih sekitar 3.5 kilometer lagi. Menurut warga, lokasi SD itu di Desa Mpili. Lho kok bisa SDN O’o berada di Desa Mpili? Warga bercerita, awalnya Desa Mpili adalah wilayah Desa O’o, tetapi setelah pemekaran, nama SD itu tidak diubah sampai sekarang. Maka jadilah SDN O’o di Desa Mpili.

Karena kami belum terlalu mengenal lokasi sekolah dasar itu, beberapa kali terpaksa bertanya kepada warga lokal. Pada saat bertanya di pertigaan,  saya dengan Bagas bertemu dengan Taufikurrahman, kawan relawan satu lokasi dengan kami. Anggota Bawaslu Kabupaten Bima ini pun akhirnya bersama kami menuju SDN O’o sekitar pukul 18.55 Wita.

Kami menginap di rumah Ibu Haida, Wali Kelas 1.  Relawan yang telah tiba lebih awal adalah Eka, Iin, Elina, Faruq, Abdul alias Baba Selatan, Pipit, juga Abhy.  Mereka adalah para fasilitator, videografer, fotografer, dan para inspirator. Di antara kami sudah ada yang saling kenal. Yang belum kenal, memanfaatkan momentum itu sebagai media silaturahmi.

Di rumah ibu Haida telah disediakan makan malam. Ayam goreng, sayur nangka, bandeng bakar, dan aneka menu lainnya. Saat kami sudah menghadapi aneka hidangan itu, tiba-tiba ada yang teriak, ‘’Apakah ada yang tidak suka makan ayam?’’ Kami semua tertawa mendengar pertanyaan itu.

Usai makan, malam itu heboh dengan berbagai persiapan untuk Kelas Inspirasi keesokan harinya. Bagi yang muda-muda, mereka begadang hingga segala keperluan diselesaikan. Baba Selatan sibuk browsing untuk melihat gambar pesawat televisi jadul. ‘’Oh ternyata channel-nya bulat ya, tempatnya di samping,’’ katanya.

Tamu yang menyabangi kami pun silih berganti. Selain pak H Burhan, S.Pd, kepala SDN O’o, ada juga kawan-kawan pendamping desa dan sejumlah pemuda Donggo. Di antaranya adalah Yono dan kawan-kawannya. Kami terlibat obrolan seru. Mulai dari masalah pembalakan liar, hilangnya mata air, hingga masalah politik. Mereka rata-rata sudah mengenal nama saya, cuma belum sempat jumpa langsung. Inilah yang membuat mereka semangat mengobrol banyak hal dengan saya.  Mereka pamit sekitar pumul 22.15 Wita.

Selain yang datang langsung, ada juga yang menghubungi saya via handphone. Ada yang protes karena saya tidak mampir ke rumah mereka.

Saya kemudian memilih tidur lebih awal, mengingat kondisi saya yang belum pulih sepenuhnya. Hingga berangkat ke peraduan, saya tidak merasakan dingin seperti yang dikhawatirkan oleh kerabat di Doridungga sebelumnya. Ternyata Donggo sudah tidak dingin lagi. (khairudin m.ali/bersambung)

 

 

Share
  • 39
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top