Berita

Aksi dan Reaksi

Oleh: Asikin Rasila)*

Adakah kemunculan api itu, tanpa didahului oleh asap? Perkakas pertanyaan ini, telah menukilkan sebuah istilah, “mustahil ada asap kalau tidak ada api”. Adagium ini bukanlah sebuah ungkapan yang asing terdengar di telinga, bahkan narasi di atas, menjadi kata kunci dalam pencarian pembenaran sebuah motif peristiwa, Oleh siapa, mengapa terjadi, dimana kejadiannya, kapan kejadiannya dan bagaimana peristiwa itu terjadi, artinya rumus klasik 5 W + 1 H (baca: who, why, where, when, dan How) menjadi pintu masuk untuk mengetahui sebuah titik kebenaran dari sebuah peristiwa. Dengan mengidentifikasi motif-motif yang terjadi, akan menguatkan argumentatif sebagai bentuk justifikasi untuk mengeliminasi statement yang dianggap keluar dari “sintak” peristiwa.

Idiom dari adagium di atas mengandung perspektif yang sama bahwa reaksi itu muncul karena ada aksi, seumpama setiap anatomi anggota tubuh manusia sangat berbeda ketika mendapatkan reaksi. Ketika bersuara, ada yang merasa tersanjung, ada yang merasa tersinggung, ada yang merasa tidak suka, ada yang merasa benci, bahkan ada yang merasa marah, ini semua reaksi yang berbeda ketika seseorang menyampaikan aksi verbalnya (baca:statement).

Matapun demikian adanya, tak luput dari reaksi, ketika mata memandang sebuah obyek yang dianggap menarik, magnet stimulus berbeda reaksinya dan akan berpengaruh kepada psikologi (baca:kesenangan dan kebahagiaan) hati manusia. Berlawanan dari itu, justru akan memberikan sebuah reaksi (baca:respon) yang sangat berbeda, seumpama, ketidaksukaan, kengerian, kebosanan dan ketakutan, yang diisyaratkan dari bentuk anatomi gestur. Dan tanpa kita sadaripun seluruh yang melekat dari anggota tubuh akan memberikan reaksi yang berbeda, dan secara sporadis respon itu mewakili bahasa tubuh yang nampak.

Aksi dan reaksi ini, mengingatkan pada pelajaran fisika yakni hukum newton point 3, menjelaskan bahwa jika suatu benda mendapatkan sebuah gaya, maka benda tersebut akan mengirimkan gaya yang berlawanan arah dengan kekuatan yang sama besar kepada sumber gaya tersebut.

Sebuah analogi hukum ini, memberikan perspektif equivalen dengan kondisi yang terjadi pada setiap interaksi kehidupan manusia. Namun tidak serta merta reaksi yang didapatkan dari sebuah gaya memiliki perbandingan yang sama, namanya kondisi sosioliogis masyarakat sangat berbeda dan harus diklasifikan ketika dipandang dari kemutlakan ilmu sains. Artinya terlepas sudut pandang sains, sebuah reaksi yang muncul bisa melebihi dari sebuah ekspektasi.

Seperti apa kejadian itu? Saban hari yang kita lalui terlampau banyak peristiwa-peristiwa atau kejadian yang terekpose dari berbagai media masa (cetak, elektonik), salah satu peristiwa yang melekat beberapa tahun yang lalu, bahkan menjadi sebuah perbincangan skala nasional maupun internasional, tentang ujaran penistaan agama yang lontarkan oleh mulut “si ahok”, dia tidak menyangka akan menjadi “bumerang” (baca:senjata makan tuan) atau “mulutmu harimaumu”, akibatnya apa? Jutaan muslim memenuhi ibukota negara, memprotes bahkan pada muaranya berakhir di “hotel prodeo”, inilah sebuah reaksi umat muslim indonesia untuk melakukan aksi, yang dikenal dengan “aksi 212”. Hanya karena penyampaian verbalnya yang tidak terkontrol mengakibatkan reaksi yang sangat besar.

Sementara ditingkat lokal (baca:daerah) banyak sekali kejadian-kejadian disekitar kita, tanpa disadari ujaran verbal yang banyak mengandung makna bahkan multitafsir seperti unggahan – unggahan yang terupload di media sosial mempermudah penyebaran informasi yang positif dan negatif . tentu hal ini mengandung reaksi, sebesar apa reaksi itu? Tergantung dari muatan-muatan konten apakah itu bersifat edukatif, religi provolaktif (baca:positif dan atau negatif) dan yang paling heboh adalah konten “hoax”.

Dari muatan-muatan yang yang berseliweran di jagad maya ini, banyak sekali reaksi yang muncul sehingga perdebatan yang tidak berujung tidak bisa dihindari. Bahkan ada yang sampai melaporkan ke pihak yang berwajib, atas dasar, salah satunya adalah pencemaran nama baik. Bahkan dengan penggunaan media sosial ini, terejawantah dalam “real action”, katakanlah bagaimana mahasiswa-mahasiswa melakukan sebuah aksi demonstrasi (baca:murni aspirasi rakyat, bukan ditunggangi), bagaimana masyarakat melakukan aksi prostes, baru-baru ini pilkades serentak telah dilaksanakan, namun masih ada sebagian masyarakat yang tidak terima dengan hasil perhitungan, sehingga ada yang membuat ulah, melempar rumah masyarakat yang kontra (baca:tidak sejalan) sampai-sampai harus memblokir jalan utama. Inilah bentuk reaksi yang rawan diprovokasi. Kenapa demikian? Karena api itu tidak akan menjalar tanpa disulut.

Kita tidak bisa menghindari “aksi dan reaksi” pada setiap helaan aktifitas kehidupan manusia, cara pandang dalam memaknai filosofi visi-misinya pun berbeda. Ketika aksi dan reaksi mendapatkan sebuah gaya atau dorongan (baca:presure) yang berbeda, porsi yang didapatkan tidak sama. Dinamika yang bangun dari “aksi dan reaksi” akan tetap mengikuti layar hembusan angin, sepanjang layarnya tidak menentang arah datangnya ujung mata angin.

Kehadiran “ kearifan” dalam memaknai diksi “aksi dan reaksi” melahirkan sebuah perspektif yang berbeda dan perbedaan inilah yang menjadi gradasi warna, sebagai spirit untuk membingkai arti sebuah “gejolak”.

Menutupi tulisan singkat ini : Menjaga vokal verbal dan non verbal, Seumpama kita menuliskan narasi deskripsi dalam sebuah cerita yang melibatkan kehadiran “panca indra” untuk menautkan jalinan lekuk-lekuk detail penjiwaan. Wallahu’allam Bissawab, (*)

* Penulis adalah Pengurus Dewan Kesenian Kota Bima, Menulis Buku Antologi Cerpen “SAIS”, Menulis Buku Antologi Puisi bersama “Kabar dari Teluk” dan saat sedang menggarap Antologi Puisi dan Cerpen yang lain.

Share
  • 69
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top