Berita

Aku Saksikan Kematian yang Indah

Pertolongan pertama dilakukan dengan menekan dada berulang-ulang oleh H Ahmad.

SEMUA yang bernyawa pasti akan mati sebagaimana firman Allah: “Dan sekali kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang waktu kematiannya, dan Allah maha mengenal apa yang kamu kerjakan”. (QS Al Munafiqun : 11). Dan kematian itu telah pula ditentukan waktunya: “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya”. (QS Ali Imran : 145).  Berikut kisah kematian terindah, yang saya sajikan dalam Catatan Khas kali ini.

AZAN isya’ dikumandangkan. Jamaah masjid Al-Hidayah BTN Penatoi Kota Bima bergegas meninggalkan aktivitas lain. Mereka segera menuju ke masjid mungil sisi barat perumahan pertama di Bima itu. Dahulu, masjid ini hanya mushalah yang dibangun para tetua. Belum lima  tahun belakangan ini, berubah  menjadi masjid, sehingga bisa dipakai untuk shalat Jumat.

Masjid ini kalau terisi penuh, hanya mampu menampung enam shaf kali 36 jamaah. Untuk wanita hanya menampung dua shaf. Rata-rata shalat wajib, diisi tiga shaf oleh jamah. Sementara shalat Jumat biasanya penuh. Yang shalat bukan hanya warga BTN Penatoi, tetapi juga pekerja di sekitar perumahan.

Hari itu, Kamis 28 November 2019. WhatsApp Group BTN Penatoi sempat membahas ceramah Ust. Dr. Das’ad Latif, Ph.D terkait pengelolaan dana masjid. Karena banyak usulan, lahirlah keputusan untuk diadakan rapat pengurus pada Jumat, keesokan harinya. Ketua Masjid H Ahmad Jafar menentukan waktu seusai shalat isya’.

Almarhum sudah dipastikan meninggal dunia.

Azan kembali berkumandang dari corong masjid ketika tiba waktu shalat isya’ pada Jumat 29 November 2019. Seperti biasa, jamaah kembali mendatangi masjid. Kali ini jumlahnya lebih banyak karena akan ada rapat pengurus. Ada banyak aspirasi yang sudah lebih dahulu masuk di group WA.

Seperti biasa, ada satu jamaah yang selalu hadir lebih awal. Bahkan jarang pulang ke rumah antara shalat magrib dengan shalat isya’. Menunggu waktu shalat di antara dua waktu itu, dimanfaatkan untuk berzikir dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Belaiu adalah pembina masjid Al-Hidayah, Drs H Muhammad Saleh bin H Ahmad. Pensiunan Kepala SMA Negeri 2 Kota Bima ini selalu berdiri tepat di belakang imam. Bukan hanya shalat isya’ tetapi lima kali sehari, kecuali beliau keluar daerah atau uzur. Shalat isya’ pada Jumat itu pun beliau hadir seperti biasanya.

Usai shalat isya’, zikir, doa, dan shalat sunnah, jamaah mulai ambil posisi karena ketua Masjid Al-Hidayah, H Ahmad sudah mulai memimpin rapat. Duduk di depan hadap timur, ada H Ahmad, kemudian di selatannya H M Saleh dan jamaah lainnya. Tadinya H M Saleh duduk agak dekat dengan H Ahmad, tanpa sandaran. Tetapi H Rafidin, salah satu pembina masjid, memanggil beliau untuk bergeser agak ke selatan supaya bisa bersandar di dinding masjid. ‘’Saya panggil beliau supaya tidak capek duduknya,’’ ujar H Rafidin.

Usai membuka rapat dengan sedikit membacakan wacana yang berkembang di group WA, H Ahmad selanjutnya memberikan kesempatan pertama kepada H M Saleh untuk memberikan arahan dan masukan terkait pengembangan masjid. Hal ini sudah biasa setiap rapat. Beliau ini sangat semangat kalau menyangkut ibadah.

Dengan suara lantang dan didengarkan juga oleh warga karena menggunakan microphone, H M Saleh menyampaikan hal-hal penting terkait dengan pengembangan masjid Al-Hidayah.

Hal pertama adalah soal pentingnya merencanakan penambahan luas masjid. Beliau sangat setuju agar pengurus bisa mengusahakan penambahan lahan ke barat. ‘’Jumlah jamaah semakin hari akan semakin banyak. Maka wajib hukumnya, fardhu ain, untuk membangun masjid,’’ katanya.

Setiap warga menurut beliau harus istiqomah membantu pembangunan masjid karena amalnya akan terus mengalir walau kita sudah meninggal. ‘’Ini merupakan salah satu jenis amal jariah yang akan membantu kita setelah kita meninggal. Amalnya tidak terputus,’’ katanya.

Warga BTN Penatoi berdatangan setelah mendengar pengumuman.

Hal lain yang menjadi perhatian beliau adalah penambahan fasilitas pendukung, serta pentingnya memperhatikan keseimbangan berdirinya jamaah dengan imam. ‘’Harus diperhatikan posisi berdiri jamaah dengan imam. Jangan sampai berat sebelah. Saya perhatikan, jamaah shalat Jumat tidak ada yang berdiri di sayap utara masjid, karena petugas masjid tidak menggelar sajadah di sana,’’ katanya sambil menunjuk sayap masjid.

Usai beliau, giliran selanjutnya adalah H Rafidin, kemudian Ketua RT, Ust Deddy Rosyadi yang berada di posisi timur. Di situ ada saya, yang hanya dibatasi oleh H Putarman, tetapi langsung berhadapan dengan H M Saleh.

H Rafidin tidak banyak memberikan masukan, tetapi setuju dengan apa yang disampaikan oleh H M Saleh. Sementara Ust Deddy Rosyadi menghendaki saldo nol untuk masjid Al-Hidayah. ‘’Konsep saldo nol ini meniru pengelolaan keuangan masjid Jogokariyan di Jogja. Saya pernah mengikuti bimbingan singkat oleh pengurusnya. Luar biasa,’’ kata Deddy.

Alasannya, supaya uang jamaah yang menyumbang ke masjid akan berkah, pahalanya mengalir terus. Kalau ditahan dan disimpan di bank, amal-amal penyumbang juga tertahan. ‘’Kira-kira seperti itulah konsepnya,’’ kata Deddy.

Jam di tangan sudah menunjuk angka 20.26 Wita. Giliran H Putarman juga memberikan masukan. Ada beberapa hal yang disampaikan H Putarman seperti soal konsep pengembangan yang harus dibuat rencana yang matang. Jangan sampai terjadi bongkar pasang karena itu menurutnya tidak efisien. ‘’Kita harus benar-benar mematangkan perencanaan pengembangan masjid kita, sebelum dilakukan penambahan fasilitas. Jangan sampai nanti bongkar pasang,’’ katanya.

Sekitar pukul 20.30 Wita, di saat H Putarman sedang menyampaikan pandangan dan masukannya, kami semua tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi dengan H M Saleh. Saat itu, H Rafidin di sampingnya seperti melihat H M Saleh tertidur. Saya pun melihatnya demikian, karena saya berada tepat di depan beliau. ‘’Bangun aji, kita pulang saja kalau sudah mengantuk. Tidur di rumah saja,’’ kata H Rafidin sambil menggoyangkan kaki H M Saleh supaya bangun.

Saat itu, posisi kepala beliau miring ke samping selatan dengan mata tertutup. Posisi duduk masih bersandar di dinding dan badan masih tegak. Dua kali coba dibangunkan tidak ada respon, kami pun menghentikan rapat dan mendekat ke arah beliau. H Ahmad tiba-tiba bilang, H Saleh sudah meninggal.

Kami semua yang hadir di situ kaget. Tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan menantunya, H Edy Salkam juga sempat bingung dan hanya berusaha membangunkan beliau. Kami akhirnya memutuskan untuk menidurkannya dengan posisi kepala di bagian selatan. Sempat dilakukan upaya pertolongan pertama oleh H Ahmad. Beliau memacu jantung dengan cara menekan bagian dada berulang-ulang dengan dua telapak tangan. Sempat ada respon hanya semacam menarik napas panjang. Tetapi setelahnya sepi. Tidak ada respon sama sekali dan dipastikan beliau telah menghembuskan napasnya yang terakhir, Beliau meninggal di masjid, saat masih berwudhu, dan membicarakan hal baik terkait pembangunan masjid. Ini termasuk kategori sedang beribadah juga.

Almarhum H.M. Saleh bin H Ahmad bersama istrinya, Umi Salmah Sahidu foto dengan cucu (tengah). Foto; Dayat

Tidak satu pun yang mendengar atau melihat kejadian awalnya. Tidak ada tarikan napas panjang, atau lenguhan, tidak ada gerakan anggota badan atau tangan meminta tolong, tidak ada juga ada reaksi spontan anggota badan yang merespon rasa sakit misalnya. Semuanya sunyi, orang tua, guru, dan panutan kami itu pergi hanya beberapa saat setelah menyampaikan wejangannya. Kami semua warga BTN Penatoi berduka, sedih, kaget, sekaligus cemburu dengan cara beliau menghadap Sang Pencipta.

Pengumuman kepergian beliau di masjid membuat gaduh. Warga berdatangan ke masjid serasa tidak percaya. Bagaimana mungkin orang baru saja bicara memberi nasihat dengan pengeras suara, kini diumumkan sudah meninggal?

Kematian adalah rahasia Allah. Tidak satu pun makhluk yang mengetahui kapan ia akan dipanggil menghadap-Nya.

“Di mana saja kamu berada kematian akan mendapatkan kamu kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. (QS An Nisa : 78).

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (QS Ali Imran : 185).

Bunyi telapak kaki yang melangkah ke masjid setiap saat shalat lima waktu itu, kini tiada lagi. Pria ramah yang selalu menyalami orang yang dilewatinya saat ke masjid itu, sudah tidak ada lagi. Nasihat-nasihatnya sudah tidak terdengar lagi. Ketegasannya sudah tidak lagi bisa kami rasakan. Disiplinnya menjaga waktu pun hanya tinggal kenangan. Semoga ini semua akan menjadi ibrah bagi kami yang pernah berada di sekitar almarhum.

Selamat jalan aji. Insya Allah husnul khatimah. Doa terbaik kami selalu dikirimkan untuk mu. Kami iri dengan cara mu meninggalkan kami. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa dan kesalahan almarhum. Sungguh aku diberi kesempatan untuk menyaksikan sebuah kematian yang sangat indah.  (khairudin m. ali)

 

Share
  • 1.2K
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top