Berita

Gebrakan Gila Moringa

Nasrin Muhtar saat memberikan keterangan pers.

TIBA-TIBA saja kita dikejutkan oleh sejumlah penemuan. Tumbuhan yang sebelumnya biasa saja, dibuang-buang, menjadi luar biasa dan ada yang dijuluki miracle tree (pohon ajaib). Hebohnya sejumlah tumbuhan yang tiba-tiba dianggap hebat itu, kadang membuat kita berpikir semacam jebakan monyet. Berikut Catatan Khas Khairudin M. Ali.

Apakah kita ingat peristiwa bunga gelombang cinta? Atau pohon jarak? Awalnya ada yang beli mahal, begitu ramai dibudidayakan dengan membeli bibit mahal, tiba-tiba senyap tanpa kabar. Seringnya pengalaman kurang menyenangkan seperti itu, membuat kita menjadi apatis bahkan cenderung kritis. Tidak mudah percaya pada sesuatu yang baru. Seperti hari ini, santernya nama Porang dan Moringa. Sebab persoalan klasik selalu muncul, pasar.

Adalah Direktur Utama CV Tri Utami Jaya, Nasrin Muhtar yang hari ini sudah membuat aneka produk dengan bahan dasar moringa alias kelor atau parongge dalam bahasa Bima. Dua tahun belakangan ini, Nasrin fokus garap moringa. Mulai dari teh hingga tisu kecantikan. Saya kenal sekali dengan sosok ini. Wartawan pertama yang mewawancarai pengusaha jamu ini ketika hijrah dari Makassar ke Lombok pada 1993, adalah saya. Saat itu saya masih menjadi wartawan di Harian  Suara Nusa, sekarang Lombok Post.

Nasrin meninggalkan Kilo Dompu hanya berbekal ijazah SMP. Dia pergi dari rumah orang tuanya untuk menyusul sang kakak yang tinggal di Makassar. Di perantauan ia hanya menjadi cleaning service di perusahaan jamu. Sosok pekerja keras ini tidak cukup puas dengan posisi itu. Dia minta diri untuk menjadi penjual jamu dan berhasil. Atas prestasinya, dia mencapai posisi puncak sebagai wakil direktur. Selama bekerja, dia belajar urusan jamu. Dia pun memutuskan resign dan membuka usaha sendiri di Lombok.  ‘’Saya pikir setelah bisa meracik jamu, saya putuskan untuk ke Lombok dan memulai usaha sendiri,’’ katanya.

Kini Nasrin bukan lagi anak yang tidak tamat SMP itu. Dia terus meningkatkan kapasitas dirinya. Dia sudah menjadi tokoh inspiratif. Pendidikannya pun sudah magister. Dia banyak berdiri depan ruang kelas, ruang kuliah, dan forum-forum nasional. Kini ia banyak diundang mengisi kegiatan di sejumlah negara. Tahun depan ini ada undangan ke Jerman dan Rusia. Di kalangan Komunitas Tangan di Atas (TDA), Nasrin dipanggil paduka oleh para member. Dia memegang posisi penting level nasional di komunitas para pengusaha ini.

Pada 6 November 2019 lalu saya sempat mampir untuk melihat aktivitas produksi jamunya di Mataram. Kamis malam, 26 Desember 2019, kami bertemu lagi. Kali ini ia ke Bima.  Nasrin datang untuk melihat perkembangan pembibitan ratusan ribu moringa. ‘’Ada empat lokasi pembibitan yang besar. Ada di Sape, Jatibaru, Monta, dan Wawo. Totalnya lebih dua ratus ribu pohon moringa baru yang sudah tumbuh. Itu baru di Bima, belum lagi di Dompu dan Sumbawa Barat,’’ katanya.

Karyawati Jamu Tri Utami Jaya sedang bekerja.

Ini pekerjaan gila. Di tengah ketidakpercayaan banyak orang terhadap usaha ini, dia mau melakukannya. ‘’Saya yakin karena moringa ada pasarnya. Jelas. Sekarang saja saya diminta untuk sediakan tiga kontainer moringa kering per pekan oleh Korea,’’ katanya.

Tiga kontainer itu kata dia, bukan jumlah yang sedikit. Setiap kontainer berisi 24 ton daun moringa kering. Jika empat kontainer, maka itu artinya hampir 100 ton per pekan. Untuk mendapatkan satu kilogram daun moringa kering, dibutuhkan tujuh kilogram daun basah. ‘’Ayo kita coba cek, di mana adanya daun moringa yang banyak itu? Tidak ada kan? Kalau kita tidak tanam secara massal, maka kita tidak akan bisa memenuhi permintaan pasar ekspor itu. Ini kan peluang,’’ tambah Nasrin.

Dia tidak ingin kita hanya menjadi penonton ketika Nusa Tenggara Timur sudah mengekspor moringa dalam jumlah tak sedikit. Kata dia, sejatinya moringa ini milik kita. Ini pohon ajaib yang setiap hari masyarakat kita makan sebagai sayur, ditanam sebagai pagar kebun, dan kadang dibuang karena tidak dipetik. ‘’NTT belajar kepada kita, berguru kepada kita, ambil bibit juga di tempat kita. Bedanya, pemerintah Provinsi NTT menangkap peluang ekonomi ini, sementara pemerintah kitab abai,’’ katanya.

Bahkan dia menceritakan pengalaman tidak menyenangkan di Dompu. Masyarakat dihambat dan dihalangi untuk tidak tanam moringa karena dianggap mengganggu program jagung. Padahal sejatinya dua komoditas ini bisa saling mengisi dan tidak saling mengganggu. ‘’Saya sudah menempatkan mesin pengering, mesin bubuk, dan mesin saset di Dompu, tetapi saya sulit mendapatkan bahan baku,’’ ujarnya.

Gilanya Nasrin tidaklah sendiri. Ternyata masih ada satu lagi kawannya yang ketularan gilanya. Dia adalah Abdul Rauf, ST., MM, politisi Partai Demokrat yang saat ini menjadi anggota DPRD Provinsi NTB. Rauf sangat aktif kampanye moringa di setiap kesempatan. Kegilaan Rauf dengan komoditas ini bukan hanya sebatas wacana. Dia sudah mengerahkan segala daya untuk memulainya. Selain mengumpulkan puluhan truk batang moringa, dia juga yang mendorong orang-orang yang percaya kepadanya untuk memulai pembibitan moringa. Hasilnya ya itu… yang tadi disebutkan Nasrin ratusan ribu polybag itu.

Beberapa kali saya tanyakan analisis usaha tani komoditas ini, dua orang nekat ini masih sulit untuk menerangkan secara meyakinkan. Dalilnya, karena ini baru dimulai, sehingga belum bisa dikalkulasikan biaya produksi mulai dari pembibitan, penyiapan lahan, penanaman, perawatan, hingga panen, dan pasca panen. Keduanya sepakat hanya meyakinkan bahwa saat ini kita sedang menghadapi masalah hutan gundul dan rendahnya pendapatan masyarakat. ‘’Intinya begini. Ini ada moringa, yang bisa kita tanam, sekali untuk selamanya, tidak butuh perawatan mahal karena tidak dipupuk dan disemprot dengan pestisida. Bisa dipetik kapan saja, punya harga dan pasti ada yang beli. Ini yang ada dalam pikiran kita,’’ kata Rauf dalam sebuah group diskusi WhatsApp.

Bagi sebagian orang, analisis usaha tani ini penting. Ada pengalaman misalnya, komoditas karet jika harga jualnya Rp8.000 per kilogram, maka petani tidak akan memanen. Karena biaya panen lebih mahal dari harga jual. Atau dengan kata lain, biaya untuk memanen tidak bisa ditutupi oleh harga jual produknya. Moringa yang ingin dikembangkan ini adalah skala industri, jadi harus jelas cost dan benefit-nya. Argumentasi ini juga dipahami.

Tetapi semangat Nasrin dan Rauf, juga bisa dipahami sebagai semacam trigger untuk memacu masyarakat, agar bisa hidup lebih baik. Tinggal political will pemerintah di daerah yang harus hadir untuk membantu menyalurkan energi positif ini. ‘’Kalau NTT bisa, mengapa kita tidak. Bukankah mereka belajar ke kita,’’ kata Rauf.

Moringa sebenarnya konsumsi setiap hari masyarakat Pulau Sumbawa. Daunnya dijadikan sayur bening yang selalu ada di meja makan warga Pulau Sumbawa. Manfaat moringa sebagai kesehatan, belakangan ini diumumkan oleh sebuah penelitian yang bisa dipercaya. Banyak manfaat yang dikandungnya bagi kesehatan. Sebenarnya, moringa bukan hanya daunnya yang punya nilai. Getahnya pun punya nilai ekonomis tinggi. ‘’Kita belum masuk pada manfaat lain dari moringa. Kita bahas daunnya saja dahulu yang saat ini sudah mulai saya ekspor ke Malaysia, Brunei, Korea dan lain-lain,’’ Kata Nasrin.

Saya sendiri punya pengalaman menanam batang moringa di bukit dengan kondisi alam yang hampir sama dengan seluruh wilayah Pulau Sumbawa. Jika yang ditanam adalah batang, maka dalam waktu sekitar enam bulan, sudah ada daun dari tunas yang bisa dipetik. Setiap batang bisa menghasilkan sekitar satu ons. Tetapi untuk memperbanyak tunas yang keluar, ternyata harus dilukai pada setiap sisi batang moringa yang kita tanam. Saya belum mencoba menanam bibit dari bijinya. Saya belum berani pastikan apakah bisa tetap hidup melewati musim panas jika tidak dilakukan penyiraman.

Bisakah ditanam di hutan tanpa perawatan. Bisakah bertahan dari gangguan hewan liar dan ternak yang dilepas warga?

Tetapi Nasrin dan Rauf punya analisa sendiri. Menurut keduanya, setiap hektare lahan, bisa ditanami sepuluh ribu batang dengan jarak tanam satu meter. Asumsi mereka setiap batang akan menghasilkan lima kilogram per tahun. Jika harga daun moringa basah Rp2.000 per kilogram, maka setiap hektare lahan akan diperoleh penghasilan kotor Rp100 juta per tahun. Itu pendapatan kotor. Ah kadang dibutuhkan orang gila untuk memulai. Tetapi ketika sudah sukses, pasti banyak orang gila baru yang akan menirunya. Bagaimana pendapat Anda? (#)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top