NTB

Gubernur NTB: Tak Ada Alasan Lagi Tidak Gunakan Mesin Buatan Sendiri

Mataram, Bimakini.- Sebanyak 19 mesin produksi Industri Kecil Menengah (IKM) di NTB menjalani tes report atau uji kelayakan agar mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI). Pengujian Alat Mesin Pertanian (Alsintan) tersebut dilakukan oleh Balai Besar Mekanisme Pertanian (BBP Mektan), di STIP Banyumulek NTB, belum lama ini.

“Kalau sudah lolos uji kelayakan, maka nggak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak menggunakan mesin-mesin buatan sendiri di NTB”, ujar Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, saat meninjau langsung proses uji kelayakan untuk mendapatkan SNI bagi berbagai produk mesin hasil karya putra-putri NTB tersebut.

Gubernur menyatakan bahwa program industrialisasi yang ditujukan untuk meningkatkan produktivitas di sektor pertanian, peternakan, perikanan, kelautan dan sektor-sektor industri lainnya, harus di mulai dengan mengembangkan industri permesinan.

Menurutnya, dengan hadirnya industri permesinan, maka akan meningkatkan produktivitas di berbagai sektor usaha ekonomi produktif. Gubernur juga menyatakan bahwa industrialisasi tidak semudah membalik telapak tangan. Akan tetapi butuh proses, ketekunan dan perjuangan, sehingga tidak bisa langsung jadi.

“Jalannya panjang, berliku dan mendaki. Hanya tekad dan kemauan yang kuatlah yang akan membuat kita optimis dan berhasil”, tegasnya.

Gubernur menilai hasil karya anak-anak NTB ini, sangatlah inovatif. Sehingga dengan mesin-mesin itu, kelak akan sangat memudahkan kerja manual kita menjadi lebih cepat. “Inilah era menuju industrialisasi di NTB,” ujarnya.

Ketua tim Pengujian Alat Mesin Pertanian (Alsintan) Balai Besar Mekanisme Pertanian (BBP Mektan), Dr. Ir. Teguh Wikan Widodo, mengatakan uji kelayakan dan uji sertifikasi penting dilakukan, sebagai salah satu proteksi kepada konsumen sebelum suatu produk diedarkan kepada masyarakat.

Menurutnya, sebelum alat beredar di pasaran dan ikut tender di LKPP, salah satu persyaratan yang harus dipenuhi dan dimiliki adalah tes report. “Ini untuk melindungi konsumen, sehingga alat-alat yang digunakan sudah memiliki kinerja yang berstandar SNI. Bila belum ada, maka harus diusahakan dengan pendekatan ilmiah,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa mesin yang dibuat dikatakan layak bila bahan dan alat yang dipergunakan juga sesuai dengan SNI. Contohnya, Treser, memiliki standar SNI khusus Treser baik itu kapasitas, ukurannya dan lainnya sesuai kesepakatan pabrik di Indonesia.

‘’Jadi yang belum lulus uji kelayakan, kita dorong untuk memperbaiki alatnya agar memenuhi kelayakan sesuai SNI. Misalnya, keamanan dan kualitas produk yang dihasilkan,” katanya. PUR

Share
  • 50
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top