Opini

Guru dalam Perspektif Budaya Bima

Oleh : Syahruna S.

Judul ini saya buat untuk materi dialog guru Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu .Tema dialog yang ditawarkan panitia dari Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa mengangkat ” Guru Dulu dan Kini “. kegiatan dialog ini berlangsung Ahad 2 Oktober tahun lalu, bertempat di Aula SMAN 2 Kota Bima. Dihadiri oleh beberapa guru dari ketiga daerah yang satu suku ini.

Nara sumber utama yang diundang panitia yaitu dari Dinas Dikpora Kabupaten Bima dan Saya yang mewakili IGI dan Foreign Language Institute Kota Bima.

Memahami audens yang hadir, saya cenderung mendeskripsikan sosok guru dalam pandangan budaya Bima sebagai representative kearifan lokal. Guru dalam pandangan orang Bima, disamping sebagai pendidik dan pembimbing, Ia juga adalah sosok pelindung, yang berfungsi sebagai social agent and development agent. Ia memiliki kharismatik untuk diguguh dan ditiru.

Guru dulu tampil sebagai sosok yang membawa BUSI RA MAWO, baik dalam lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat.

Mereka hadir sebagai penyejuk. Tampil yang elok, santun dan berwibawa. Mampu menyelesaikan persoalan -persoalan sosial kemasyarakatan tanpa harus dilanjutkan ke ranah hukum.

Akhlak guru dulu sebagaimana yang saya buat sebagai motto salah satu PTS di Kota Bima yaitu Santun Bertutur, Ilmiah Bersikap, dan Ikhlas Melayani. Inilah sosok Insan guru dulu.

Dalam pandangan budaya Bima, guru ditempatkan pada posisi sebagai bangsawan. Ia bisa seorang petani, nelayan, politikus, guru ngaji, pedagang , ahli hukum, Wartawan, penulis, PNS, Pengusaha, dan atau yang berprofesi mengajar di pendidikan formal. Mereka memiliki sebutan dan Titel husus yaitu RUMA, MUMA, dan UMA.

Ketiga title budaya ini akan disematkan pada guru yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan Kecerdasan spiritual. Dari keempat kecerdasan inilah yang membentuk guru memiliki akhlak yang mulia yang menjadikannya sebagai contoh tauladan bagi masyarakat. Pada tingkatan inilah mereka layak dipanggil RUMA GURU, MUMA GURU atau UMA GURU.

Guru memiliki misi ketuhanan. Masyarakat Bima menganggap guru adalah ” Penyambung Lidah Tuhan”.

Dalam catatan Sultan Abdul Hamid bahwa guru memiliki tugas untuk menyampaikan kebenaran. Beliau menggambarkan tugas guru dalam bentuk PERAHU LAYAR bertuliskan QULILHAQ. Jika ada persoalan sosial kemasyarakatan di Bima dulu, maka untuk penyelesaiannya cukup dibawa ke guru dan tidak perlu lagi ke pihak berwajib.

Menjawab pertanyaan para guru peserta dialog tentang bagaimana Learning and Teaching Process. Guru dulu membagi muridnya dalam dua kelompok. Kelompok NGAJI DONGA dan Kelompok NGAJI DODO. Kepada kedua kelompok ini memiliki metode dan materi penyampaian yang berbeda sesuai kompetensi dasar
yang mereka miliki. Sehingga out putnya pun berbeda. Outputnya ada yang jadi KHATIB KAROTO dan ada pula yang jadi KHATIB LAWILI.

Dialog pada acara itu menyimpulkan kesan saya. Ternyata ahir-ahir ini kita sangat merindukan sosok GURU yang menjadi tauladan, penyejuk dengan solusi-solusi alternatif terhadap persoalan-persolan yang muncul di permukaan dengan sikap ilmiah, hati yang tulus, serta tutur yang santun.

Guru seperti ini adalah guru yang selalu mengisi intelektualnya dengan terus belajar dan mengisi hatinya dengan terus beribadah. Sehingga terpancar cahaya ilmu dan iman dalam melaksanakan tugasnya sebagai Agent of Change.

Dan ia layak menyandang titel kehormatan Budaya Bima yaitu RUMA GURU, MUMA GURU dan atau UMA GURU.
Semoga. (*)

 

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top