Berita

Misi Riset  Kelautan dari Garis Wallcea hingga Eropa (2)

Oleh: Dr Syafyudin Yusuf

Terkenal dengan sebutan Benua Biru,  Eropa tetap menjadi magnet pendidikan tinggi selain Amerika dan Jepang.  Banyak univeritas ternama seperti di Negara Belanda, Jerman, Perancis, Belgia, Soviet dan utamanya  Inggris.  Tak heran, mahasiswa dari berbagai belahan bumi berbondong-bondong ingin meraih gelar dari negara bertahta kerajaan ini, tidak hanya S2 dan S3, tapi juga tingkat Sarjana atau Bachelor. Di Inggris ada Oxford Uni, Havard, Birmingham, Leeds, Essex University dan masih banyak lagi.  Kerjasama riset antara Unhas, Unpati dengan Leeds dan Essex University di bidang biodiversitas laut Wallacea.  Mmenjelang libur natal dan tahun baru, tak banyak aktivitas di kampus kecuali mengklasifikasi dan mengawetkan sampel dalam ruang laboratorium Essex University.  Analisia DNA akan dilanjutkan pasca liburan natal dan tahun baru.

Udara Winter di Colchester

Essex University terletak di Colchester,  kota kecil sebelah selatan London.  Tak banyak hiruk pikuk manusia dibanding di London sebagai kota bisnis dan jasa. Low fuel consumption, meminimalkan penggunaan bahan bakar, sehingga minim polusi udara.  Pengendara sepeda motor nampak satu.  Tak ada asap dan kebisingan.  Pejalan kaki dengan gerak cepat dan langkah besar sudah menjadi kebiasaan.  Sepanjang jalan dan lorong tak sulit ditemukan cafeteria dan minimart untuk membeli kebutuhan makanan.  Termasuk nasi kotak berlauk kari ayam khas India baru bisa ditemukan setelah tiga hari pertama sejak berangkat dari Jakarta.  Bagi orang Indonesia umumnya, tiada hari tanpa nasi. Tanpa nasi bisa kurang tenaga, apa lagi disini butuh energi untuk ketahanan dingin dan  jalan kaki yang cepat.

Jam 07.15,  waktu shalat subuh, Udara pagi Colchester berkabut menyelimuti bangunan rumah-rumah unik dan jalanan.  Hembusan napas disertai asap dari mulut karena perbedaan suhu tubuh dan suhu udara, 5 derajat Celcius, terasa seperti hembusan udara kulkas. Bermodalkan baju dalam longjohn berlapis empat hingga jaket tebal, topi kupluk penutup kepala dan telinga, serta kaos tangan tebal dan shal di leher.  Mengitari jalan kota dan lorong yang acapkali terbagi tiga dan empat. Menikmati dinginnya pagi seperti penduduk Colchester yang bersemangat menjemput rejeki dan menuntut ilmu.  Tak tampak seragam sekolah dari anak-anak, tertutupi  jaket tebal hitam bersambung penutup kepala. Sepulang jalan, air hangat tersedia di kamar mandi hotel untuk sekedar membasuh badan melepaskan dinginnya udara.

Pindah  Ke Kota Leeds Via London

Berpindah kota bagi pelancong pemula seperti saya, masih terasa sulit.  Seperti menelusiri alur transportasi dan menemukan stasiun kereta tanpa bantuan google aka nada kendala. Adalah Dr. Allesia, ilmuwan belia dari Italia, peneliti di Essex University menemani jalan ke Stasiun Kereta London.  Jam 09.15, kami mulai jalan kaki menuju pemberhentian bus.  Udara masih tetap dingin, kaos tangan dan kupluk wajib dipakai. Sampai stasiun kereta Colchester 20 menit kemudian.  Kami sempat membeli minuman teh hangat di café stasiun.  Jam 10.20 kami sudah duduk di kursi kereta menuju stasiun London.  Allesia bercerita tentang kerumitan menemukan salah satu pintu dari banyak ke line kereta di London.

Benar adanya, setiba di Stasiun kereta London, banyak pintu ke arah bawah tanah.  Dengan sabar Allesia menunggu saya yang selfi, kadang dia yang meminta memotret ku didepan latar-latar indah di stasiun kereta.  Ada lokasi adegan Harry Potter yang ramai dilihat orang, antre untuk dipotret seakan adegan Harri Potter yang sedang terbang mengejar kereta di Stasiun London.  Dua menit sebelum kereta berangkat, Thank You Allesia, without you I am not here, Allesia melambaikan tangan, ‘Have a nive trip to Leeds City’.  Kursi empuk nomor 72 masih kosong, koper disimpan pada rak khusus, tas rangsel dan jaket tebal dibuka karena suhu didalam kereta lebih hangat.  Wifi berselancar internet tersedia, semabri menikmati pemandangan alam desa negri bertahta Pengeran dan Ratu.   Sebelah kursi 72, bersela lorong,  dua gadis eropa berparas cantik, tak kuasa ku menatap, walau gratis, hingga kamera HP tak mampu membidik. Pemandangan itu berlalu begitu saja, hingga kamipun turun di Stasiun Leeds.

Banyak penumpang, keluar dan masuk, dari Leeds ke berbagai penjuru Inggris. Dominic sudah menunggu di pintu keluar.  Dia adalah mahasiswa tingkat magister Leeds University  yang  dibimbing Dr.Maria Beger. Lagi-lagi harus jalan kaki dibawah gedung tinggi melewati jalur utama kendaraan.  Napas pendek menyertai jalan kaki, mengikuti alur gedung-gedung kampus yang megah. Hingga tarik napas panjang dan perasaan lebih tenang setelah bertemu Maria di ruangannya Departemen of Biological Science Leeds University.

Winter di Kota Leeds

Winter di Kota Leeds terasa lebih dingin, hingga menusuk tulang jari yang terbuka, menambah ngilu gigi berlubang.  Hari pertama di Leeds University mengunjungi laboratorium dan berkenalan dengan mahaiswa dan dosen/ilmuwan lain.  Selanjutnya kami saling konfirmasi data lapangan yang diambil saat Bulan Mei 2019 di Kepulauan Ambon dan Halmahera.    Saya membawa data jenis dan populasi karang keras (Ordo Scleractinian)  selama 20 hari survei, hampir 60 kali penyelaman (1,5 jam tiap sekali selam).  Itulah cara menggapai Ilmu pengetahuan terumbu karang, yang tak banyak orang menekuninya.

Kampus megah dan  besar Leeds University   mulai ditinggalkan civitasnya jam 18.00 sudah  malam.  Mahasiswa bimbingan Dr.Maria mengajak kami untuk pesta perpisahan liburan, minum di bar kampus dan makan di restoran.  Maria lagi-lagi mengajak jalan sejauh 1 km ke pemberhentian bus. Sambil menderek koper, hujan rintik membasahi tas dan angin dingin menusuk tulang. Tigapuluh menit Bus X84 sudah sampai di Distric Oclay sebelah utara Leeds.  Maria terbiasa jalan kaki sekitar 2,1 km dari rumah ke stasiun bus, dibanding  mengendari mobil di jalan yang macet di pagi dan sore hari. Tiada hari tanpa jalan cepat, mungkin ini menjadi therapy orang-orang Inggris hingga mereka berumur lebih lama hingga kakek nenek mendekati 80-90 tahun. Mereka masih mampu kemana-mana naik bus berdua.  Seorang nenek rentan berjalan dengan bantuan besi berkaki 4 four feet menuju pintu keluar bus, tak minta bantaun yang lain.  Patut menjadi contoh praktis hidup berjalan kaki setiap hari.  Di Negara kita, hampir tidak ditemukan lagi orang berjalan kaki lebih jauh dari 200 m.  Tapi di Inggris, ramai pejalan kaki dan hanya ada bus sebagai alat transport murah dan cepat.  Sekali beli ticket, seharian bisa dipakai ke mana-mana, demikian yang diterapkan di Kota Jakarta dan Surabaya.

Semalam di Kota Manchester  (bersambung ke bagian tiga…)

Share
  • 218
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top