Berita

Riset  Bidang  Kelautan,  Ilmuwan   Asal  Bima  Ke  Eropa (1)

Dr. Syafyudin Yusuf

(Bagian Pertama)

Punya Ilmu dan keahlian sebagai penyelam,  semangat untuk maju, Dr. Syafyudin Yusuf sukses menjelajahi dunia, terbang berkendarakan  ilmu.  Kini beliau menjadi ilmuwan dunia bidang kelautan.  Berikut ceritanya dari London Inggris:

Berkunjung  ke Eropa khususnya  negara Inggris menjadi  pengalaman tersendiri bagi siapa saja yang kesana pertama  kali.  Walaupun sudah ke USA Hawai, Australia Townsville, Taiwan Green Island dan Singapore serta Malaysia, ke Eropa punya cerita dan tantangan tersendiri, apa lagi saat musim dingin atau winter.

Persiapan harus menjadi prioritas.  Eropa, benua biru yang menguasai wilayah jajahan seluruh dunia, termasuk Inggris sebagai negara perkemakmuran (commonwealth) dengan  Australia, Malaysia, India, Pakistan dan lainnya.  Berbekal nonton film Jumanji di Twenty One Mall Nipah Makassar, memberi insirasi untuk mempersiapkan pakaian musim dingin. Baju dan celama penghangat dalaman, minuman ‘Sarabba’ berbahan jahe, gula dan susu bekal untuk penghangat tubuh, sedikit madu diselipkan.

Seperti biasanya, istri yang setia Dr. Nunung Akhirany dan anak tersayang Anugrah Samudra mengatarku ke Bandara Sultan Hasanuddin.  Tanggal 15 Desember 2018, menumpangi pesawat Garuda Indonesia jam 12.20 WITA, mendarat di Jakarta Cengkareng 2 jam dan 10 menit kemudian atau jam 13.30 WIB.

Perjalanan ke Inggris bertajuk misi riset kelautan kawasan Wallacea Indonesia sebagai pusat keanekaragaman laut dunia (Coral Triangle). Project ini didanai oleh NERC (Natural Environment Research Council) dan DIKTI untuk  kawasan Wallacea Indonesia.  Kerjasama antar empat  universitas, 2 dari Inggris yakni Essex University dan Leeds  Uniersity, dan 2 dari Indonesia, Unhas Makassar dan Unpati Ambon.

Terminal 3 Bandara Sukarno Hatta, pesawat Qatar Airways sudah menunggu, terbang pada jam 19.10 WIB,  Sesekali berdiri dan meluruskan badan, serta berkali-kali ke Toilet,  pramugari sibuk mengantar sekedar snack dan makanan dinner.   Shalat magrib dan Isya tengah malam. Pesawat mendarat di bandara Doha Qatar, sekitar jam 23.20, transit 2 jam di tengah malam.  Lumayan istrahat dibangku ruang tunggu sambil menikmati hiruk pikuk manusia dari berbagai suku bangsa sedunia.  Fase transit dimanfaatkan untuk membeli air mineral, susu hangat dan pisang serta roti sekedar pengganjal lambung.

Jika dihitung menurut angka jam 19.10 hingga 23.20 hanya 4 jam.  Pesawat  bergerak kearah barat mengejar matahari tenggelam, melewati wilayah yang berbeda waktu,  harus bertambah 4 jam hingga total 8 jam perjalanan.  Usai transit, pukul  01.20 boarding di Doha, kira kira jam 01.50 dini hari atau siang jam 14.00 di Biam atau Makassar, pesawat terbang menuju London.

Uduk di kursi lorong tengah 27 F memudahkan ke toilet.  Tengah malam di pesawat tidak membuat mata bisa tertutup. Fisiologi  tubuh masih mengikuti jam biologis di Indonesia pada saat yang sama masih siang atau sore. Tidurpun ketika badan capek.  Sempat membaca Al-Quran surah Al-An’am.  Karena waktu malam yang panjang, sesekali mengintip ke jendela, adakah fajar menyingsi di ufuk langit, ternyata belum ada, agar tahu  waktu untuk shalat subuh.   Menjelang mendarat, saya sempatkan shalat subuh karena fajar sudah nampak. Alhamdulillah tidak absen shalat 5 waktu walau hanya dijamak dan qasar (disatukan dan diperpendek). Pesawat mendarat jam 05.45 waktu London. Saya sadar, ternyata waktu malam yang sudah dilewati sudah 20 jam, bukan 12 jam seperti di Indonesia.

Dari pintu pesawat sudah terasa dinginnya udara bandara Gatwick London.  Salah satu bandara internasional terbesar di Inggris.  Dr.Allesia, ilmuwan muda dari Italia yang bekerja dalam project ini menjemput di luar pintu bandara.  Hay Ipul (panggilan akrab Syafyudin Yusuf) terdengar dari kerumunan penjemput, muncul wajah dan tubuh imut berkulit putih mendekat.  Rasa senang bercampur aduk, akhirnya bisa mewujudkan mimpi mendatar di benua Eropa dengan senang hati.  Kamipun menuju café atau kantin mengajak saya sarapan.  Untunya ada pisang, itu yang saya pilih dengan pizza sayur, susu hangat.  Sekedar mengisi kekosongan perut, karena menurut Allesia, kita akan jalan jauh sekitar 2 jam ke tempat saya diinapkan.

Luar ruangan badan terasa sedikit shock,  Its so cold,..cold..sahut ku. Yes,..five degrees Celcius, kata Allesia sambil tersenyum.  Kamipun menuju parkiran. mobil.  Sepanjang jalan, Dr. Allesia mengendarai mobil dengan kencang sambil bercerita tentang musim winter.  Tak terasa, 2 jam dengan kecepatan 80-100 km/jam.

Matahari pagi mulai nampak jam 07.58 London.  Pepohonan tanpa daun sepanjang jalan, musim gugur sudah lewat, berganti  musim dingin.  Memasuki Kota Colhester.  Kendaraan sangat teratur, ketika di persimpangan 4 bundaran, bagi kendaraan yang baru mau masuk simpangan sebelah kiri harus berhenti dulu mempersilakan mobil dari arah kanan dekat lingkaran yang jalan terus.  Rasa kagum, karena mereka teratur.  Bandingkan dengan di kampung kita, berebutan, mendahului, semrawut, semua ada. Ada pula yang merasa very important, membunyikan klakson bertbi-tubi.hmmm, dimanakah sopan santun berkendaraan di negara kita ?

Mobil Allesia mengarah ke kampus Essex University untuk menyimpan sampel penelitian hingga diantar ke penginapan Premier Inn.  Kampus Essex di Kota Colchester sebuah kota kecil selatan London.   Laboratorium biomollecular di Departemen  Biology and Chemical Science.  Gedung megah berbentuk kotak dan berdinding kaca dan tegel.  Laboratorium berisi lengkap peralatan serba modern.  Rasa kagum,  dalam hati bertanya, kapan kampus kita bisa sejajar dengan mereka. Hari ini belum kerja dalam laboratorium, istrahat dari perjalanan panjang, ungkap.

Berkolaborasi dengan universitas Internasional tak boleh minder, Ilmuwan  harus sejajar, masing-masing punya keahlian spesifik dari disiplin ilmu yang berbeda.  Keunggulan kita (Indonesia) adalah nilai jual Indonesia di mata dunia, karena di wialayh tropis yang kaya akan biodiversitas, serta keunikan transisi biodiversitas antara wilayah barat yang dipengaruhi biodiversitas benua Asia, dan wilayah timur sebagai independen biodiversity, atau sedikit dipengaruhi Australia.  Uniknya, pulau Sulawesi itu  sebagai daerah transisi antara biodiversitas barat dan timur.

Semangat meneliti sudah menjadi bagian dari hidup ini, menjelajahi lautan dan samudra, dari Lautan Hindia hingga Pasifik. Dari Aceh hingga Papua, dengan jumlah penyelaman sudah melewati 1000 (seribu) jam.  Hidup sebagai peneliti memang tidak tenar, namun menentukan arah pembangunan bangsa.  Jika tidak berbasiskan data dan analisis kajian, maka  pembangunan akan tak terarah.  Mari kita mulai dengan budaya meneliti, menganalisis, dan menyimpulkan sesuatu, sehingga bisa merekomendasikan untuk pembangunan.  (Bersambung)

Share
  • 1.3K
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top