Opini

Walikota dan Bisnis Kota (2)

Oleh: Dr. M Firmansyah
(Dosen sarjana dan pascasarjana FEB UNRAM asal Rabadompu.)

Setelah Taman samada dibangun, Walikota mulai memikirkan bagaimana membangun industrialisasi di Kota Meciangi. Tentu tidak gampang, sementara industri adalah kebutuhan di era 4.0 sekarang.

Penduduk Meciangi yg hanya 200 ribu jiwa tidak cukup untuk dijadikan pasar potensial. Artinya mungkin 2 persen saja yang berbisnis kemungkinan akan terjadi penurunan output (pendapatan). Menurut Teman walikota yg doktor ekonomi, fenomena itu dikenal the law of diminishing return.

Mau tidak mau Walikota harus membuka sekat pasar keluar. Produk yang dihasilkan Kota tentu harus punya keunggulan komparatif, artinya daerah lain tidak punya dan keunggulan kompetitif, artinya daerah lain punya namun kita unggul dari harga, kemasan, jumlah dan seterusnya.

Bagaimana caranya ini, lamunan Walikota jauh menghadap barat pantai Samada yang menawan. Sementara itu, belum ada produk unggul Kota meciangi yang layak dijual di pasar global.

Mengharap perkembangan jasapun syaratnya harus ditopang majunya produksi tuk meningkatkan transaksi. Ketika transaksi tinggi, jumlah uang beredar yang dipegang masyarakat relatif besar maka peluang pengembangan jasa akan lebih besar.

Bagaimana mau bangun Mall, atau jasa-jasa lain bila tidak ada yang berkunjung karena tidak banyak memegang uang. Sehingga, harus ada produksi dan membiayai produksi tidak ada cara lain selain investasi. Entah itu investasi luar, dalam negeri atau lokal.

Berpikir Jalan Keluar

Bicara masalah bisnis dan investasi tidak mungkin walikota Meciangi bisa menemukan solusi sendiri. Dunia bisnis Bukan bidangnya.

Sementara itu, dinas perindustrian yang diajaknya diskusi belum cukup memuaskan walikota. Walikota memutuskan untuk bicara dari hati ke hati dengan pengusaha pengusaha lokal di Kota Meciangi.

Koffee morning di gelar di klaster kuliner Samada. Tanpa buang waktu, Walikota bertanya pada pengusaha lokal, apa yang bisa kita lakukan untuk melahirkan industrialisasi Kota Bima.

Pengusaha yang hadir, tentu merasa dihargai, tumben ada walikota yang ajak diskusi dengan mereka. Ada pengusaha senior ada juga pengusaha milineal.

Ada salah satu pengusaha, menjelaskan. Bapak walikota, bicara industri kita harus paham dan benahi 4 aspek tata niaga dalam bisnis, pak. Tata niaga itu ada aspek produksi, distribusi, komersialisasi dan pasar.

Langkah awal, Coba kita identifikasi pak Walikota, apa yang menjadi keunggulan Kota Meciangi. Kita punya teluk besar, yang menghasilkan ikan dan khususnya bandeng pak, Jawab Walikota.

Nah, coba kita fokus pada itu dulu pak Walikota. Nanti baru pikirkan yang lain. Satu-satu kita desain pengembangannya, Kata pengusaha milenial.

Masalahnya, teluk itu merupakan KSP (Kawasan Strategis Provinsi) sehingga harus direncanakan dengan pemerintah provinsi, lanjut Walikota. Tapi insya Allah tidak masalah, selama konsep kita bagus pasti akan disetujui pak Gubernur.

Bincang bisnis yang produktif. Ternyata betul silaturahmi selalu ada jalan penyelesaian masalah.

Setelah, dapat lampu hijau dari provinsi road map pengembangan industri teluk disiapkan pemerintah Kota. Ada beberapa hal yang disepakati dalam roadmap itu:
1. Model pembangunan yang diterapkan berbasis masyarakat (community base development). Pemerintah siapkan industri pengolahan ikan, nelayan diperkuat budidaya ikan dan dibantu dinas kelautan Kota, Provinsi bahkan kemeterian.
2. Investasi industri diprioritaskan tuk pengusaha lokal. Bila tidak mampu gandeng perusahan luar.
3. Pengusaha oto Bus siap menyiapkan bus pariwisatanya tuk membawa nelayan studi budidaya ikan bandeng ke daerah maju.
4. Akademisi dan paguyuban di daerah kunjungan studi, diharapkan menerima dan mendampingi proses studi nelayan.
5. Organisasi Paguyuban Meciangi se Indonesia akan difasilitasi bangun unit usaha tuk menampung hasil produksi masyarakat meciangi.
6. Diselenggarakan forum investasi perikanan di Kota Meciangi secara berkala.
7. Perguruan tinggi disiapkan untuk penyelenggaraan seminar terkait ekonomi maritim.
8. OPD terkait menyiapkan segala kebutuhan industri perikanan.
9. Walikota menyiapkan perda untuk penggunaan produk lokal meciangi.
10. Walikota terus bangun komunikasi dengan daerah lain tuk perkenalkan produk meciangi.

Dengan penuh semangat sang Walikota visioner ini bekerja. Mulai dari bangun tim yang solid, tim yang mampu membawa rencana ini sampai ke kementerian dan merangkai semua potensi dan jaringan yang ada. OPD terus diminta tuk fokus kembangkan industri perikanan terintegrasi di teluk meciangi, sampai lahir kawasan aglomerasi industri maritim di Kota Meciangi.

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top