Opini

Walikota dan Bisnis Kota

Oleh: Dr M Firmansyah

(Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNRAM, asal Rabadompu)

Kesempatan kali ini saya ingin bercerita. Semoga cerita ini dapat diambil manfaat bagi pemangku kebijakan di daerah dalam membangun ekonomi daerah.

Alkisah, Kota Meciangi dipimpin seorang walikota visioner yang sungguh bersemangat memajukan wirausaha. Keinginan sang walikota dipandang sebelah mata, alih-alih didukung, masyarakan Meciangi kurang tertarik dunia bisnis.

Tenaga kerja terdidik berharap menjadi pegawai negeri. Sebagian besar masyarakat bertani, sebagian lagi pedagang dan buruh. Selama ini masyarakat hidup dari gaji pegawai dan penjualan hasil pertanian. Namun demikian tidak menyurutkan keinginan walikota meningkatkan geliat bisnis di kota Meciangi.

Sang walikota mulai memikirkan strategi menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap dunia bisnis dengan memberi ruang sebesar-besarnya terhadap pelaku bisnis dan berbagai diskusi yang menyertainnya. Langkah pertama walikota mencari tahu kawasan terbaik untuk dijadikan sentra atau pusat bisnis di kota Meciangi.

Dari hasil identifikasi, ditemukan beberapa asset kota berupa bangunan yang tidak terpakai dan beberapa hektar lahan kosong. Ditemukan pula asset swasta berupa gedung besar yang sudah lama tidak terpakai sehingga menjadikan wajah Kota kumuh dan mengganggu keindahan kota.

Aset yang tidak terpakai, Walikota coba tawarkan ke investor untuk dibangun hotel, fasilitas perdagangan atau industri pengolahan dan jasa. Kemana-mana Walikota mencari peluang investasi untuk bisa dimanfaatkan asset nganggur itu. Pola yang paling pas biasanya sistem kontrak BGS (Bangun Guna Serah) berjangka 20-30 tahun. Artinya setelah 30 tahun asset bisnis yang dibangun investor menjadi milik daerah, pemerintah daerah mendapat kontribusi tetap sebagai pemilik asset setiap tahun dan manjadi pemasukan PAD.

Di suatu sore, Walikota berjalan di suatu kawasan pantai yang begitu indah. Masyarakat kota banyak berkunjung di sana, untuk sekedar menikmati sunset di sore hari. Namanya pantai Samada. Ada beberapa pedagang asongan yang menjajakan dagangannya, yang dijual antara lain: mie rebus, rokok, kopi saset, kue dan beberapa minuman bersoda yang semuanya produksi pabrikan.

Sang walikota berpikir, di sini sangat tepat dibangun kluster kuliner untuk milenial. Walikota memerintahkan dinas perdagangan untuk mendesain kawasan dengan menyiapkan berbagai unsur kelembagaan di dalamnya. Ada organisasi, artinya kawasan itu harus ada yang kelola sehingga terjamin kebersihan, keamanan dan kenyamanan pengunjung.

Di samping itu ada rule of the game atau aturan main. Aturan yang paling penting menurut walikota, kawasan harus mengangkat produk-produk lokal. Aturan yang juga disiapkan berupa surat edaran terhadap ASN untuk meramaikan kawasan Samada, bahkan dengan Perda. Prinsip membangun kawasan bisnis atau pariwisata menurut walikota mudah diingat “ Bu Ravi” artinya Buat, Ramaikan dan Viralkan.

Walikota Meciangi mulai mengumpulkan pelaku usaha kecil dan menengah untuk membangun prinsip subtitusi atau menggantikan produk-produk pabrikan yang biasa di jual di kawasan Samada. Mie rebus, kopi, minuman ringan harus ada usaha kecil yang mampu membuatnya. Sehingga ketika ada aturan hanya produk-produk lokal yang dijual ada yang menggantikan. Pengusaha mengatakan siap mencoba.

Walikota semakin serius menyiapkan sumber daya untuk membenahi kawasan Samada. Ahli manajemen bisnis sengaja didatangkan dari kampus ternama, ahli meracik minuman, makanan kelas hotel bintang-pun ikut di datangkan untuk melatih pelaku usaha di kawasan Samada.

Pembangunan kawasan kuliner Samada-pun telah didesain untuk memberi kenyamanan sedemikian rupa. Antara penjual dan usaha kecil berkolaborasi. Penjual mengambil bandeng dan ikan laut lain ke nelayan, kopi diambil dari usaha kecil yang produksi kopi, ada pula mina sarua, kue baneba dan minuman khas supasena disuguhkan secara apik di kawasan itu.

Walikota mengarahkan OPD terkait untuk mengeroyok kawasan Samada supaya semakin ramai dan viral. Mulai dari walikota sendiri, ketika makan siang pasti di kawasan Samada. Walikota dan pejabatnya menikmati bandeng bakar, sup ikan dan minuman khas yang nikmat. Ketika ada tamu dari luar, lokasi itu menjadi tujuan untuk makan siang dan malam.

Dinas perindustrian Bersama UKM memperbaiki kemasan untuk disuguhkan kawasan Samada. Dinas koperasi memprakarsai koperasi Samada untuk memperluas skala bisnis para pelaku usaha. Dinas Perikanan memperkuat nelayan untuk memperbanyak produksi ikan, tidak saja metode tangkap (offshore) namun paling utama adalah budidaya. Petambak garam, semakin bersemangat meningkatkan kualitas garam menjadi kelas 1 bahkan premium dengan Nacl di atas 96 persen. Garam mereka menggantikan produk Kapal Api dan Dolpin.

Dinas pariwisata semakin memperbanyak event daerah. Festival kopi, lomba memasak ikan bandeng, minum Bersama supasena dan berbagai festival lain digalakan. Dinas perhubungan berusaha melobi provinsi dan pusat untuk meningkatkan konektifitas kawasan. Penerbangan langsung (direct flight) diperbanyak, sinyal hape diperluas dan diperkuat.

Walikota-pun rutin ngajak pertemuan pimpinan perguruan tinggi dan asosiasi dengan tajuk koffee morning atau morning bisnis di kawasan samada. Hal yang dibicarakan upaya kota Meciangi mendatangkan “modal dan orang”.

Pada pimpinan perguruan tinggi, Walikota mengatakan siap mensuport kampus menyelenggarakan seminar-seminar nasional dan internasional. Bila tiap bulan kampus menyelenggarakan seminar, maka orang luar masuk kota semakin banyak dan di setting untuk mengunjungi kawasan Samada dan kawasan lain, serta disiapkan souvenir khas Kota Meciangi serta berbagai oleh-oleh khas. Hotel menjadi bergairah, usaha travel dan event organizer menjadi hidup dan usaha-usaha kecil menjadi berkembang.

Pada ketua asosiasi, Walikota berharap untuk melobi penyelenggaraan pertemuan atau rapat kerja di Kota Meciangi. Tujuannya untuk menarik orang masuk Kota sebanyak-banyaknya. Ketika orang banyak masuk, maka geliat ekonomi akan bergerak kencang. Target Walikota Meciangi sangat prestisius yaitu menjadikan orang berkunjung tiap bulan sama dengan orang berkunjung ketika mudik lebaran. Dan target ini bukan suatu yang mustahil. (*)

 

 

 

Share
  • 233
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top