Hukum & Kriminal

24 Pasangan di Desa Tente Ikuti Sidang Isbat Nikah

Sauasana saat sidang isbat nikah.

Bima, Bimakini.- Sebanyak 24 pasangan suami istri yang pernikahannya tidak tercatat oleh Negara, mengikuti sidang isbat nikah. Kegiatan  digelar Pemerintahan Desa Tente, Kecamatan Woha, Rabu (12/2).

“Kami melaksanaan sidang isbat nikah, diikuti oleh 24 pasangan yang berasal dari empat Dusun di Desa Tente, yakni Dusun Anggrek, Bante, Kananga dan Dusun Sukamaju,” jelas Kades Tente Azhar, SE di di aula Desa setempat.

Kata Azhar, program isbat nikah ini digelar karena melihat kondisi masyarakat banyak yang sudah lama berumah tangga. Tetapi tidak melakukan pernikahan secara tercatat oleh Negara.

“Pelaksanaan kegiatan tersebut dianggarkan lewat anggaran APDes Desa Tente tahun 2019, kegiatan tersebut bertujuan untuk mendapatkan kepastian hukum bagi para pasangan yang menikah di bawah tangan atau nikah siri,” katanya.

Dia menjelaskan, sidang isbat nikah agar memiliki kekuatan hukum.  “Biasanya sidang ini diadakan bagi pasangan yang pernikahannya belum dicatat negara, kehilangan buku nikah, atau menikah sebelum tahun 1974,” terangnya.

Pasangan yang mengikuti isbat nikah.

Kata dia, pemohon diminta mengisi formulir pengajuan sidang isbat, membayar biaya perkara, menunggu panggilan sidang. Menghadirkan bukti dan saksi dan menerima keputusan pengadilan.

Alasan utama para pemohon mengajukan itsbat nikah ke Pengadilan Agama dalam rangka mengurusan Akta Kelahiran anak-anak mereka. Disamping untuk mendapatkan kepastian hukum perkawinan.

“Berarti para orang tua ingin memperjelas status anak-anak mereka yang lahir dari perkawinan yang tidak tercatat atau tidak dicatatkan pada Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan,” katanya.

Lanjutnya, anak-anak yang lahir dari perkawinan yang tidak tercatat atau dicatatkan, pada Akta Kelahiran hanya akan mencantumkan nama ibunya. Sama dengan Akta Kelahiran anak-anak yang lahir di luar nikah.

“Konsekuensi hukumnya, kalau anak perempuan ayahnya tidak dapat menjadi wali nikah apabila akan menikahkan mereka, hanya dinisbahkan kepada ibunya dan atau keluarga ibunya,” ujarnya.

Sehingga secara yuridis mereka hanya akan menjadi ahli waris dan mewarisi harta peninggalan ibunya. Apabila ibunya telah meninggal dunia, sulit untuk menjadi ahli waris dan mewarisi harta ayahnya. Karena secara yuridis tidak ada bukti otentik sebagai anak ayahnya.

“Apabila ayahnya memiliki anak lain dari isteri yang dikawini atau dinikahi secara sah dan dicatatkan pada Pegawai Pencatat Nikah,” jelasnya.

Penetapan isbat nikah oleh Pengadilan Agama antara lain bertujuan untuk memberikan perlindungan terhadap anak-anak yang lahir dari perkawinan yang tidaktercatat atau dicatatkan.

“Kegiatan ini sangatlah membantu masyarakat yang belum memiliki Buku Nikah, kedepanya tidak lagi mengalami kesulitan apabila mengurus surat-surat, pinjaman Bank, kredit Motor dan lain-lain,” pungkas Azhar. (MAN)

Share
  • 18
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top