Opini

Ada Apa di Balik Valentine Day?

Oleh : Nurul Miftahul Jannah

ilustrasi

Tanggal 14 Februari selalu diidentikkan dengan mawar dan coklat oleh para remaja yang sedang mabuk asmara. Tanggal 14 Februari disebut sebut sebagai hari Valentine atau hari kasih sayang. Para remaja pada hari itu bebas mengekspresikan kasih sayang mereka kepada pasangannya sebagai bukti bahwa mereka saling mencintai. Bahkan tidak sedikit mereka yang menjadikan hari Valentine sebagai ajang pembuktian cinta yang berakhir pada perzinahan.

Apa sebenarnya Valentine day itu? Valentine day atau hari kasih sayang ini berasal dari kebudayaan pagan orang-orang Yunani-Romawi dilanjutkan sebagai hari besar di gereja. Pada perayaannya orang-orang yang merayakan akan melakukan hubungan seks bebas pada wanita yang dipilihkan.

Jelas sekali dari sejarah di atas hari Valentine adalah sebuah tradisi orang-orang non muslim yang sewajarnya kita sebagai kaum muslim diharamkan untuk mengikutinya.

Kita sebagai umat Islam tidak seharusnya menjadi generasi latah yang selalu mengikuti perkembangan jaman tanpa menyaringnya terlebih dahulu. Valentine day ini tidak hanya menyerang remaja yang ada di perkotaan saja, akan tetapi virus kafir barat ini menggerogoti sampai kepada pelosok daerah.  Dikutip dari Berita11.com, Forum Umat Islam (FUI) Bima menyikapi adanya Ajang LGBT ratu sejoli the geng di Lambu dan Valentine day. Pada kasus ini komunitas LGBT itu ingin mengadakan kegiatan tersebut di Gedung Serbaguna Soro Melayu menggunakan kostum pink dan sopan. Namun dilihat dari stiker rencana kegiatan 7 adanya porno aksi. Mengingat acara ini dilakukan untuk menyambut Valentine day. Acara yang ingin diselenggarakan dilaksanakan pada hari Rabu, 12 Februari 2020.

Valentine day adalah senjata kafir untuk merusak generasi muslim. Mereka dihujani dengan doktrin-doktrin tentang cinta yang menyesatkan bahkan mengundang malapetaka. Valentine day adalah bentuk penjajahan kapitalis hedonis yang ingin merusak pemuda muslim dengan dilabeli hari cinta serta didukung oleh coklat dan mawar. Momen Valentine day yang terus digelorakan oleh kafir barat dijadikan ajang pelepasan kehormatan secara masal oleh para kaum muda yang menjadi generasi latah.

Sistem sekulerisme yang mengikat negeri-negeri muslim sekarang ini menawarkan asas kebebasan bagi setiap individu. Kapitalisme yang dianut dari sistem kafir terus melanggengkan budaya-budaya yang mengikis keimanan kaum muslim.

Seperti yang kita ketahui bersama Valentine day bukanlah hari kasih sayang akan tetapi ajang merajalelanya kemaksiatan. Lihat saja hampir setiap tahun televisi selalu menyiarkan korban Valentine, seperti over dosis karena narkoba, pembunuhan, dan perzinahan.

Maraknya korban Valentine day tidak membuat rezim mengambil tindakan tegas. Upaya pemerintah dalam menangani perayaan Valentine day ini terkesan mengabaikan dilihat dari pemerintah hanya menghimbau untuk tidak mengikuti acara yang dapat merusak akidah ini tanpa memberikan ketegasan kepada para pelakunya.

Islam memandang Valentine day ini adalah sebuah perayaan yang dapat merusak akidah seseorang karena sudah jelas budaya ini berasal dari non muslim. Sebagaimana hadis Nabi SAW dari ibnu umar berkata, Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termaksud golongan mereka” (HR Abu Dawud).

Ini membuktikan bahwa Islam menolak keras adanya budaya-budaya kafir yang menggerogoti umatnya.

Tradisi Valentine day juga dianggap sebagai pemicu rusaknya generasi Islam, karena memang yang menjadi targetnya adalah para remaja. Itulah kenapa kita diwajibkan untuk menjadikan Islam sebagai satu-satunya sumber hukum agar kita bisa terhindar dari segala macam bentuk fitnah orang-orang kafir. (*)

Wallahua’lam.

Share
  • 174
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top