Berita

Bangku Kosong

Cerpen:

Mutiara Zalfaa Ananda Khairudin*)

 

Mutiara Zalfaa Ananda Khairudin (Afaa)

MULAI besok aku akan masuk ke sekolah baru sebagai murid pindahan yang akan bertemu teman baru dan lingkungan yang baru.  Sebelumnya perkenalkan namaku adalah Icha  Amelia Putri.  Panggil saja nama akrabku, Amel.  Umurku baru 16 tahun sekarang aku sudah menginjak kelas 2 SMA.

Kring… Kring. kring.. Alarmku berbunyi. Aku segera mematikan alarm dan beranjak dari tempat tidurku. Aku segera pergi mandi dan bersiap-siap. Aku kemudian langsung pergi menuju meja makan untuk sarapan. Di atas meja sudah tersedia roti dengan selai stroberi. Ada juga coklat hangat kesukaanku yang disediakan oleh ibuku.

Setelah sarapan aku segera mengambil tas dan memakai sepatu.

“Ibu aku pergi dulu ya,” pamitku pada ibu.

“lya nak, hati-hati,” kata ibu dari dalam dapur.

Sesampainnya di sekolah akupun segera berkeliling untuk mencari kelas. Setelahb ertanya tanya, akhirnya aku sampai juga di kelas sekolah baru ku itu

‘’Ternyata di sini ya kelasku,”  gumam ku sambil berjalan masuk ke dalam. Masih sepi, hanya ada beberapa murid saja.

“Permisi, bangku kosongnya ada di mana ya?” tanyaku kepada salah satu murid yang duduk di dalam kelas itu.

“Kamu pasti murid pindahan ya?” kata murid tersebut.

“Iya” jawab ku sambil tersenyum

“Itu!, di situ ada bangku kosong. Sejak beberapa minggu ini tidak ada yang ingin duduk, bahkan untuk numpang duduk sekali pun tidak ada yang mau,” katanya sambil menunjuk sebuah bangku di dekat jendela.

Loh.emang kenapa?,” tanya ku penasaran.

‘’Aku juga kurang tau sih, mungkin kamu bisa menanyakan hal itu kepada murid yang duduk di depanmu,” jawabnya.

“Oh iya, perkenalkan aku Bella, kalo kamu siapa?” tanya murid itu yang ternyata bernama Bella

“Namaku Amel, salam kenal,” ucapku sambil tersenyum ramah.

Aku pun langsung menuju ke tempat duduk yang ditunjukkan oleh Bella tadi. Beberapa saat berlalu murid-murid mulai berdatangan lalu diikuti oleh bunyi bel. Tidak lama kemudian,

ibu guru sudah ada di depan kelas dan menyuruhku untuk memperkenalkan diri di depan.

“Perkenalkan, namaku Icha Amelia Putri. Panggil saja aku Amel, salam kenal,” kataku sambil memandang sekeliling kelas dan samar-samar aku melihat bayangan putih yang tidak terlalu jelas.

Saat jam istirahat murid-murid lain keluar kelas, hanya beberapa saja yang di dalam kelas.

“Permisi perkenalkan namaku Amel,” kata ku pada teman sekelasku yang duduk di depanku

“Perkenalkan juga aku Luna,” kata teman sekelasku yang ternyata bernama Luna itu.

‘’Boleh aku bertanya sesuatu?,” kataku.

‘’Boleh, memangnya mau tanya apa?,” jawab Luna.

Bella mengatakan kepadaku bahwa dulu tidak ada yang mau duduk di kursi tempat aku duduk bahkan numpang duduk saja tidak mau.  ‘’Kenapa bisa seperti itu?,” tanya ku.

Dan entah kenapa mukanya berubah 180 derajat, yang awalnya ramah menjadi misterius. “Aduuh aku merasa tidak enak dengan Luna setelah menanyakan hal itu,” kata ku dalam hati.

“Bagaimana kalau kita pergi ke kantin saja aku lapar soalnya,” usulku untuk mencairkan suasana.

‘’Ayo!” ajak Luna dengan wajah tersenyum.

‘’Haaaah untung lah,” kataku dalam hati dengan wajah lega.

Ketika aku sedang berjalan tiba-tiba saja aku tidak sengaja menabrak seseorang. “Eh, maaf aku nggak sengaja,” kataku sambil menunduk.

‘’Nggak apa apa kok,” katanya.

“Kalau gitu aku pergi ke kantin dulu, boleh kan?,” tanyaku masih dengan wajah menunduk.

“Hmmm, ya sudah silakan.” katanya.

“Eh tunggu dulu,’’ katanya sambil setengah berteriak, sepertinya dia ingin bicara sesuatu.

“Ada apa ya?” tanyaku.

“Kamu anak baru?,” tanyanya

“lya,” jawabku

“Kalau begitu salam kenal. Namaku Alex, aku sekarang kelas tiga,” ucapnya ramah.

“Salam kenal juga, aku Amel dan aku kelas dua,” kataku tak kalah ramah.

‘’Ooo, ya sudah aku ke kelas dulu bye,’’  ucapnya sambil melambaikan tangan.

“Bye,” jawabku.

“Kamu suka ya sama kakak itu?,” tanya Luna sambil ketawa ketiwi.

“Enggak kok, ih,” kataku.

“Kok pipinya merah sih astaga,” kata Luna yang membuatku kesal.

“Aaaah, sudahlah ayo kita ke kantin ntar keburu masuk loh,” kataku mengalihkan pembicaraan.

******

Saat bel pulang berbunyi, semua murid segera berhamburan keluar.

“Haah, akhirnya pulang juga,” kataku pada Luna.

“lya akhirnya pulang juga. Rasanya pengen langsung baring,’’ kata Luna dengan ekspresi lega.

“Bukannya ada PR?,” kataku yang membuat ekspresi Luna berubah.

“Lah, kok bisa padahal kan kita pulang sore, dari jam TUJUH sampai jam EMPAT belajar

TEROOOS. Istirahat cuman 15 menit DOANG, masih sempat-sempatnya dikasih PR sama KERJA KELOMPOK. Emang dipikir kita ini apa ROBOT?? Sampai-sampai disuruh harus bisa SEMUA MATA PELAJARAN, sedangkan diri kita saja cuma bisanya segitu. Hanya karena harus bisa SEMUA mata pelajaran kita sampai lupa keahlian kita apa. Astaga, ini sekolah atau apa sih bisa-bisa stres muridnya dibikin gini terus,” protes Luna panjang kali lebar kali luas. (Curhatan hati seorang murid).

‘’Sabar woy, kalo mau protes silakan ada kepala sekolah di sana kalo perlu sama Presiden aja langsung tuh. Jujur sih aku juga setuju sama apa yang kamu bilang, malahan tambah stres kita, tapi pasti dibalik itu semua ada manfaatnya, misalnya kita jadi tambah pintar,” kataku.

Sesampainya di rumah aku langsung menuju kamar dan mengganti bajuku. Setelah ganti baju aku langsung membaringkan tubuh di kasur. Saking capeknya, sampai tiba-tiba aku melihat sosok anak perempuan sebayaku menatapku seakan ingin meminta tolong kepada ku.

Dan aku sadar bahwa itu. “AAA. HANTU WOY HANTU, YA ALLAH AAA HANTU. Gubrak,“ teriakku yang akhirnya jatuh tersungkur di lantai.

Penglihatanku mulai buram samar-samar aku melihat dia mulai mendekatiku, dan akhirnya semuanya gelap. ‘’Heh, bangun gak usah teriak kayak gitu nanti kalo orang tua kamu dengar gimana?,” kata sosok itu.

“Maaf-maaf soalnya tadi kaget banget, kamu siapa? lya kamu,” kataku sambil menunjuk kepadanya.

“HAH?’’

‘’Maaf gaje soalnya baru bangun dari pingsan, hehehe…,” kataku

“Oh iya perkenalkan namaku Wendy, aku ke sini untuk meminta tolong kepadamu,“ kata sosok  yang bernama Windy itu. “Aku Amel, kok bisa kamu ada di sini?,” tanyaku.

Beberapa saat kemudian setelah sosok perempuan yang bernama Windy itu menceritakan kenapa dia bisa ada di sini.

“Ooo jadi kamu dari tadi mengikuti ku karena aku duduk di tempatmu dan kamu sebenarnya ingin meminta tolong kepadaku, eh malah buat aku pingsan. Padahal dulu kamu pernah minta tolong kepada anak baru yang duduk di situ, eh malah anak baru itu ketakutan dan menceritakan itu kepada anak kelas kita begitu?,” kataku.

“Iya begitu, dan yang ingin aku minta tolong adalah agar kamu membantu aku untuk mencari siapa yang sebenarnya telah mem-bully aku sampai membuat hidup ku sengsara dan bunuh dini. Karenanya aku ingin balas dendam agar dia merasakan apa yang aku rasakan,” kata Windy panjang lebar.

“Ooo begitu bagaimana kalau kita cari tahunya mulai besok?,” usulku

“Oke” jawab Windy setuju.

Keesokan harinya ketika terbangun dari tidur aku segera beranjak dari tempat tidur dan mematikan alarmku. Seperti biasanya, lalu bersiap-siap setelah selesai semua urusanku memakai pakaian dan yang lainnya, aku langsung pergi ke ruang makan untuk sarapan.

“Ibu aku pergi sekolah dulu ya,” kataku sambil mencium punggung tangan ibu.

“lya nak hati-hati jangan lupa belajar yang rajin,“ kata ibuku untuk mengingatkan ku.

Sesampainya disekolah aku segera menuju ke  kelasku, ketika aku ingin menginjakkan kaki di kelas pas sekali langsung bunyi bel. Tak lama setelah itu bu guru pun datang untuk mengajar. Tanpa ku sadari Windy dari tadi berdiri di sampingku.

‘’Woy, gak pegel apa?” bisikku kepada Windy yang sedang berdiri.

‘’Tenang gak bakalan pegel kok,” kata Windy

“Yang bener?,” tanyaku memastikan.

“Iya,” kata Windy meyakinkan.

Ketika istirahat, Luna mengajakku untuk pergi ke kantin tapi aku menolaknya karena malas. Aku sendirian di kelas. Windy bilang mau keliling sekolah karena bosan. Setelah bosan di kelas aku segera pergi keluar untuk mencari udara segar dan duduk di teras kelas

‘’Hai,’’ kata seseorang yang sepertinya aku mengenalinya. Aku langsung menghadap ke samping. Sesuai dugaanku, itu kak Alex.

“Hai,” sapaku dan tiba-tiba saja bola datang dari arah lapangan hampir mengenaiku untung saja kak Alex menangkapnya.

“Kamu gak apa-apa kan?” tanya kak Alex khawatir.

Gak kok, gak papa,” kataku dan saat itulah terjadi adegan tatap-tatapan.

“Amel,” panggil Luna.

“Sepertinya aku harus pergi dulu, bye kak,” kataku sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Dia juga pun begitu.

“Ada apa?,” tanyaku pada Luna

“Aku mau jujur sama kamu sebenarnya….” kata Luna misterius.

Beberapa saat setelah Luna bercerita aku benar-benar kaget karena….

“APA??!! KAMU ADA REKAMAN VIDEO WAKTU WINDY DI-BULLY?,” ucapku kaget

‘’Hhiks..hiksiya. .hiks ma..  maafkan aku.. hoks’’ isak Luna.

“Ssssttt sudah-sudah, agar kamu tidak merasa bersalah terhadap Windy, kamu harus menyerahkan rekaman tersebut kepada kepala sekolah dan menjelaskan kepadanya tentang apa yang sebenarnya terjadi,’’  kataku untuk menenangkannya.

Di samping itu Windy memberitahu kepadaku bahwa segeralah memberi rekaman itu dan dia juga ingin aku menyampaikan rasa terima kasihnya ke pada Luna.

‘’Amel aku sangat berterima kasih kepadamu semoga kamu sehat sehat-saja dan semoga kamu

dan kak Alex…. heheheh,” kata Windy sambil ketawa ketiwi.

“liiiihhh..,” gerutuku.

“Hehehehe… jangan lupa bilang terima kasih ke Luna dan rekamannya juga,” kata Windy mengingatkan.

‘’Tenang saja, lagi pula sekarang Luna sedang di ruang kepala sekolah untuk memberikan penjelasan tentang rekaman itu,” kataku.

“Mungkin sebaiknya aku pergi sekarang. Amel terima kasih ya untuk semuanya, sampai jumpa….” kata Windy yang lama kelamaan memudar dari pandanganku.

“Sampai jumpa,” kataku sambil menahan tangis. Setelah melihat rekaman itu aku benar-benar tidak menyangkanya ternyata pelakunya adalah BELLA.  Entah kenapa dia melakukan itu, tapi banyak yang bilang hanya karena cowok. Ada juga yang bilang kalau Bella memang dari awal tidak menyukai Windy.

Mungkin saja dia hanya mencari alasan dan Bella sekarang telah dikeluarkan dari sekolah karena kejadian setahun yang lalu itu.  *) Siswi MTsN 1 Kota Bima.

 

Share
  • 217
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top