Berita

Dokter Irfan pun Luluh!

Dokter H Irfan Sulaiman (tengah) bersama saya dan Pak Arif pada suatu momen gowes bersama.

INI status saya di Facebook. Saya sebut dengan Catatan Khas yang gagal tayang. Tetapi rupanya, pembaca Catatan Khas saya di Bimakini.com protes. Banyak inbok via messenger maupun pesan singkat yang dikirim ke saya meminta agar postingan saya itu tetap bisa muat seperti biasa. Saya akhirnya mengikuti desakan itu, dan memuatnya pagi ini.

Sepekan terakhir, saya temukan gambar dr H. Irfan Sulaiman dengan H. Herman Alfa Edison dipasang sejumlah akun di Facebook dengan akronim IMAN. Dua nama ini disanding, dengan caption mohon doa dan dukungan. Keduanya akan maju menjadi calon Bupati dan Wakil Bupati Bima, periode 2020-2025.

Saya yang kerap berinteraksi dengan Irfan, sempat bertanya-tanya juga soal gosip ini. Saya tidak menembaknya dengan pertanyaan vulgar. Tetapi beberapa kali, setiap saya temukan desain flyer baru, maka saya posting di Group WA komunitas sepeda,  di mana  Irfan adalah ketuanya. Terhitung tiga kali saya pancing,  belum juga keluar konfirmasi yang saya kehendaki. Ternyata sulit juga untuk mendapatkan kepastian itu. Tentang kemampuan bersepeda, Irfan pernah memutar pedal hingga Sumbawa Besar sendirian, beberapa waktu lalu.

Uniknya, justru Irfan menjawabnya di Group WhatsApp (WA) lain, di mana salah satu anggotanya adalah saya. Dia sebenarnya hanya merespon pernyataan, bukan pertanyaan dari H Rashid, salah satu anggota group. Kami bertiga juga sebenarnya sama-sama punya kegemaran yang  sama, yaitu bersepeda.  “Mungkin dr Irfan tidak serius,” kata H. Rashid.

Nah, pernyataan ini langsung direspon Irfan. Dia menyebutnya bahwa kali ini sangat serius. Bahkan Irfan meminta doa, saran, masukan, juga dukungan dalam group itu.

Bagi saya, ini sungguh mengagetkan. Reaksi kami berbeda merespon pernyataan ini. Saya sendiri bahkan sempat menyampaikan kekagetan saya itu. Saya sampaikan, jika pun saya punya hak memilih, saya memerlukan pertimbangan yang amat mendalam sebelum memutuskannya. Pernyataan saya itu karena masih merasa  belum percaya kenyataan itu. Bukan karena Irfan tidak layak,  tetapi lebih karena saya paham sikap politiknya selama ini. Bahkan pada saat terpilih menjadi  anggota DPRD Kabupaten Bima, ia mundur dengan alasan ingin fokus urus partai. Adakah hari ini orang yang mundur karena mau urus partai? Bukannya ramai-ramai mengurus partai supaya bisa nyaleg? Supaya bisa menjadi anggota dewan? Bahkan bukan kader partai pun, mendaftar ingin nyaleg.

Pada Pilkada Kabupaten Bima tahun 2005, dr Irfan sempat maju menjadi calon Wakil Bupati berpasangan dengan H Muhtar Ahmad. Saat itu mereka tidak terpilih dan perolehan suaranya tidak bisa mengalahkan pasangan Ferry Zulkarnain-H Usman AK. Dokter Irfan saat itu bisa saja menjadi  korban kurang seriusnya H Muhtar yang punya agenda lain. Dan hal ini akhirnya terkonfirmasi setelah lewat 15 tahun lalu.

Dokter Irfan (jersey hijau) bersama H Dudi Fakhrudin, Produser Film La One (jersey hitam) dan H Rashid .

Setelah itu, Irfan lebih banyak mengurus PKS dan ditarik ke DPW NTB sambil tetap membantu masyarakat dengan profesinya sebagai dokter. Kendati namanya kerap muncul setiap pergantian kepala daerah di Kota Bima dan Kabupaten Bima, Irfan memilih tidak mau ikut. Bahkan kepada istrinya dia berjanji untuk berhenti urusan politik setelah usianya 50 tahun.

Di Group WA komunitas sepeda, KBC, Irfan mengajak anggota gowes bareng Ahad pagi. “Mungkin ini kesempatan saya sebelum benar-benar sibuk sosialisasi dan kampanye,” kata Irfan. Member juga menyambut ajakan itu,  termasuk saya.

Ahad pagi sesuai rencana, kami pun gowes bareng. Rutenya tidak jauh, hanya sampai Bandara Sultan M Salahuddin Palibelo Bima. Saya yang agak telat karena sempat menemani H Ahmad dan Drs H Sukri, M.Si, Asisten Bidang Administrasi Umum Setda Kota Bima, yang gowes gaya lambat di dalam kota. Saya sempat diajak sarapan, tetapi saya memilih menuju Panda untuk bergabung dengan KBC.

Selama gowes dan foto-foto, kami tidak bahas soal pencalonan.  Semua berjalan seperti biasa saja. Hingga kami pulang ke rumah masing-masing pagi itu. Namun begitu, saya masih belum yakin. Saya seperti juga sebagian kawan lainnya. Seperti H Rashid misalnya, ia juga masih beranggapan bahwa dr Irfan bisa saja menjadi korban PHP untuk kedua kalinya.

Untuk menjawab sejumlah tanda tanya dalam hati saya, pagi Senin pukul 09.27 Wita, saya kirim pesan kepada Irfan. Minta waktunya ketemu berdua di Bukit Jatiwangi. Dan ini disanggupi untuk ketemu pukul 11.00-12.00 Wita.
Saya meluncur lebih dahulu ke bukit. Pukul 10.30 Wita saya sudah di sana.

Saya tidak menyangka, ternyata pagi itu mereka sudah berkumpul di kediaman calon Wakil Bupati Bima, Herman Alfa Edison. Sudah banyak orang di sana. Ini artinya serius.  Uniknya lagi, ternyata keduanya sedang diwawancarai oleh Pemred BiMEKS dan Bimakini.com, Sofiyan Asy’ari. Ketika menemui saya, Irfan dan Sofiyan sama-sama ke bukit. Jadinya hanya semacam pindah tempat wawancara saja.

Ketika Irfan tiba di bukit, saya sedang bersihkan gulma yang mengganggu pohon naga. Karena panas, siang itu saya sempat buka baju. Gerbang pagar saya buka ketika ada bunyi klakson. Sebuah mobil Mistsubishi Pajero Sport yang ditumpangi calon Bupati itu pun masuk, disusul Sofiyan Asyari, Pemred BiMEKS dan Bimakini.com, yang mengendarai motor.

Saya tidak banyak tanya. Bahkan belum satu pertanyaan pun saya ajukan, Irfan sudah mulai bercerita. Cerita tentang mengapa akhirnya maju sebagai kandidat calon Bupati bersama Herman Alfa Edison. “Ini panjang ceritanya Pak Khairudin. Bahkan saya pun rasanya tidak sepenuhnya percaya. Hanya satu yang saya percaya, pastilah ini ketentuan dari Allah SWT,“ kata dokter yang pernah gowes sendirian ke Sumbawa Besar ini.

Duduk di pondok tanpa alas. Karpet yang biasa saya pakai, sudah dibawa ke kota untuk dicuci. “Gak apa-apa. Kita duduk di sini saja,“ ujar Irfan saat saya minta maaf karena tidak ada tikar. Irfan kemudian melanjutkan ceritanya.
Menurut Irfan, dia sudah berkali-kali menolak maju dalam Pilkada. Bahkan sampai beberapa hari kemarin pun dia masih menolak. Pimpinan Wilayah Partai Keadilan Sejahtera (PD PKS) NTB, sudah lebih dari tiga kali memintanya untuk maju mendampingi Herman. Namun sejauh itu, Irfan tetap bergeming dengan pertimbangannya sendiri.

Dengan Herman, dia mengaku sudah cukup lama menjalin komunikasi. Bukan sekali dua kali, tetapi berkali-kali. Bahkan Irfan sempat bicara dengan Ady Mahyudi agar maju bersama Herman. Gagal dengan Ady yang mengaku tidak bisa pisah dengan H Syarudin HM Nur, Irfan mencoba komunikasi lagi dengan H. Syafru (sapaan akrab mantan Bupati Bima itu) melalui seseorang. Jalan juga akhirnya buntu.

Dokter Irfan duduk santai saat mengikuti Tour Sepeda Uma Lengge Wawo sampai Wisata Agro Risa, Kecamatan Woha.

Herman juga pernah menjalin komunikasi politik dengan seorang pengacara senior putra Sape, Firdaus SH atas petunjuk petinggi PKS. Tetapi rupanya Herman merasa masih belum bisa klik dengan calon pasangannya itu. Hingga suatu waktu, dia dengan Herman dalam satu mobil. Hanya mereka bertiga dengan sopir. Irfan mengaku sungguh terjadi hal luar biasa ketika Herman memintanya untuk maju bersama dalam Pilkada Kabupaten Bima dengan wajah menunduk. “Pak Herman tidak menatap wajah saya pada saat itu. Beliau meminta saya untuk maju bersama. Beliau meminta saya untuk menjadi orang nomor satu,“ katanya.

Bagi Irfan, bukan menjadi orang nomor satu atau nomor dua. Tetapi cara Herman menyampaikannya yang membuatnya tersentuh. “Saya kemudian berpikir, bisa jadi ini jalan hidup saya. Ini memang sulit saya hindari sebagai kader partai,“ ujarnya.

Atas permintaan Herman dengan cara yang tidak biasa itu, akhirnya dia melunak. Walau agak berubah, Irfan tidak langsung menjawab saat itu juga. Dia ingin ada waktu untuk meminta restu keluarganya. “Ini masalah besar, saya tidak putuskan sendiri. Saya kemudian minta waktu kepada Pak Herman untuk berkonsultasi dengan keluarga terlebih dahulu,“ ujar Irfan.

Komunikasi dengan keluarga pun akhirnya berjalan dengan baik. Keputusannya adalah maju bersama Herman dalam Pilkada Kabupaten Bima.

Saya tidak sendirian yang kaget. Banyak pihak pun menganggap bahwa pasangan ini hanya akan memuluskan petahana menang mudah. Banyak analisis politik beranggapan, petahana akan menang jika yang bertarung lebih dari dua pasang. Karena suara penantang akan terbagi, sementara loyalis petahana relatif stabil.

Saya tidak dalam konteks menganalisis hal itu. Tetapi PKS berkoalisi dengan PDIP plus Hanura (informasi sementara) yang mengusung pasangan IMAN, sangat yakin memenangkan pertarungan. “Dengan campaign yang smart, kita akan menang,“ kata petinggi PKS yang tidak perlu disebutkan namanya.

Penegasan petinggi PKS itu, telah menjawab keraguan saya. Keraguan bahwa ada skenario tidak baik yang mendorong Irfan maju sebagai pemecah gelombang. Layar sudah berkembang, pantang tuan surut kembali. Berjuanglah untuk meraih tujuan mulia, membawa Bima Baru, Bima Ber-IMAN, yang lebih baik dan lebih sejahtera. Salam Khas! (KMA)

Share
  • 814
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top