Opini

MOTIVASI BELAJAR

 

Oleh: Muhammad Ali, S.Pd., MM.

 

Slameto (2010) mendefinisikan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Sedangkan Darsono (2005) mendefinisikan bahwa belajar adalah suatu aktifitas mental dan psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap.

Belajar merupakan proses psikologis (psychological process) yang melibatkan mental, pikiran,perasaan dan kejiwaan. Pelajar akan dapat melakukan aktifitas belajar apabila didukung oleh kondisi emosional, mental, serta kejiwaannya. Belajar bukanlah akifitas fisik saja tapi juga proses psikologis. Materi belajar akan dicerna oleh akal pikiran yang didukung oleh kondisi mental dan perasaan. Aktifitas belajar juga harus didukung oleh adanya penjiwaan. Dikatakan proses psikologis karena belajar bukanlah aktifitas fisik semata tapi adanya penjiwaan.

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kondisi kejiwaan manusia. Dorongan kejiwaan manusia sehingga mau melakukan aktifitas belajar. Sebagai contoh, ada seorang pelajar yang bersungguh-sungguh dalam belajar. Ia dapat bersungguh-sungguh karena dorongan kejiwaannya. Tidaklah Ia dapat bersungguh-sungguh belajar tanpa adanya dorongan kejiwaannya yang kuat. Itulah sebabnya mengapa belajar disebut sebagai proses psikologis.

Pelajar harus memiliki motivasi belajar. Motivasi dapat diartikan sebagai motif-motif yang aktif dan tumbuh dalam diri pelajar. Motif tersebut berfungsi sebagai penggerak atau pendorong agar mau berusaha untuk belajar. Merekayang tidak memiliki motivasi belajar cenderung enggan atau tidak mau belajar. Karena tidak ada motivasi belajar yang tumbuh dalam dirinya. Bahkan mereka akan belajar karena dorongan orang lain. Para pelajar harus memiliki motivasi belajar.

Akan banyak motif belajar yang tumbuh dalam diri pelajar. Seperti motif ingin belajar mengembangkan potensi diri, meningkatkan kemampuan dan keterampilan, meningkatkan ilmu pengetahuan, meningkatkan kemampuan berbahasa dan komunikasi atau belajar menjadi orang yang sukses. Motif belajar itulah yang menentukan apa sumber dan materi belajarnya. Bagaimana cara belajarnya, kapan dan dimana Ia dapat belajar serta berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya. Serta siapa dan dengan siapa Ia belajar.

Para pelajar harus memiliki motivasi belajar intrinsik. Motivasi belajar intrinsik adalah dorongan belajar yang yang muncul atau timbul dalam diri sendiri. Motivasi yang muncul karena adanya kesadaran dan rasa ingin belajar. Yang mendorongnya ingin berubah atau melakukan perubahan. Pelajar yang memiliki motivasi belajar intrinsik cenderung memiliki intensitas dan daya belajar yang tinggi. Memiliki kesadaran dan kemauan belajar sendiri serta senang dan suka belajar.Ia dapat belajar kapanpun dan dimanapun.

Hasil pengamatan kita semua menunjukan bahwa masih banyak pelajar/mahasiswa yang belum memiliki motivasi belajar instrinsik. Hal ini dapatdiamati dari aktifitas belajarnya baik di dalam maupun di luar kelas. Kurangnya keseriusan dan kesungguhan, kurang fokus atau berkonsentrasi, berbicara sendiri-sendiri serta tidak dimanfaatkannya handphone sebagai media belajar. Dan tidak dapat memanfaatkan momen belajar dengan baik. Hal ini tentunya membutuhkan perhatian kita semua sebagaiorang tua, guru/dosen atau tenaga pendidik lainnya. Agar dapat menumbuhkan motivasi belajar intrinsik dalam diri anak atau peserta didiknya. Walaupun upaya menumbuhkan motivasi belajar itu harus tumbuh dan dimulai dari diri mereka sendiri. Tumbuh dari kesadaran mereka sendiri.

Mereka yang memiliki motivasi belajar intrinsik cenderung memiliki motivasi belajar yang tinggi. Dapat besungguh-sungguh serta fokus dalam belajar. Memiliki inisiatif belajar tanpa disuruh atau diperintah oleh orang lain.Mereka dapat belajar kapanpun dandimanapun. Dan mau berusaha untuk menemukan sendiri sumber dan media belajarnya. Serta dapat mengatur dirinya sendiri untuk belajar.

Pelajar harus memiliki rasa ingin tahu yang besar. Rasa ingin tahu disebut dengan kuriositi. Rasa inilah yang harus ada pada diri pelajar. Yang berfungsi sebagai penggerak dan pendorongmereka untuk belajar. Untuk mencari atau menemukan apa yang mereka ingin pelajari. Semakin besar rasa ingin tahu dalam dirinya semakin besar pula usahanya untuk belajar. Sebaliknya, semakin kecil rasa ingin tahunya semakinkecil pula usahanya untuk belajar. Tidak semua pelajar memiliki rasa ingin tahu yang besar. Sehigga penting bagi para pelajar/mahasiswa untuk memiliki rasa ingin tahu yang besar.

Para pelajar harus memiliki kecerdasan intrapersonal (self-smart). H. Gardner (1983) menyatakan bahwa kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan untuk memahami atau mengenali diri sendiri. Misalnya, mengenali apa potensi yang ada dalam dirinya yang dapat dikembangkan. Bagaimana cara mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Memahami kondisi mental, emosi, perasaan serta kejiwaannya. Serta memiliki keyakinan bahwa dirinya memiliki potensi yang sama dengan orang lain.

Memahami dan mengenali diri sendiri akan memungkinkan mereka dapat belajar dengan baik. Selain itu, mereka dapat menemukan apa gaya belajar terbaik yang mereka miliki. Apakahmereka memiliki gaya belajar visual, audio, dan audio-visual. Sehingga mereka dapat belajar sesuai dengan gaya belajarnya masing-masing. Dan mampu mencapai hasil belajar yang maksimal. Hal ini menunjukan pentingnya mereka memahami dan mengenali dirinya sendiri.

Pembelajar visual. Pembelajar visual adalah pelajar yang memiliki kemampuan untuk memahami materi belajar visual. Mereka dapat dengan mudah memahami dan menangkapmateri belajar visual dengan baik. Seperti gambar, lukisan, pemandangan, vidio televisi dan sebagainya. Pembelajar visual memiliki daya tarik yang tinggi terhadap gambar-gambarvisual. Dan tingkat pencapaian hasil belajarnya akan maksimal apabila mereka dapat belajar secara visual.

Kelebihan pembelajar visual dapat belajar dimana saja. Mereka dapat mengamati gambar atau tulisan yang ada disekitar atau sekelilingnya. Materi belajar visual lebih banyak serta mudah ditemukan. Dibandingkan dengan materi belajar audio dan audio-visual. Sehingga pembelajar visual dapat belajar kapanpun mereka mau. Karena kemudahan mereka untuk menemukan gambar-gambar visual. Dan akan menjadi motivasi tersendiri bagi mereka untuk belajar.

Selanjutnya, pembelajar audio. Pembelajar audio merupakan pembelajar yang memiliki kemampuan untuk memahami materi belajar audio dengan baik. Memiliki kemampuan untuk memahami dan menangkap materi belajar yang disampaikan secara audioatau lisan. Pembelajar dengan gaya ini akan termotivasi untuk belajar secara audio. Misalnya dengan mendengarkan suatu dialog/percakapan. Kemudian mereka berimajinasi dimana percakapan itu terjadi, apa yang dibicarakan, kapan dan dimana percakapan itu terjadi serta siapa dengan siapa dalam percakapan audio itu. Kelebihan pembelajar audio adalah memiliki ketajaman serta kemampuan pendengaran yang baik.

Pembelajar audio memiliki kecerdasan linguistik (word smart). Menurut H. Gardner (1983) kecerdasan linguistik merupakan kemampuan untuk berpikir dalam kata-kata dan menggunakan bahasa. Media belajar audio pada umumnya tidak menggunakan teks tertulis hanya memperdengarkan bahasa lewat audio atau lisan. Itulah sebabnya pembelajar audio memiliki kecerdasan linguistik. Yang mendukung mereka dapat memahami dan menangkap apa pesan/informasi audio yang dipelajarinya.

Pembelajar audio-visual. Pembelajar audio-visual merupakan pembelajar yang memiliki kemampuan untuk memahami materi belajar audio-visual dengan baik. Memiliki ketajaman pemamahan belajarsecara audio-visual yang baik. Pembelajar audio-visual tidak hanya mampu memahami materi belajar audio saja tapi juga visual. Tidak seperti pembelajar audio atau visual yang hanya mampu memahami materi belajar audio atau visual saja. Pembelajar audio-visual dapat menggunakan media belajar audio-visual seperti televisi, bioskop atau home teater dan sebagainya. Pelajar/mahasiswa yang ideal memiliki gaya belajar audio-visual.

Pembelajar audio-visual dapat mengandalkan kemampuan pengindraannya seperti pendengaran dan penglihatan. Mereka pada umumnya memiliki kepekaan terhadap gambar-gambar visual dan suara audio. Sehingga mereka dapat menjadikannya sebagai sumber dan media belajar.

Sangat penting bagi para pelajar/mahasiswa untuk dapat memahami dan mengenali dirinya sendiri. Dapat mengidentifikasi dan menemukan apa potensi gaya belajar yang dimilikinya. Apakah mereka pembelajar audio, visual, atau audio-visual. Dapat berlatih mengembangkan potensi gaya belajarnya dengan baik. Dengan belajar secara visual, audio, dan audio-visual baik secara mandiri maupun berkelompok. Memiliki gaya belajar juga akan berdampak pada efisiensi dan efektifitas belajar serta mencapa hasil belajar yang maksimal.

Rendahnya motivasi belajar selain disebabkan oleh kurangnya motivasi belajar instrinsik juga disebabkan oleh tidak ditemukannya gaya belajar. Setiap pelajar/mahasiswa tentunya memiliki gaya belajar yang berbeda. Sesuai dengan potensi gaya belajar dalam dirinya masing-masing. Ada yang memiliki gaya belajar audio, visual, dan audio-visual. Sangat penting bagi mereka untuk memiliki kemampuan untuk memahami dan mengenali diri sendiri agar dapat menumbuhkan motivasi belajar intrinsik dan gaya belajarnya. Semoga bermanfaat.

(Penulis adalah dosen STIE Bima)

 

Share
  • 13
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top