Pendidikan

SDN Inpres 02 Maria Rutinkan Yasinan Bersama

Kegiatan Yasinan bersama siswa.

Bima, Bimakini.- Sebulan terakhir Sekolah Dasar Negeri Inpres (SDN) Inpres 02 Maria Kecamatan Wawo, menggelar Yaasinan bersama setiap Jumat sekaligus doa bersama dan tausyiah agama untuk mengenang meninggalnya Afan Aditia Saputra bin Ibrahim siswa Kelas V tanggal 1 Februari 2020 akibat panas tinggi selama seminggu di Puskesmas Wawo hingga dirujuk di RSUD Bima.

Putra ketiga buah hati dari pasangan Ibrahim dan Rosana, punya kenangan yang baik dan luas biasa bagi teman kelas dan sekolah. Bahkan, dijadikan contoh bagi temannya karena selain disiplin, juga selalu membawa nasi sendiri di sekolah. Almarhum tidak ingin jajanan di sekolah. Uniknya lagi ada tempat khusus yang diboking untuk makamn siang yakni duduk di pada fondasi tiang bendera di sekolah.

“Kami selalu ingat dengan kebiasaan almarhum yang duduk santai di tiang bendera sambil mencicipi masakan yang disiapkan Rosana bunda almarhum,” ujar Kepala SDN Inpres 02 Maria, Hj Nimrah, S.Pd, saat Yasinan bersama di sekolah setempat, Jumat (13/3).

Tidak hanya itu, katanya, Almarhum rajin sekali mengikuti kegiatan kepramukaan di sekolah. Bahkan, satu minggu menjelang kematiannya, mendesak orang tuanya membelikan kemah yang sudah jadi. Almarhum mengajak beberapa rekannya untuk kemah bersama di rumahnya dengan pakaian lengkap. “Kita semua tidak menyangka ternyata apa yang dilakukan merupakan sinyal terakhir bahwa almarhum akan meningkatkan kita semua,” tuturnya yang membuat isak tangis siswa dan rekan akrabnya saat Yaasinan bersama, Jumat.

Almarhum, kata dia, lahir 27 Oktober 2009 anak tetiga dari empat bersaudara. Almarhum rajin shalat berjamaah di Masjid Besar Nurul Hidayah Maria dan memiliki akhlak yang baik, sehingga siswa di sekolah merasa kehilangan. Semoga permata hati kedua orang tuanya disambut hangat oleh Allah hingga menantikan kedua orang tuanya memasuki surga Allah. Apalagi, kedua orang tuanya tabah menghadapi ujian berat itu.

Rosana ibu Afan Aditia Saputra, mengaku punya kedekatan yang beda dengan ketiga anaknya. Tiga hari menjelang kematiannya, anaknya sempat meminta ingin tidur bersama ayah dan bunda. Namun, pada malamnya almarhum bangun dan mengusap wajah ibu dan ayahnya. Padahal, saat itu belum ada firasat bahwa anaknya akan meninggalkan dirinya dan saudaranya. Namun, tiga hari kemudian sakit panas yang dideritanya mendadak panas tinggi dan tak bisa makan dan minum hingga dirujuk ke RSUD Bima dan saat di mobil ambulan dirinya berbisik di telinganya.

“Ibu ikhlas nanda jika nanda harus pergi. Saat itu juga anak saya menghembuskan napas terakhir menuju rumah sakit. Meski diperiksa di sana, tetapi saya sudah yakin bahwa anaknya sudah meninggal,” katanya tak kuasa menahan haru. Dia bersyukur teman-temanya selalu memberikan semangat dan mengadakan pengajian di sekolah mengenang Almarhum. Bahkan, saat doa bersama mengenang 44 hari Almarhum seluruh siswa dan guru datang ke rumah. (NAS)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top