CATATAN KHAS KMA

Sensasi Thermo Scanner

Pos Pemeriksaan Tim Gugus Tugas Covid-19 di Perbatasan Dompu-Sumbawa.

PADA Selasa pekan lalu, terpaksa menjemput putri saya di kampus Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Dia sudah tidak masuk kantornya lebih sebulan ini. Dampak Covid-19, dia hanya melakukan pekerjaan online. Karena hanya dia yang berada paling dekat dengan kampus, sesekali diminta mengambil data untuk kebutuhan rapat online itu. Berikut Catatan Khas saya, Khairudin M. Ali.

Putri saya itu sarjana Ilmu Komunikasi. Alumni Universitas Brawijaya Malang. Sudah hampir dua tahun mengabdi di sana. Awalnya sekitar tiga semester dia masih aktif mengajar, walau hanya berbekal ijazah Strata 1. Bukan hanya satu mata kuliah, tapi pernah pegang tiga mata kuliah. Mengajar mahasiswa enam kelas. Fisiknya yang memang imut, kadang digoda oleh mahasiswa. Dikira kawan kuliahnya.

“Sekarang tidak lagi pegang mata kuliah, di administrasi saja,” katanya saat saya jenguk akhir tahun lalu.

“Capek,” katanya lagi.

Putri pertama saya ini adalah anak dengan kemauan yang sangat keras. Saat dia wisuda akhir 2015 lalu, saya sudah sarankan untuk melanjutkan ke jenjang Strata 2 (S2) di dalam negeri. Di Universitas Brawijaya juga tidak apa-apa. Tapi dengan tegas dia menolak.

“Anna (dia sebut nama panggilannya. Nama lengkapnya Raodhatul Jannah Khairudin) maunya S2 keluar negeri saja,” katanya.

Saya mengenal betul karakter anak ini. Kalau saya ulang lagi permintaan yang sama, dia tidak suka. Wajah cerianya bisa berubah jutek. Untuk memuluskan cita-citanya untuk kuliah keluar negeri, berbagai usaha dia lakukan. Meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris tentu paling pokok. Suatu saat pada 2016 lalu dia minta izin ke Malang. Katanya ingin ikut tes TOEFL. Saya pun memberi  izin. Hasilnya, tes yang pertama kali dia ikuti itu lolos dengan skor 510.

Dia senang sekali. Dia makin yakin, keinginan untuk bisa kuliah di luar negeri bisa dia wujudkan.

Dia pun sibuk mencari informasi dan daftar di sejumlah perguruan tinggi Eropa dan Australia.  Dia pun coba ke Amerika, karena pada masa SMA, dia sempat  ke negara itu mengikuti IYLP. Program kepemimpinan remaja  yang didanai pemerintah Amerika Serikat. Sebulan dia di sana. Tinggal dengan keluarga Amerika dan mengikuti banyak program di sebuah kamp perkemahan di negara bagian Virginia.

Berbagai usaha dia lakukan, termasuk mendaftar beasiswa Australian Awards. Sayangnya belum berhasil. Belum dites, administrasinya tidak lolos. Daftar di LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) ternyata tidak lolos juga, karena harus pakai syarat IELTS, bukan TOEFL. IELTS itu singkatan dari International English Language Testing System.  Merupakan tes internasional kemampuan seseorang dalam menguasai Bahasa Inggris. Sebenarnya secara subtansi tidak beda dengan TOEFL atau Test Of English as a Foreign Language.  yang dibuat oleh ETS (Educational Testing Service), sebuah lembaga di Amerika Serikat. Saya tidak paham betul beda keduanya.

Karena belum lolos juga, akhirnya dia memutuskan untuk bergabung dengan UTS di Sumbawa. Ini hanya pembuka saja. Yang mau saya tulis adalah soal lain. Ya, soal menjemput dia di Sumbawa karena wabah Covid-19. Tidak apa-apa juga pembukanya panjang. Sekalian menulis tentang anak saya itu. Karena saya tidak punya alasan untuk mengekspos keluarga sendiri. Ini pun tidak hanya dia, tapi saya mau juga tulis tentang kisah lolosnya putra saya kembali ke Bima, setelah Indonesia PSBB. Pembatasan Sosial Berskala Besar yang diikuti oleh penutupan bandara dan pelabuhan laut pada 24 April 2020, pukul 00.00.

***

Pemeriksaan suhu tubuh saat melewati petugas pemeriksaan.

ISTRI saya memang sudah meminta untuk menjemput anaknya itu sejak Maret lalu.  Tapi kata saya, kalau hanya pulang liburan, terlalu berisiko untuk melakukan perjalanan. Lebih baik di Sumbawa saja.

Benar juga, ternyata putri saya tidak ingin pulang, karena di Sumbawa sudah ada pasien positif Covid-19. Dia takut membawa virus dan menulari kami yang rentan karena usia.

Dalam perjalanan waktu, ternyata dia juga semakin sulit di sana. Di kost, tinggal dia saja yang ada. Penghuni lainnya, dosen dan juga mahasiswa sudah pulang semua.

Karena sudah diputuskan pulang ke Bima, saya minta dia lakukan semacam isolasi mandiri dahulu di kost dengan hanya keluar kalau benar-benar penting sekali. Selama dua pekan dia lakukan itu dan kami yakin dia aman. Apalagi dia tinggal di tempat terpencil yang jauh dari kota Sumbawa Besar. Dia juga bergaul dengan kalangan yang sangat terbatas. Ke kampus pun hanya mengambil data untuk keperluan rapat online.

Saya pun memaksakan menjemput sendiri. Juga dengan pertimbangan keamanan. Biasanya, dia diantar atau dijemput oleh paman-pamannya.

Membawa bekal makanan dari rumah.

Saya harus pastikan saya bersih dan dia juga sama. Tanpa ada kontak. Dalam perjalanan pun, saya bawa bekal untuk makan seharian itu. Saya juga tidak boleh menginap di sana. Harus segera balik ke Bima dengan menghindari kontak sosial selama dalam perjalanan.

Saya berangkat dari Bima sekitar pukul 08.30 Wita. Pukul 09.40 Wita, saya mulai diperiksa pertama ketika memasuki wilayah Dompu. Tim sudah menunggu di pos pemeriksaan yang selama ini sebagai pos jembatan timbang. Petugas lengkap dengan pakaian APD, mengarahkan alat deteksi suhu tubuh ke jidat saya yang tetap berada di dalam mobil. Namanya Thermo Scanner. Salah satu thermo scanner yang sering digunakan adalah thermo gun, karena bentuknya yang praktis. Sesuai dengan namanya, thermo gun memiliki bentuk yang mirip seperti pistol, kemudian ditembakkan ke dahi. Tidak lebih dari satu detik, suhu tubuh langsung bisa terdeteksi. Thermo gun tidak jauh beda dengan termometer infrared. Thermo gun bisa mengukur suhu tubuh tanpa harus bersentuhan dengan objek yang akan diperiksa.

Ini untuk pertama kali saya merasakan sensasi diperiksa dengan alat ini. Suhu badan saya 36⁰ Celcius. Normal.  Saya pun mengenakan masker. Saya bawa tiga sebagai cadangan.

Perjalanan saya lanjutkan kembali. Di perbatasan Dompu-Sumbawa, ada pos pemeriksaan juga. Tetapi yang diperiksa hanya pengendara yang datang dari arah Sumbawa. Saya baru diperiksa lagi ketika memasuki wilayah Tarano. Di wilayah pecahan Kecamatan Empang ini, tim lengkap menghentikan laju saya. Saya disuruh parkir dan turun dari mobil. Setiap warga yang lewat, disuruh cuci tangan, diperiksa suhu tubuh, didata seluruh identitas, termasuk tujuan dan nomor polisi kendaraan.

Perjalanan saya lanjutkan lagi. Pukul 13.00 Wita saya berhenti dan makan siang bekal yang telah disiapkan istri saya. Makan juga dalam mobil, sampai akhirnya saya tiba di UTS pukul 13.20 Wita. Ini cepat sekali, hanya lima jam perjalanan. Biasanya saya sampai tujuh jam karena santai.

Setelah istirahat, kami kembali ke Bima sekitar pukul 16.00 Wita. Pemeriksaan pertama sekitar pukul 19.00 di perbatasan Sumbawa-Dompu. Setelah parkir kendaraan, kami diarahkan menuju tenda tim pemeriksa. Ada boks sanitizer di sana yang harus kami lewati sebelum didata dan cek suhu badan. Aman, perjalanan kami lanjutkan. Suhu badan saya 36⁰ Celcius dan putri saya 37⁰ Celcius. Setelah beberapa puluh kilometer saya jalan, saya merasakan pusing. Saya curiga dengan sanitizer yang kena badan dan wajah saya saat pemeriksaan di perbatasan Sumbawa-Dompu. Saya kemudian merasa agak lebih baik setelah mengganti masker. Perjalanan kami lanjutkan hingga ada pemeriksaan lagi di Madapangga.  Waktu sudah pukul 21.20 Wita. Seperti sebelumnya kami juga didata dan diperiksa suhu tubuh. Suhu tubuh saya turun ke 35.5⁰ Celcius, dan putri saya 36⁰ Celcius. Aman dan tidak ada kendala hingga sampai di perbatasan Kabupaten Bima-Kota Bima, di Ni’u. Di sini agak teliti karena menjadi tujuan akhir perjalanan kami. Selain diperiksa suhu tubuh, kami diberikan nomor untuk melaporkan kepada Puskesmas Mpunda terkait dengan kedatangan putri saya.

Hingga saat ini putri masih melakukan isolasi mandiri terbatas. Sejauh ini tidak ada gejala apapun yang kami rasakan.

Dalam masa isolasi anak pertama, anak kedua saya yang kuliah di Malang juga minta pulang ke Bima. Kali ini lebih mendebarkan karena bandara dan pelabuhan sudah dinyatakan ditutup untuk umum. Sementara posisi dia saat itu sedang berada di Lombok.

Suasana pos pemeriksaan di Kota Bima.

Dia sudah meninggalkan Malang ketika kota itu sudah ada warga yang dinyatakan positif Covid-19. Artinya dia berangkat dari zona merah ke zona hijau. NTB saat itu, belum ada konfirmasi pasien yang dinyatakan positif. Dia kemudian melakukan isolasi mandiri lebih sebulan lamanya. Ketika dia ingin ke Bima pada saat bandara dan pelabuhan sudah dinyatakan ditutup untuk umum, saya sempat mencari berbagai informasi terkait hal ini. Bahkan saya sempat komunikasi dengan Sekretaris Dinas Perhubungan Provinsi NTB, Hj. Suryani Ekawijaya, Ph.D. Beliau menjelaskan bahwa bandara dan pelabuhan memang sudah ditutup untuk umum, kecuali kendaraan angkutan logistik, dinas terkait penanganan Covid-19, pergerakan tentara, dan Polri. Masyarakat umum sudah tidak diperbolehkan. Kecuali bagi masyarakat yang tertahan dalam perjalanan saat pemberlakuan PSBB dimulai. Artinya, supaya orang misalnya dengan tujuan Bima dalam perjalanan dari Bali atau Jawa tidak tertahan di Lombok. Mereka masih diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanan.

Seorang wartawan Lombok Post, Islamuddin (Jali) yang sedang berada di Bima juga resah dengan penutupun bandara dan pelabuhan itu. Dia meninggalkan anak dan istrinya yang tinggal di Lombok. Ia mengaku tidak bisa balik. Tetapi pernah saya sarankan, agar dia ke Tano dan komunikasikan dengan otoritas pelabuhan. Apalagi lagi dalam kapasitasnya sebagai wartawan yang sedang bertugas.

Berdasarkan semua informasi itu, saya sampaikan kepada anak saya. Tetapi karena kondisi di Lombok menyebabkan dia ngotot  ingin pulang ke Bima. Alasannya masuk akal juga. Tidak ada kepastian sampai kapan dia berada di Lombok dalam kondisi yang mulai sulit untuk mendapatkan makanan dan kebutuhan lain.

Kendati sudah sampaikan kondisinya, dia juga mencari informasi sendiri. Mencoba konsultasi dengan otoritas penyeberangan Labuhan Lombok-Tano. Sebab masalahnya hanya di situ saja. Jika sudah di daratan Pulau Sumbawa, maka dia yakin tidak ada lagi hambatan berarti. Paling pemeriksaan di tiap perbatasan wilayah kabupaten/kota saja.

Keputusannya adalah dia berangkat Selasa dini hari menggunakan sepeda motor.

Singkat cerita, dia menjadi ODP dan bisa menyeberangan aman. Ternyata praktik di lapangan dengan keputusan Gubernur NTB maupun Dinas Perhubungan, belum sejalan. Setiap orang dengan KTP tujuan, dibiarkan lewat. Artinya, tujuan awal untuk menahan pergerakan orang, tidak menjadi prioritas.

Bersama anak saya, sejumlah warga lain juga ikut menyeberang dengan hanya berbekal KTP tujuan. Padahal sebenarnya mereka tidak sedang melanjutkan perjalanan dari daerah luar NTB.

Setelah melewati semua pemeriksaan dan mengantongi kartu kuning sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan), saat ini anak saya tengah melakukan isolasi mandiri. Tiba di rumah, tidak masuk lewat puntu yang biasa kami pakai sehari-hari. Lewat pintu belakang, saya sudah siapkan ember berisi air yang sudah dicampur sabun. Semua pakaiannya dibuka di luar dan direndam. Anak saya langsung mandi keramas, sebelum masuk kamar. Kami sudah siapkan kamar dan ikuti semua protokol kesehatan bagi ODP. Kami di rumah pun semuanya mengenakan masker. Makan, minum, dan kamar mandi pun kami pisah. Semoga kita bisa melewati ujian ini dengan selamat melalui usaha maksimal. Salam khas! (*)

Share
  • 36
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top