CATATAN KHAS KMA

BiMEKS tidak Boleh Salah

Penulis, Khairudin M. ALI

SUATU hari pada Pilkada Kota Bima 2008 lalu, saya dihubungi oleh seorang calon Walikota. Beliau protes karena berita BiMEKS dianggap telah membunuh karakternya sebagai calon. Respon saya adalah meminta segera Pemimpin Redaksi (Pemred) untuk menemui beliau. Pertama, saya minta Pemred untuk meminta maaf. Kedua, jelaskan mengapa kekeliruan itu bisa terjadi. Keduanya sudah dilakukan.

Apakah persoalannya sudah selesai? Belum. Yang harus minta maaf itu adalah saya, bukan Pemred yang juga penanggungjawab dan penulis berita yang salah itu.

Sebelum saya menemui sang calon untuk meminta maaf, para pendukung sudah keburu hadir di kantor redaksi. Sumpah serapah semuanya keluar. Setelah semua kata-kata kasar habis ditumpahkan, saya tanyakan apakah masih ada yang mau bicara? Rupanya semua sudah lelah dan perbendaharaan makian telah habis. Saya kemudian minta izin untuk bicara.

Sebenarnya kesalahan Pemred yang juga penulis berita itu sepele saja. Dalam istilah saya, ada kondisi di mana kecepatan berpikir yang tidak seimbang dengan kecepatan menulis. Rupanya sang Pemred yang menulis terakhir saat dikejar deadline, tidak meminta redaktur untuk memeriksa kembali tulisannya. Selesai menulis, langsung diserahkan kepada petugas lay out. Maka, tidak sinkronnya kecepatan menulis dengan berpikir tadi, lolos sampai ke percetakan.

Itulah yang terjadi dengan BiMEKS yang akhirnya harus membayar sangat mahal kejadian itu.
Kalau saya baca, itu sebenarnya yang bermasalah saat itu bukan sebuah berita. Tetapi semacam feature yang ingin mengenalkan calon kepada pembaca. Tapi celakanya, karena fenomena yang saya sebut tidak sinkron itu, berakibat fatal. Calon yang mantan biro keuangan menjadi mantan suami. Yang harusnya adalah; mantan biro keuangan yang juga suami dari.

Itu adalah ilmu. Sebab banyak pengalaman justeru bisa menjadi pendidik yang baik bagi setiap kita.
Di hari lain, saya kedatangan kepala sebuah SMA di Kota Bima. Dia tidak sendiri, tetapi bersama seorang kepala desa dan beberapa lainnya. Seperti biasa, protes walau dilakukan oleh para intelektual, tetap saja emosional. Saya dibentak-bentak di ruang tamu rumah saya sendiri. Anak-anak saya dan juga istri, ketakutan. Tetapi saya bukan sekali dua kali menghadapi yang beginian. Saya tetap tenang. Dalam suasana panas itu, saya sempat nyeletuk ingin menjelaskan. Tetapi dengan nada tinggi saya dibentak. Beliau bilang agar saya menghormati dia dan tidak menyela. Saya diam. Saya biarkan seluruh energi emosi mereka tumpah dahulu semuanya. Akhirnya ada juga ujungnya.

Saya bertanya, apakah masih ada yang mau disampaikan? Mereka geleng kepala. Sudah habis bahan. Saya akhirnya dengan nada tetap datar dan tenang meminta mereka untuk menunjukan berita yang mereka protes. Saya ajak membacanya kalimat per kalimat. Sampai berita itu selesai dibaca, saya tanyakan bagian mana yang menjadi keberatannya supaya saya perbaiki dalam pemberitaan besoknya.

Anehnya mereka malah saling lihat di antara mereka. Terlihat bingung setelah kalimat per kalimat dikaji. Saat saya memberikan penjelasan, seseorang yang tadi membentak saya karena pembicaraannya dipotong, tiba-tiba memotong pembicaraan saya. Dengan nada tinggi saya pun membentaknya. Saya pikir satu-satu. Kita harus sama-sama mendapat pelajaran dari kasus itu. Karena sampai akhir penjelasan saya, tidak ada lagi protes . Bahkan mereka tidak jadi menglarifikasi beritanya. Clear!

Suatu waktu di hari yang lain, H Qurais H Abidin, ‘mengundang’ saya ke kediaman beliau. Beliau keberatan dengan salah satu berita yang dimuat Bimeks. Saat itu beliau belum menjadi Walikota Bima. Saya sendiri hadir ke sana. Beliau sampaikan beberapa keberatannya. Menurut beliau, BIMEKS TIDAK BOLEH SALAH, karena media lain mengutip dari Bimeks. Saya mendengarkan dengan seksama dan menerima masukan dari beliau.

Cuma ada satu yang membuat saya kaget. Soal Bimeks yang tidak boleh salah, karena media lain mengambil berita dari Bimeks. Saya jadi teringat pernah protes kepada Pemimpin Umum sebuah media terbitan Bali. Saat itu, satu halaman berita Bima dan Dompu media itu setiap edisi, ternyata diambil dari Bimeks. Celakanya! Berita-berita itu seluruhnya merupakan salin rekat dari berita Bimeks. Titik dan koma tidak ada yang diubah. Hanya mengubah kode wartawan saja.
Apakah cuma media itu saja? Tidak, masih banyak yang lain.

Nah, setelah saya menyatakan resmi pensiun dari profesi ini pada 5 Maret 2017, orang masih saja mengaitkan saya dengan Bimeks Group. Ini terjadi lagi pada dua hari belakangan ini. Banyak protes yang disampaikan kepada saya mengapa Bimeks dan juga Bimakini performanya loyo, tidak rapi, dan acak-acakan. Bahkan ada yang viral di media sosial dalam dua hari terakhir. Tangkap layar berita Bimakini jadi bahan pembicaraan jagat maya. Beritanya acak adul gak jelas. Saya juga kaget. Kalau sampai lolos seperti itu, berarti ada yang salah. Fungsi kontrol dalam manajemen redaksi pasti bermasalah dan tidak berjalan dengan baik.

Bukan hanya pembaca, tetapi internal redaksi Bimakini juga menghubungi saya. Mereka mendesak saya untuk mengevaluasi dan mendidik mereka lagi.

Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali. Nurani saya sebagai pendiri tentu saja terusik. Tanggungjawab moral memaksa saya untuk mengevaluasi apa yang sedang terjadi saat ini. Dan saya sadar betul, ini akibat dari BiMEKS yang TIDAK BOLEH SALAH seperti kata H Qurais. Poin pentingnya adalah, siapa pun yang menjadi  awak media ini, harus melanjutkan hal baik yang sudah dirintis oleh para pendahulunya. Salam khas! (KMA)

Share
  • 176
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top