Opini

Ziarah Kubur, Upaya Mencari Sejarah

Oleh: AR Anas

Di tengah pandemi yang melilit, perayaan hari raya Idulfitri di Kota Bima berjalan khidmat. Dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan masyarakat tetap melaksanakan sholat ied di masjid-masjid kelurahan sesuai anjuran pemerintah. Tentu didepan pintu diletakkan air dan sabun untuk mencuci tangan, plus masyarakat memakai masker dan membawa sajadah sendiri.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tak lengkap rasanya jika waktu lebaran atau peringatan hari besar Islam tidak ditutup dengan menziarahi kubur keluarga yang telah berpulang. Biasanya, masyarakat sehabis bersilaturahim ke sanak famili dan handai taulan pada sore harinya berbondong menuju pekuburan umum dengan bekal daun pandan dan air.

Selain sebagai ritus “pelengkap” dalam merayakan hari kemenangan. Ternyata ada sebuah khazanah pengetahuan lain yang dapat kita ambil dalam tradisi ziarah kubur setiap tahunnya. Namun kita belum sadar akan nilai yang diperoleh. Karena memang sejauh ini kita masih menganggap ziarah kubur hanya sebagai ritus ibadah yang sakral. Nah, tulisan ini mencoba meraba-raba (temu duga) nilai itu.

Terlepas dari pro dan kontra terkait dengan boleh tidaknya menziarahi kubur, membaca do’a dan melantunkan ayat-ayat suci diatas kuburan. Praktik semacam ini sudah menjadi kebiasaan kolektif masyarakat Indonesia, Bima khususnya. Apalagi jika ditanya apakah berafiliasi dengan ormas tertentu yang identik dengan praktik ini. Paling banter, masyarakat menjawab hanya mengamalkan secara kultural, dengan mengikuti kebiasaan pendahulu. Yang mereka tahu jika ada sanak keluarga yang meninggal, patut  rasanya makam tersebut diziarahi.

Ada pameo dalam masyarakat kita: apa yang baik harus dilestarikan dan yang buruk ditinggakkan. Ma taho dei tuwu, ma iha dei co’o. Masyarakat cenderung cuek dengan adanya perdebatan pro dan kontra dengan ziarah kubur tersebut. Biarkan elite agama yang memperdebatkan hal itu. Toh masyarakat bisa menilai baik dan buruknya sesuatu. Minimal setiap kelompok yang menyatakan baik dan mempraktikan ritus tersebut bisa menerima dan menghargai kelompok yang tidak terbiasa dengan hal itu.

Mencari sejarah

Jika dalam ilmu arkeologi, makam memang menjadi salah satu tujuan utama dalam penelitiannya. Relief dan bentuk nisan makam adalah objek utama penelitian. Sejauh ini arkeologi jarang mengkaji makam-makam “orang kecil”. Biasanya makam-makam yang dikeramatkan dan banyak diziarahi masyarakat menjadi tujuan studi ini.

Sejarah bukan hanya milik orang-orang besar semata. Kajian sejarah haram hukumnya dikapling oleh otoritas tertentu untuk menentukan arah dan arus sejarah. Kajian sejarah versi “istana” (orang besar) memang sudah banyak dikritik oleh ilmuwan sejarah. Mulai dekade tahun 1960-an (atau sebelumnya) upaya untuk mencari sejarah “orang kecil” itu mulai dilakukan. Toh orang kecil juga berkontribusi atas konstruk sejarah orang-orang besar itu.

Dus, salah satu nilai dalam tradisi ziarah kubur adalah pengenalan sejarah “orang kecil” pada masyarakat luas. Sejarah kecil yang dimaksud adalah minimal sejarah keluarga. Bagaimana silsilah, geneologi sampai generasi yang datang menziarahi makam-makam mereka. Mengingat tak semua generasi tahu posisi makam pendahulunya. Misal, yang meninggal itu adalah generasi pertama keluarga, kemudian yang datang menziarahi adalah generasi keempat atau kelima. Tentu dengan jarak itu generasi keempat dan kelima itu sulit mendapat informasi mengenai posisi makam pertama. Dan sialnya apabila generasi kedua tidak menginformasikan ke generasi keempat. Pun tidak semua makam pendahulu kita diberi tanda nama. Mereka menandainya dengan keunikan nisan, atau dengan pohon yang berada disekitar makam, yang sangat rawan dengan kerusakan dan perubahan.

Wal hasil, Tak jarang pengenalan sejarah itu terjadi dalam interaksi antar sesama peziarah. Yang mengetahui dan mengingat makam sanak keluarga itu. “Disitu  kuburan ompu mina, ompu bojo’ misalnya. Kemudian yang disitu wa’i leha dan seterusnya yang notabene memiliki satu genealogi keluarga. Berharap makam itu untuk diziarahi dan di do’akan.

Tanpa sadar kita telah memberikan pelajaran sejarah kepada orang lain. Terlebih kepada generasi yang dibawah (anak-anak) kita yang ikut dalam ziarah tersebut. Sehingga generasi itu akan mengingatnya. Yang pada kesempatan lain menjadi salah satu destinasi makam untuk diziarahi. Berawal dari situ, pantikan narasi akan lebih panjang lagi diceritakan oleh orang tua kita berkaitan dengan sanak keluarga yang meninggal itu. Sehingga dengan begitu kita bisa mengetahui silsilah keluarga, atau kontribusi dan sepak terjang lain dari tokoh itu. Nah, kisah seperti inilah bisa menjadi modal awal bagi pengembangan sejarah desa yang masih minim dikaji dalam studi sejarah Indonesia. Walau hanya dalam circle itu saja. Namun kesadaran kolektif akan sejarah itu telah ada.

Penulis mendapatkan pengalaman yang menarik saat melakukan ziarah kubur baru-baru ini. Dimana saat melakukan ritus tersebut, seorang dari anggota keluarga bertanya pada peziarah lain yang lebih tahu. Dimana makam ompu A, Ompu B, dan Wa’i C. Yang namanya jarang disebut dalam pertemuan keluarga. Bahkan penulis baru menyadari bahwa ada sanak keluarga yang meninggal namun karena mati muda sehingga tidak diketahui pusaranya. Dengan mengetahui makamnya, kita lebih tahu inilah sejarah keluarga kita. Minimal itu!

Ziarah kubur inilah momen dimana “orang kecil” akan dikenang dalam sejarah. Minimal diceritakan kisah hidupnya untuk anak cucu dari generasi ke generasi. Peristiwa ini salah satu aras sejarah yang akan terus dirawat dalam ingatan walau hanya lewat lisan. Peradaban besar itu dimulai dari kebiasaan kecil. Salah satunya merawat sejarah hatta sejarah keluarga.

Sejarah Desa

Seperti yang penulis singgung diatas. Kajian sejarah desa masih sangat jarang dalam bidang sejarah. Apalagi desa-desa yang notabene tidak besar dan tidak banyak memberikan sumbangan bagi perubahan, kemajuan sebuah kota. Namun seiring dinamisnya kajian sejarah, sejarah desa memiliki tempat tersendiri dengan keunikannya. Keunikan sejarah desa terletak pada “dekatnya” subjek dengan objek yang dikaji. Kita sudah terlalu lama menikmati sejarah politik, sosial yang tempatnya berada nun jauh disana. Yang detail tempatnya, kondisi tempatnya kita tidak ketahui. Sehingga berpotensi menimbulkan bias sejarah.

Kajian sejarah desa, secara general masih bertumpu pada asal-usul nama desa dan tempat awal desa tersebut. Kita masih menutup mata untuk mengembangkan kajian sejarah desa misalnya dengan demografi, urbanisasi masyarakat desa, atau modernisasi sebuah desa. Term-term itu bisa menjadi pilihan dalam menambah kajian sejarah desa.\

Banyak hal untuk mengkaji sejarah desa, bisa dimulai dari wawancara sampai menggunakan arsip desa hingga genealogi keluarga yang bersumber dari cerita makam-makam para sesepuh desa yang mulai merintis desa tersebut. Sebagai alternatif bisa menggunakan pendekatan sosiologi desa. Sehingga sejarah desa yang kita tulis lebih kaya dan berbobot. (*)

 

Penulis adalah Anggota Komunitas Mbojo Itoe Boekoe

Share
  • 59
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top