CATATAN KHAS KMA

New Normal Pasar Ama Hami

Tenda-tenda New Normal di Pasar Ama Hami.

PAGI ini, saya ke pasar lagi. Pasar Ama Hami, di Kota Bima. Namanya pasar ya pasti ramai. Ada pembeli juga penjual. Mereka bertemu untuk bertransaksi. Itulah pasar, tempat bertemunya pembeli dan penjual. Pasar rakyat, di mana-mana sama. Jarang yang teratur walau sudah diatur.

Ini kali sering saya ke pasar ini. Itu mulai saya lakoni sejak munculnya wabah Covid-19. Setelah diumumkan oleh WHO, Badan Kesehatan Dunia, sebagai pandemi pada 12 Maret 2020. Sejak anak-anak tidak boleh sekolah lagi. Sejak kita disuruh #dirumahsaja. Sejak shalat tidak boleh berjamaah di masjid. Sejak banyak protokol kesehatan untuk diikuti. Sejak harus pakai masker, jaga jarak, dan hindari kerumunan. Untuk memutus penyebaran virus yang berasal dari Wuhan, Hubei Tiongkok itu. Sejak mahluk tak terlihat itu menghebohkan dunia. Juga Kota Bima.

Saya memutuskan untuk tetap ke pasar sendiri. Saya harus memastikan, tidak membawa masuk virus ke dalam rumah. Harus disiplin! Ini bukan parno istilah anak milenial sekarang. Tetapi untuk menyelamatkan keluarga. Menyelamatkan orang lain. Kita tentu saja tidak boleh teledor.

Kita tidak boleh ikut-ikut pimpinan Dewan yang pesta menikahkan anaknya dan mengumpulkan banyak orang. Kita harus tetap sabar dan mengikuti contoh yang baik-baik saja. Tidak ada dalam protokol menghadapi serangan virus ini dengan meminta maaf. Tidak ada. Yang ada hanya disiplin. Pemerintah boleh saja melanggar aturan yang mereka buat. Tetapi kita tidak boleh. Masyarakat harus lebih hebat dari pemerintah apalagi politisi. Karena mereka kadang cara berpikir dan bertindaknya kacau, tidak konsisten. Lain diatur, lain yang dikerjakan. Mereka juga kan politisi. Omongannya tidak bisa dipegang.

Sebagian politisi itu sebenarnya hanya orang beruntung saja. Tidak semuanya hebat. Masyarakat lebih hebat, karena yang menjadikan mereka beruntung. Makanya dalam Pemilu, jangan suka menerima uang dari mereka. Tak perlu memaki mereka di media sosial. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Jadi kita harus kasihan kepada mereka!

Masyarakat hebat harus sepakat. Disiplin adalah kunci untuk menghentikan penyebaran virus ini. Contoh-contoh tidak baik dan tidak mendidik, jangan diikuti. Kalau ada yang tidak bisa menjadi contoh, teladan, gampang saja. Saat Pemilu ingat saja wajah mereka. Jangan dicoblos.

Penulis saat belanja  ayam dan daging di lokasi baru.

Saya sendiri berjuang keras untuk menaati segala aturan ini karena ingin menyelamatkan orang lain. Ke pasar adalah pilihan berat yang tidak bisa dihindari. Saya tidak bisa melepas istri saya di sana dengan kondisi sangat berisiko. Saya juga tidak punya kemampuan finansial yang cukup juga untuk #tetapdirumahsaja. Tinggal tiduran, buka aplikasi, membeli makanan secara daring, pesan lewat Babang Grab. Ini butuh biaya yang tidak sedikit. Harus punya tabungan yang banyak untuk memenuhi kebutuhan berbulan-bulan ini. Apalagi berbagai bantuan tanggap darurat itu tidak akan menjangkau kami. Kami dianggap kaya, tidak layak.

Awalnya, pernah memesan ikan pada yunior saya di Sape. Ikannya segar-segar. Karena memang dari pusat ikan. Banyak pula. Konsumsi ikan kualitas ekspor itu terus menerus, ternyata bosan juga. Melihatnya saja jadi sudah gak enak, apalagi makan. Padahal sudah diolah dengan berbagai cara. Digoreng, direbus, dibakar, dikukus. Ada yang dibumbu macam-macam juga. Tetap saja bosan, padahal ikan kerapu itu favorit saya sejak lama.

Pagi ini saya harus siapkan segala sesuatunya. Masker berlapis dua, kacamata, hand sanitizer, air satu botol besar ukuran 1.500 ml. Saat belanja, pun saya harus sedapat mungkin menghindari kontak fisik dengan orang lain maupun pembeli. Saya juga sudah siapkan boks Tupperware besar untuk menampung ikan dan lainnya yang basah. Saat belanja, uang kembalian pun saya perlakukan seperti bayi. Hati-hati sekali. Kabarnya virus bisa menempel pada kertas dan logam itu. Jam tangan tidak saya pakai. Katanya ada risiko virus juga menumpang pada penghias lengan yang tidak lagi perlu itu.

Tiba di pasar sekitar pukul 07.59 Wita, saya tidak masuk dari utara seperti biasanya. Saya memutar lewat Masjid Terapung yang dibangun pada saat H M Quraus H Abidin menjadi Wali Kota Bima. Saya juga tidak mengikuti jalan dua jalur ke arah kota. Saya memilih masuk ke jalan pengerasan yang ditimbun utara masjid, baru menuju ke pasar. Ada banyak kendaraan di pasar, kendaraan dinas juga banyak.

Saya lihat penataan pasar berbeda dari biasanya. Penjual sedang sibuk angkut dagangan ke tenda-tenda yang sudah disiapkan. Warnanya biru tua, seragam. Ukuran tiga kali tiga meter. Cukup luas. Jaraknya juga diatur. Banyak ibu dan wanita yang mengenakan Rimpu. Saya curiga mereka bukan pedagang atau orang yang sedang belanja seperti saya. Ternyata benar juga. Mereka adalah pegawai Pemkot. Wali Kota pagi ini ternyata akan ke pasar juga. Bukan untuk belanja. Tapi untuk meresmikan penataan pasar sesuai protokol penanganan Covid-19. Katanya mau masuk ke tahap New Normal.

Para pedagang mengomel. Terdengar suara protes mereka.  Ada tentara juga yang ikut jaga. “Wara-wara mena ku rawa pamarenta ke. Ta be ku dou di ma weli amba nami ke? (Ada-ada saja kerjanya pemerintih ini. Di mana orang yang akan beli dagangan kita ini,“ gerutunya.

Saya yang sudah lebih sepuluh kali ke pasar sejak pandemi ini, sempat kesulitan juga mencari pedagang langganan saya. Biasanya  saya beli tomat, bawang merah, bawang putih, cabe pada ibu itu. Saya belum sempat tanya namanya. Dia baik, ramah. Suka memberi lebih karena saya tidak pernah tawar-tawar. Istri bilang, kalau saya yang belanja, yang dibawa pulang juga banyak. Mungkin ibu-ibu itu kasihan sama saya. Bisa jadi mereka berpikir saya tidak punya istri? Seperti duda gitu.

Karena mereka hanya berpikir, saya tidak bisa menjawab pikiran. Tetapi kalau ditanya, saya akan bilang istri saya tidak bisa belanja. Rembe. Apa bahasa Indonesia yang tepat ya?

Nah, bagi ibu-ibu yang akan ke Pasar Ama Hami, sekarang sudah berubah. Hanya penjual ikan laut yang tetap di tempat lama. Penjual daging dan ayam ada di bangunan baru, pojok selatan paling barat. Yang menempati lapak-lapak baru itu, penjual sayur dan lainnya. Kendaraan pun, tidak lagi parkir di jalan. Harus masuk ke tanah kosong sisi timur. Belum rata. Mobil agak kesulitan, apalagi jenis sedan. Saya tidak tahu apakah itu selamanya, atau hari ini saja.

Penulis bersama Staf Humas Setda Kota Bima, Eddy Kurniawan.

Saya jumpa dengan staf Humas Setda Kota Bima, Eddy Kurniawan. Kolega lama ketika saya masih liputan pada awal pemerintahan Kota Bima. Dia masih mengenal saya walau pakai masker berlapis. Kami sempat swafoto. Kangen katanya. Saya juga jumpa dengan staf Dinas Pertanak Kota Bima, Taufik. Dia yang cerita kalau Pemkot Bima segera menerapkan New Normal itu. “Kadis saya juga ada, kami sedang menunggu Pak Wali Kota untuk meresmikan ini,“ katanya kepada saya.

Saya memang melihat sejumlah orang yang bukan pedagang, juga pembeli. Saya sulit mengenali mereka dengan wajah seperti ninja, pakai masker. Kita senyum juga pasti tidak dilihat. Ya sudahlah, mungkin memang hidup sekarang harus seperti ini. Nanti di rumah baru tanya lewat WA.

Selesai belanja, saya segera balik ke kendaraan. Lumayan untuk kebutuhan sepekan. Cuci tangan, semprot sanitizer. Uang kecil kembalian saya masukan dalam kotak khusus. Nanti untuk bayar parkir saja. Saya perlakukan seperti bayi itu. Hati-hati, walau ada sanitizer.

Di rumah pun, SOP dilaksanakan. Sebelum masuk rumah, semua pakaian dibuka. Masker juga. Tidak menyentuh apa pun, langsung ke kamar mandi, keramas. Sudah segar dan semuanya aman, saya menulis Catatan Khas ini buat Anda. Apakah Anda ke pasar juga? (Khairudin M. Ali)

 

 

Share
  • 128
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top